Dalam
budaya masayarakat Indonesia, masih banyak yang menyakini akan suatu ramalan
dari para pemimpin atau tukuh terkenal di zaman dulu. Salah satunya adalah
Joyoboyo, ramalan Joyoboyo mengenai akan hadir sosok Presiden Indonesia yang
akan menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara yang kuat disegala bidang,
adil, makmur dan sejahtera.
Joyoboyo
dalam bukunya yang berjudul Musasar menulis: “ Pada suatu masa nanti, bekas
Kerajaan Majapahit akan lebih adil dan makmur apabila dipimpin oleh anak yang
lahir di dekat Gunung Lawu, rumahnya pinggir sungai, masa kecilnya susah tukang cari kayu, badannya kurus seperti Kresna, wataknya
keras kepala seperti Baladewa, kalau memakai baju tidak pantas, ada tahi lalat
di pipi kanannya, dan mempunyai pasukan yang tidak kelihatan “ (Sukardi
Rinakit, Kompas 15 Maret 2014).
Siapakah dia? Anda pasti bisa menebaknya kalau pernah lihat
film berjudul Jokowi. Sekadar catatan: Joyoboyo adalah seorang raja sekaligus
resi, spiritualis Hindu. ramalan-ramalannya, kata orang, lebih hebat ketimbang
ramalan Nostradarmus!.
Di
bumi Nusantara, 400 tahun sebelumnya ada seorang peramal yang bernama JAYABAYA,
ia dikenal oleh masyarakat pada zaman itu mempunyai kemampuan meramal masa
depan. Jayabaya adalah raja Kediri yang memerintah tahun 1135-1157. Terdapat
beberapa naskah yang berisi “Ramalan Jayabaya”, antara lain Serat Jayabaya
Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.
Beberapa
ramalan Jayabaya memang lumayan fenomenal, banyak ramalannya yang bisa
ditafsirkan “mirip” keadaan setelahnya. Jayabaya misalnya telah meramalkan
tentang bangsa utara berkulit pucat yang akan menguasai Nusantara dengan
tongkat berapi (zaman penjajahan bangsa Eropa). Kemudian kedatangan
“saudara tua” menguasai Nusantara yang lamanya hanya seumur jagung (penjajahan
Jepang).
Ramalan Jayabaya ditulis ratusan
tahun lalu oleh seorang raja yang adil dan bijaksana di Mataram. Raja itu
bernama Prabu Jayabaya (1135-1159). Ramalannya banyak dipercaya masyarakat
Jawa. Satu di antara ramalan yang melegenda adalah tentang satrio piningit.
Ramalan ini tertulis di buku Jangka Jayabaya. Satrio Piningit banyak dibicarakan
orang, disebutkan akan muncul di saat negeri ini dalam keadaan kacau balau. Terdapat
tujuh satrio piningit, yaitu Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti
Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo
Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio
Pinandito Sinisihan Wahyu. Banyak kalangan mencoba menafsirkan ketujuh satrio
piningit dengan berbagai versi. Urutan–urutan satria.
Untuk pertama, Satrio
Kinunjoro Murwokuncoro berarti tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara
(Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan
akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad
(Murwo Kuncoro).
Tokoh yang dimaksud ini
ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden pertama Republik
Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama.
Berkuasa tahun 1945-1967.
Kedua, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar. Ini menggambarkan tokoh
pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa dan ditakuti (Wibowo),
namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga
selalu dikaitkan dengan segala keburukan atau kesalahan (Kesandung Kesampar).
Kurun tahun 1135 sampai 1159 Prabu Jayabaya meramalkan; pada zaman
keemasan Nusantara akan kedatangan Ratu Adil alias Satrio Piningit. Nubuat itu
rupanya dikenang dan diyakini oleh sebagian masyarakat, bahkan sampai zaman
modern seperti saat ini. Mendiang Bung
Karno pun pernah mengutip ramalan Jayabaya saat membacakan pledoi pada
persidangan di Landraad, Bandung, Jawa Barat, pada 1930.
“Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya “Ratu Adil”, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap “Kapan, kapankah Matahari terbit?” kata Sukarno dalam pledoi yang kemudian dikenal dengan Indonesia Menggugat itu. Politisi senior Partai Golongan Karya Suhardiman tiba-tiba menyebut ciri-ciri satrio piningit ada pada sosok calon presiden PDIP, Joko Widodo (Jokowi).
“Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya “Ratu Adil”, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap “Kapan, kapankah Matahari terbit?” kata Sukarno dalam pledoi yang kemudian dikenal dengan Indonesia Menggugat itu. Politisi senior Partai Golongan Karya Suhardiman tiba-tiba menyebut ciri-ciri satrio piningit ada pada sosok calon presiden PDIP, Joko Widodo (Jokowi).
Politisi yang juga pendiri SOKSI
ini yakin bahwa Jokowi, adalah sosok pemimpin yang akan meneruskan estafet
kepemimpinan Indonesia sampai tahun 20124.Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan
sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde
Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.
Ketiga, Satrio Jinumput Sumela
Atur. Ini merupakan tokoh pemimpin yang diangkat atau terpungut (Jinumput) akan
tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela
Atur).
Tokoh yang dimaksud ini
ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa
tahun 1998-1999.
Keempat, Satrio Lelono Tapa Ngrame. Tokoh pemimpin yang suka
mengembara atau keliling dunia (Lelono), akan tetapi dia juga seseorang yang
mempunyai tingkat kejiwaan religius yang cukup atau rohaniawan (tapa ngrame).
Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden
Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.
Kelima, Satrio Piningit Hamong Tuwuh. Tokoh pemimpin yang muncul membawa
kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini
ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia.
Berkuasa tahun 2000-2004.
Keenam, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro.
Keenam, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro.
Tokoh pemimpin yang berpindah
tempat (boyong/dari menteri menjadi presiden) dan akan menjadi peletak dasar
sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro).
Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo
Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau
dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya
dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan
kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia
akan mulai terkuak.
Ketujuh, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu. Tokoh pemimpin yang amat religius
sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan
senantiasa bertindak atas dasar hukum/petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu).
Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan
mencapai zaman keemasan yang sejati. Menurut urutan di atas, satria yang
dimaksud adalah Presiden Jokowi Widodo.
Kepemimpinan di
Indonesia
Dalam ramalannya
tentang siapa dan bagaimana urutan pemimpin Indonesia, Jayabaya merumuskannya
dalam 1 kata yaitu “NOTONEGORO”. Dari ramalan ini kita mengenal nama Soekarno,
karena suku kata namanya berakhiran “no”. Lalu ditafsirkan bahwa orang yang
bisa ‘menata negara’ atau menjadi pemimpin di Nusantara adalah orang yang
namanya berakhiran no, to, ne, go, atau ro. Bisa juga cukup “no” dan “to” saja.
Buah dari akibat ramalan ini adalah suku kata “no” dan “to” menjadi suku kata
akhir kebanyakan nama orang Jawa. Para orangtua (untuk laki-laki) memberi nama
anaknya dengan akhiran “no” atau “to”, tujuannya adalah supaya anak tersebut
menjadi raja atau presiden.
Sebelum
Joko Widodo alias Jokowi muncul ke pentas nasional sebagai tokoh poltik ‘the
rising star’, banyak orang Jawa meyakini bahwa setelah Susilo Bambang Yudhoyono
mengakhiri masa kepersidenannya, maka yang menjadi Presiden RI berikutnya
adalah Prabowo Subianto.
Tapi
setelah Jokowi mendadak populer, nama Prabowo seakan mengalami
‘degradasi’. Hal ini mengacu pada ramalan Notonegoro, bahwa setelah nama
pemimpin Indonesia yang berakhiran “no” maka sebagai gantinya akan muncul nama
“to”. Soekarno digantikan Soeharto, dan Yudhoyono akan digantikan Subianto?
Tapi kemudian juga muncul penyimpangan karena nama lengkap dari Prabowo adalah
Prabowo Subianto Djojohadikusumo, berakhiran “mo”. Kemudian yang pro-Jokowi
menganggap Jokowi lebih mendekati kepada ramalan Notonegoro. Joko Widodo
terlahir dengan nama masa kecil Mulyono, sama dengan Soekarno yang mempunyai
nama kecil bernama Koesno Sosrodihardjo. Jadi sama-sama pernah ganti nama
ketika masih kecil.
