PRESIDEN IR. H. JOKO WIDODO
“ Lupakan diri Sendiri, investasikan
berbuat banyak kebaikan kepada orang lain dan masyarakat. Niscya keduanya
membuat kita meraup deviden terbesar dalam hidup “
( Williams Griffith Wilson )
1. MASA KECIL , SD, SMP, SMA
Presiden Joko Widodo lahir di Surakarta, Jawa Tengah,
21 Juni 1961 Menjabat Presiden ke-7 Indonesia yang mulai menjabat sejak 20
Oktober 2014. Amanah yang luar biasa karena bisa dibilang “Wong
Ndeso Dadi Presiden “ atau Orang desa jadi Presiden, dan berasal dari berasal
dari keluarga yang sederhana.
Dikutip
dari Wikipedia, Presiden. Joko Widodo lahir dari pasangan Noto Mihardjo
dan Sudjiatmi, dan merupakan anak sulung serta putra satu-satunya dari empat bersaudara.
Ia memiliki tiga orang adik perempuan bernama Iit Sriyantini, Ida Yati, dan
Titik Relawati. Ia sebenarnya memiliki seorang adik laki-laki bernama Joko
Lukito, namun meninggal saat persalinan.
Tak
jauh berbeda kehidupan bantaran kali masa kini dengan kala itu, banyak digusur
atau pun diminta pindah oleh pemilik rumah. Kehidupan Joko Widodo Kecil diwarnai oleh suasana nomaden atau
sering pindah-pindah karena harga sewa rumah terus naik. Bantaran sungai Dawung Kidul menjadi tempat
hinggapan kedua dengan suasana yang tak jauh berbeda tapi ukuran yang lebih
kecil.
Berpindah
lagi ke daerah Munggur yang lagi-lagi dialiri Sungai Pepe, di situlah
kebahagiaan keluarga Notomiharjo bertambah dengan kehadiran tiga putri lagi. Ketiga
saudara kandungnya merupakan perempuan, yakni Iit Sriyantini, Ida Yati,
dan Titik Relawati
.
Presiden Joko Widodo kecil kerap lari terbirit saat orangtua
memergokinya mandi di kali. Atau sekadar mencari telur bebek untuk kemudian di
masak dengan kaleng bekas.
“Dulu dengan saya dan teman-teman
lainnya, Presiden Ir. H. Joko Widodo sering bermain. Kami mandi di sungai dan
mencari telur bebek di Kali Anyar,” ujar Bandi, 59, tersenyum
menceritakan kenangannya dengan Presiden Ir. H. Joko Widodo.
Seringkali, Ibunda Presiden Ir. H. Joko Widodo maupun
orang tua lainnya mencari mereka ke sungai. Jika sudah seperti itu, ujar Bandi,
mereka akan secepatnya mengambil langkah seribu, pulang karena takut dimarahi. Pria
yang berprofesi sebagai sopir itu bercerita, selisih umurnya dengan Presiden Ir. H. Joko Widodo sekira
tujuh tahun. “Saya dulu manggilnya ‘Le’, dia manggil saya 'Mas'," kata
dia.
Sejak Presiden Joko Widodo menjadi orang penting, dia sungkan untuk
menggunakan panggilan itu. "Saya tidak berani manggil ‘Le’. Walaupun
pernah Presiden Joko Widodo sendiri meminta saya manggil seperti panggilan masa kecil,”
ujarnya. Bandi tak ingat pasti kapan Presiden Joko Widodo dan keluarganya tinggal di Candirejo Lor. Yang
Bandi ingat, Presiden Joko Widodo pindah ke wilayah Sumber, Banjarsari, Solo,
pada 1971. Sejak itu, mereka jarang bertemu. "Tapi ia masih suka main
kemari,” imbuhnya.
Presiden Joko Widodo, kata Bandi, telah memiliki jiwa kepemimpinan sejak kecil. Selain dikenal cerdas dan pendiam, Presiden Joko Widodo juga kerap mendamaikan rekan-rekannya yang berkelahi. Kalau temannya berkelahi, Presiden Joko Widodo memilih untuk tidak memihak. "Dia pilih pergi. Namun hari berikutnya dia beri solusi dan mendamaikan,” jelas Bandi.
Di mata Bandi, tidak banyak berubah
dari Presiden Joko Widodo. Terbukti
ketika bertemu beberapa tahun lalu di Bandara Adi Soemarmo, Presiden Joko Widodo langsung
merangkulnya. “Saya cuma sopir, menjemput penumpang di bandara. Tak tahunya,
dia mendatangi dan merangkul saya. Semua orang heran melihatnya,” pria itu
menutup kisah dengan senyum. Penghasilan
pas-pasan sebagai tukang kayu di desa membuat Notomiharjo harus memutar otak
dengan keras. Tapi dari kayu itulah Notomiharjo bisa menyekolahkan Presiden Joko Widodo kecil dan ketiga putrinya. Bantaran Kali Anyar
menjadi persinggahan selanjutnya karena di situ itulah sebuah pasar kayu besar
bergeliat.
Kehidupan
keluarga Notomiharjo sedikitnya berubah dari riuh rendah perkampungan menjadi
ramai-ramai suasana Pasar Gilingan, Surakarta Pertama kali Presiden Joko Widodo kecil bersekolah adalah di SD Negeri 111
Tirtoyoso, Solo, selama 6 tahun sejak 1968. Tak ada biaya untuk membeli sepeda
untuk menemani dia sekolah, maka jalan kaki adalah yang paling memungkinkan.
Sering main kelereng dan mandi di kali
Teman kecil Presiden Joko Widodo lainnya adalah Sutarti. Dia mengatakan, mantan Gubernur DKI
Jakarta ini tipe anak pendiam dan rajin. "Dia itu anaknya rajin dan pinter.
Dia kalau malem selalu belajar. Orangnya juga nggak nakal," kata
Sutarti.
Rumah Sutarti dulu berdampingan
dengan kediaman keluarga Presiden Joko Widodo di Pasar
bambu Gilingan, Banjarsari atau tepatnya di sebelah selatan bantaran Kali
Anyar, Solo. Sutarti menceritakan masa kecil dari Presiden Joko Widodo tak ubahnya sama dengan anak-anak lainnya. Jokowi kecil sering
bermain kelereng, layang-layang, memancing di pinggir kali.
" Presiden Joko Widodo itu juga sering mandi di sungai sama teman-temannya, " tuturnya.
Lantas
dirinya mengaku sewaktu Presiden Joko Widodo kecil sudah
seperti keluarganya sendiri. Sutarti
yang lebih tua delapan tahun dibanding Presiden Joko Widodo ini lebih
sering ngemong Presiden Joko Widodo dan tiga adik
perempuannya. "Kemarin ketemu terakhir pas open house halal
bihalal dengan Presiden Joko Widodo di rumahnya.
Ya, beliau masih ingat dengan saya, menyapa seperi biasa. Nggak ada yang
berbeda dengan sikap Ir. H. Joko
Widodo setelah
terpilih Presiden," ungkap
Sutarti.
Langkah
demi langkah Joko Widodo kecil
hingga usia 12 tahun rupanya membuat dia melihat-lihat bagaimana cara
menggergaji kayu dan memotong bambu. Telur-telur bebek yang tergeletak tak
bertuan juga menarik perhatian bocah itu. Tak ingin berlama-lama menjadi beban
ayahnya yang hanya tukang kayu, dia juga memulai berpikir bagaimana cara
berdagang.
Presiden Joko Widodo mempunyai
banyak cerita unik. Penampilannya dengan tubuh yang kurus saat ini, memang sama
seperti penampilannya semenjak masih masa kanak-kanak. Bahkan saat masih duduk
di bangku SMP N Solo, celana Presiden Joko Widodo kecil
sering melorot, lantaran tubuhnya kekurusan.
Sutarti (62) pengasuh Presiden. Joko Widodo mengatakan, mantan wali kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta tersebut dari kecil memang susah makan. Sehingga badannya kurus sekali. Rasa ketertarikan Joko Widodo kecil pada dunia dagang berdagang, dituangkan dengan memanggil-manggil pedagang apa pun yang lewat.
Sutarti (62) pengasuh Presiden. Joko Widodo mengatakan, mantan wali kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta tersebut dari kecil memang susah makan. Sehingga badannya kurus sekali. Rasa ketertarikan Joko Widodo kecil pada dunia dagang berdagang, dituangkan dengan memanggil-manggil pedagang apa pun yang lewat.
"Saking getolnya saya
memanggil pedagang, suatu kali saya dengan kencang meneriaki abang yang entah
berdagang apa agar mendekat. Ternyata dia pedagang arang. Terlanjur dipanggil,
ya terpaksa Ibu membayar arang-arang tersebut, padahal saya tidak butuh," (Presiden Joko Widodo)
"Masa kecil saya adalah pembelajaran pertama tentang
bagaimana memahami kehidupan rakyat. Apa yang saya lakoni saat ini tak bisa
terlepas dari atmosfer yang menumbuhkan saya. Bantaran sungai kumuh di
Surakarta itu mengajarkan saya banyak hal. Hidup manusia dan harapan," (Presiden Joko Widodo)
Sudah
terbiasa melangkahkan kaki dari Pasar Gilingan menuju sekolah, rupanya Presiden Ir. H. Joko Widodo kecil harus pindah lagi bersama keluarganya.
Notomiharjo yang tak sanggup lagi membayar sewa rumah pun terpaksa mengajak
keluarganya menumpang tinggal di rumah kakak dari Sujiatmi yang terletak di
wilayah Gondang Meski sudah tidak lagi tinggal di tengah ramainya Pasar
Gilingan, suasana di Gondang terasa lebih hangat.
Satu atap dengan keluarga besar
membuat Presiden Joko Widodo kecil
merasakan kehangatan. Di sisi lain kehidupan menumpang seperti itu sebenarnya
tak seharusnya terjadi. Biar bagaimana pun sebuah keluarga harus mampu
menjalani kehidupan sendiri.
Usaha
Notomiharjo berjualan kayu juga semakin terpuruk karena tak lagi bisa berjualan
di Pasar Gilingan yang ramai. Bertolak dari kondisi tersebut akhirnya membuat
Notomiharjo merambah ke jalanan, menjadi sopir.
Ayah Presiden Joko Widodo kecil itu menapaki dunia persopiran mulai dari sopir pribadi hingga sopir bus antar provinsi.
Ayah Presiden Joko Widodo kecil itu