Jadi,
NoToNeGoRo merujuk pada no (Soekarno), to (Soeharto), ne; bukan orang Jawa (BJ
Habibie), goro; ribut-ribut (terbukti dengan terpilihnya Abdurrahman Wahid yang
kemudian digantikan Megawati). Terus balik lagi ke no (Susilo Bambang
Yudhoyono). Kemungkinan besar akan digantikan oleh “mo” Prabowo Subianto Djojohadikusumo
atau “do” Joko Widodo.
Ramalan
Jayabaya tentang pemimpin Indonesia kini menjadi kenyataan. Jokowi terpilih dan
menambah keyakinan kita bahwa sudah dituliskannya segala sesuatu tentang
kepemimpinan di Indonesia dan Jokowi akan memimpin Indonesia selama 2 Periode
sesuai dengan Undang-Undang Pemerintahan yang ada di Indonesia.
Jayabaya
meramalkan tentang keadaan Pemimpin Nusantara yang ke-7 dan ke 8 (Joko Widodo),
yaitu.
1. Orang Miskin Hidup Bahagia
Berdasarkan ramalan ini, mungkin bisa
kita lihat awalnya sekarang dari Presiden Jokowi yang mengeluarkan Kartu
Indonesia Pintar, Sehat, dan Jaminan Sosial yang lainnya yang bertujuan untuk
membantu orang-orang yang kurang mampu.
2. Pembangunan Merata
Berdasarkan ramalan ini, bisa kita
lihat dengan diluncurkannya sebuah gagasan Tol Laut dari Jokowi. Di dalam
kepemimpinan Jokowi, Ia bermaksud untuk membangun 24 Pelabuhan besar di seluruh
wilayah Indonesia. Jika dikaitkan dengan ramalan, tentu hal ini merupakan
tindakan untuk meratakan pembangunan di Indonesia.
3.
Indonesia Dihormati Negara Lain
Berdasarkan
ramalan dari Jayabaya, pada masa kepemimpinan presiden Indonesia yang ke-7,bisa
kita lihat sekarang ini betapa antusiasnya para pemimpin dunia untuk bisa
bekerja sama dengan Jokowi.
Karakter yang sederhana dan aksi
blusukannyalah yang menjadi primadona bagi masyarakat. Lokasi dan kegiatan blusukan Presiden Jokowi kini telah
dipetakan secara digital, sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengetahui
daerah mana saja yang telah dikunjungi Presiden ketujuh RI itu. Peta digital
tersebut ada di dalam situs presidenri.go.id.
Anda dapat membuka menu "Blusukan" yang ada di pojok kanan atas untuk
melihat peta digital tersebut.
Peta itu tidak hanya memuat
daftar lokasi, tetapi juga keterangan kegiatan kunjungan kerja yang dilakukan Presiden
Jokowi di daerah tersebut. Bahkan, sebagian daerah telah dilengkapi dengan
foto.
Anda dapat melihat lebih rinci peta (zoom), lalu klik
drop pin lokasi. Selain Malang, Jawa Timur, Presiden Jokowi juga telah
mengunjungi beberapa wilayah di Tanah Air di antaranya Pulau Sebatik, Pulau We
dan Pulau Buru. Dari peta digital tersebut juga dapat diketahui
daerah-daerah mana saja yang belum dikunjung beliau, seperti Pulau Sumba dan
Pulau Nias.
Mengapa
Presiden Jokowi senang blusukan ? Gaya blusukan
Presiden Jokokowi tidak bisa ditinggalkan begitu saja semenjak menjadi Presiden.
Blusukan malah menjadi agenda wajib bahkan dadakan untuk melakukan
inspeksi atau meninjau mega proyek di sejumlah wilayah di negeri ini. Konsep
membangun dari pinggiran yang digagasnya dalam Nawa Cita, memposisikan
kepemimpinan blusukan menjadi sangat penting. Mobilitas Presiden Jokowi
semakin tinggi.
Turun ke daerah seperti Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, Papua, NTT dan sejumlah wilayah lain yang sedang
digalakan pembangunan mega proyek. Sebagai misalnya, selama kepemimpinannya ,
Presiden Jokowi telah mengunjungi NTT sebanyak 3 atau 4 kali. Hal ini terkait
dengan mega proyek waduk di Raknamo, Rotiklot, pembangunan infrastruktur (pos)
lintas batas di Motain dan sebagainya. Sehingga terkesan Jokowi ke NTT seperti
pulang ke kampung halaman sendiri kapan saja dia mau.
Inilah
istimewanya Presiden Jokowi, bukan karena tidak percaya dengan laporan terkait progress
pembangunan infrastruktur tersebut melainkan keinginan untuk menyaksikan secara
langsung dan menyikapi dengan cepat jika ditemukan masalah di lokasi proyek.
Justeru kehadirannya dan pemantauannya melalui sarana telekomunikasi
memungkinkan pelaksana proyek atau kontraktor tidak bisa berleha-leha. Mereka
bekerja dalam tekanan target waktu yang ditentukan Presiden Jokowi. Sebagai
misalnya untuk pembangunan 7 waduk di NTT ditargetkan selesai 2020. Artinya,
setiap tahun dalam satu periode kepimpinan terdapat dua proyek yang dikerjakan.
Dengan demikian, di akhir kepemimpinan proyek-proyek yang dicanangkan tersebut
selesai.
Blusukan adalah salah satu cara untuk mendapatkan fakta riil di masyarakat.
Dalam banyak hal ini memiliki dampak positif. Metode ini dilakukan Presiden Jokowi
untuk membabat mentalitas ABS ( Asal Bapak Senang ) yang telah berurat akar di
kalangan birokrasi. Selain mentalitas ABS, Presiden Jokowi mengetahui adanya
banyak versi data dan informasi strategis pada setiap lembaga atau kementerian
yang memiliki data.
Data kemiskinan misalnya, yang
dimiliki Kementerian Kesehatan, berbeda dengan data yang dipegang oleh
Kementerian Sosial serta berbeda pula yang dipunyai oleh Badan Pusat Statistik
(BPS). Angka produksi beras dan jagung tidak pernah seragam, setiap lembaga
atau kementerian yang terkait memiliki versinya masing-masing. Dasar
kekhawatiran Presiden Jokowi, data dan informasi yang berbeda-beda akan
berdampak pada pengambilan keputusan yang tidak tepat.
Data yang akurat, berkualitas dan
mutakhir mutlak dibutuhkan untuk mendukung program pemerintah. Tanpa data yang
akurat dan valid, kebijakan atau program tidak sesuai sasaran dan pada akhirnya
tidak berguna. Lihatlah kasus mega proyek Hambalang dan beberapa proyek yang
mangkrak lainnya, karena jarang diapantau makanya terjadi seperti itu.
Bicara
blusukan tak terpisahkan dengan sosok Presiden Jokowi. Beliaulah yang
menggunakan model kepemimpinan ini semenjak ia menjadi Walikota Solo, Gubernur
DKI Jakarta hingga sebagai Presiden Republik Indonesia. Meskipun istilah blusukan
terkesan ndeso, istilah ini memiliki makna yang kuat. Lebih dari
itu, istilah ini identik dengan Presiden Jokowi sendiri. Sehingga orang
menerjemahkan blusukan sebagai the
Jokowi way.
Pola
kepemimpinan ini menggambarkan rasa tanggung jawab secara lahir dan bathin
Presiden Jokowi atas laporan bawahannya. Ia memilih untuk melihat atau
menyaksikan langsung fakta di lapangan. Kejadian atau peristiwanya seperti apa,
ia akan berhadapan langsung dengan fakta tersebut.
Model blusukan ini kontra
dengan mentalitas birokrat yang ABS (Asal Bapak Senang). Mental ini telah
berlangsung lama. Hampir pasti semua laporan bawahan ke atasan tanpa cela.
Tentu saja pelapor, dalam hal ini bawahan, akan mendapatkan kredit point atau
penilaian yang positif. Untuk mendapatkan point ini, bawahan pun pasti akan
melakukan rekayasa laporan sedemikian rupa agar baik di permukaan kertas
ataupun di telinga pimpinan, meskipun fakta dan laporan bertolak belakang.
Jika
dipikir dengan nalar, memang tidak masuk diakal. Sosok Ir. H Joko Widodo menjadi FenomenaL dalam bidang politik dan
birokrasi. Padahal, melihat “Prejengan” Jokowi sangat jauh dari tampilan sosok
pemimpin yang pernah ada selama ini. Kurang dari 10 tahun sejak pertama
menjabat walikota Solo tahun 2005, pada 9 Juli 2014, menang pilpres
berebut secara demokratis melawan Prabowo-Hatta. Senin pekan depan,
tepatnya 20 Oktober 2014 Ia akan dilantik menjadi Seorang Presiden
Republik Indonesia ke 7 dan mendapat predikat Satrio Piningit Sinisihan Wahyu.
Memang,
jika hanya melihat penampilan luar Presiden RI ke 7 banyak manusia akan
tertipu. Atau, itu artinya sama dengan meremehkan kebrilianan, ketulusan,
kejujuran serta keberpihakan derita rakyat yang ada di relung hati dan pikiran
Jokowi. Dalam hati, Mengakui atau tidak pribadi sosok Jokowi tergolong langka
dewasa ini. Kelangkaan itu semakin terasa jika dinisbahkan kepada para pemimpin
negeri ini.
Tidak
bermaksud mendewakan sosok Jokowi, tetapi mungkin banyak yang setuju jika
pribadi satu ini langka dan fenomenal di saat banyak pejabat publik menyandang
gelar koruptor. Sukses kepemimpinan Jokowi menjabat Walikota Solo periode
2005-2009, membuat masyarakat Solo “menunjuk” beliau menjadi pemimpin mereka
untuk kedua kalinya. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang
pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The
Spirit of Java“. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran
kota-kota di Jawa.
Birokrat Pro rakyat
Ia
mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak
untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor
untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin
dan terbuka dan disiarkan oleh televisi lokal dengan masyarakat. Taman
Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya,
dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju
dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan
Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima
pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi
tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 lalu.
Pada
tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD)
yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk
dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di
komplek Istana Mangkunegaran.Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi
salah satu dari “10 Tokoh 2008″ oleh Majalah Tempo. Pendek kata, Jokowi menjadi
simbol pribadi seorang birokrat yang pro rakyat.
Ir.
H. Jokowi, membagi-bagikan gajinya sebagai Walikota Solo kepada para dhuafa,
masyarakat yang di pimpinnya.
Nama Jokowi
lambat laun saat menjabat Walikota Solo, kian plpuler. Lantaran itu Kemenangan
mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota yang kedua kali pada periode 2010-2015.
Nama Jokowi sejak saat itu kian populer, selain kepribadiannya yang disukai
masyarakat, menyerahkan gaji walikotanya dan memberikan pada para dhuafa
mencuri perhatian masyarakat yang miskin tauladan.
Ketika pergi ke
pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak
berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.” Jokowi tidak segan duduk
bersanding dan ngobrol dengan para tukang becak, penjual sayur, penjual kopi
warungan. Sikapnya ini juga tidak berubah saat dirinya menjadi Gubernur DKI.
Ir. H. Joko Widodo
memang terbilang seorang pemimpin yang fenomenal. Ketika mencalonkan diri
sebagai walikota bahkan hingga saat ia terpilih, banyak yang meragukan
kemampuannya. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif yang
ia lakukan. Dalam penataan kota, ia banyak mengambil contoh pengembangan
kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya
dahulu.
Tentu
saja, untuk mengetahui energi kepemimpinan Jokowi dibutuhkan penglihatan secara
tenang. Yaitu melihat dengan matahati. Seandainya mempercayai adanya Ramalan
Jayabaya, terkait Pemimpin Negara Indonesia yang ke 7, satu-satunya yang masuk
kreteria ramalan tersebut hanyalah Jokowi seorang. Sesuai dengan ciri-ciri,
pribadi atau akhlaq, serta tanda alam, calon pemimpin yang masih disembunyikan
serta dalam taraf belajar memimpin rakyat, ternyata lebih dekat ke arah Jokowi.
Jokowi
adalah seorang Satrio Piningit Sinisihan Wahyu yang sedang ditunggu-tunggu oleh
rakyat Indonesia. Sebab sejak kepergian Bapak Proklamator Ir. Soekarno bangsa
dan negara ini terkesan sebagai masyarakat babu yang selalu diperas, ditindas,
dipinggirkan baik oleh pemimpin bangsanya sendiri maupun oleh bangsa asing.
Kesederhanaan, tegas, jujur, amanah, senang berbagi dan merasa senasib sepenanggungan menjadi karakter Jokowi yang tidak dibuat-buat. Dan hal itu dalam ramalan Jaya baya juga menjadi ciri dari Satrio Piningit Sinisihan Wahyu yang didambahkan kedatangannya. Kecintaan, usaha melestarikan budaya luhur bangsa, juga melekat pada Jokowi. Hal itu juga menjadi pribadi Satrio Piningit yang diramalkan Jayabaya dan datang dari daerah Semarang Jawah Tengah.
Rival Jokowi
adalah sosok politisi, pengusaha, prajurit yang sangat berpengalaman bahkan
memiliki dukungan moral maupun finansial sangat berlimpah.
Penjegalan,
Penggagalan dan Pemazgulan
Sosok lawan Jokowi itulah yang disebut Satrio Piningi Palsu yang berusaha dengan segala cara “menjegal” Jokowi menjadi Presiden RI ke 7. Jika penjegalan Satrio Piningit Palsu berhasil, dipastikan negeri ini akan mengalami perang saudara, pecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi beberapa bagian menjadi suatu keniscayaan. Para pengusaha hitam, koruptor, mafia, maling dan birokrat busuk, akan menari kegirangan jika Jokowi bisa dikalahkan.
Sosok lawan Jokowi itulah yang disebut Satrio Piningi Palsu yang berusaha dengan segala cara “menjegal” Jokowi menjadi Presiden RI ke 7. Jika penjegalan Satrio Piningit Palsu berhasil, dipastikan negeri ini akan mengalami perang saudara, pecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi beberapa bagian menjadi suatu keniscayaan. Para pengusaha hitam, koruptor, mafia, maling dan birokrat busuk, akan menari kegirangan jika Jokowi bisa dikalahkan.
Musuh-musuh
Jokowi, telah merancang berbagai strategi licik dan curang untuk mengalahkan,
mengagalkan bahkan menggulingkan Jokowi di setiap kesempatan. Mereka
berkomplot, melakukan makar kepada kebenaran dan jalan lurus hendak dibengkokkan.
Namun Sikap TERANG, TENANG, SENANG, MENANG (Ba’tubuh Adam, Ba’wajah Yusuf,
Ba’kalam Daud, Ba’akhlak Muhammad), melekat pada Jokowi. Hal itu membuat
dirinya rendah hati dalam menghadapi setiap rintangan dan justru membuat
dirinya semakin kuat, tegar menghadapi rival-rivalnya yang belum faham dirinya.
Sikap
demikian tentu saja tidak gampang di raih seseorang. Bagi Jokowi Alumnus SMAN 6
Solo ini sifat itu merupakan bagian kehidupannya sehari-hari. Sejak kecil ia
telah mendapatkan pendidikan dari kedua orang tuanya.
Jokowi
dahulu adalah Jokowi sekarang, tidak berubah. Hal itu telah dibuktikan semenjak
menjabat Walikota Solo, hingga dua periode dan dua tahun menjadi Gubernur DKI
Jakarta. Banyak kesaksian dari para Kiai, yang mengetahui sosok sebenarnya Jokowi.
Kiai Banten, langsung “menyerahkan kewaliannya” saat bertemu dan meninggal
langsung di pangkuan Satrio Piningit ini. Kiai yang menjadi guru spiritual
Khofifah Indar parawansa langsung memerintahkan Khofifah berjuang membantu
Jokowi, beberapa saat setelah berjumpa Tukang mebel ini.
Disisi
lain Kiai Mochtar, Pengasuh Maj’maal Bahrain Shiddiqiyyah ploso Jombang, mau
bertemu Jokowi dan memberikan restu Pencapresannya. Padahal selama ini tidak
pernah mau menemui kandidat bahkan Presiden sekalipun, kecuali Soekarno.
Presiden yang pulang dengan tangan hampa dari Ploso Jombang adalah Gus Dur,
Megawati dan SBY.
Hal
ini menyiratkan kepada kita bahwa sosok Jokowi, memiliki kharisma, adil, jujur,
tegas, cerdas, transparan dan tidak culas dalam memimpin rakyat dan negara. Dan
sifat-sifat tersebut hanya dimiliki oleh kekasih-kekasih Allah SWT.
Menurut
Jokowi, menjadi pemimpin harus dimulai dengan niat yang lurus dan ikhlas.
Baginya, jabatan adalah suatu amanah yang berat dan harus bisa
dipertanggungjawabkan. Amanah tersebut berasal dari Tuhan dan masyarakat
Indonesia mengimpikan seorang pemimpin yang dapat membawa NKRI ke arah lebih
baik, maju dan sejahtera. “Amanah itu saya terima dengan senang hati dan dengan
penuh tanggung jawab,” ujar Jokowi The Spirit Of Nusantara.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar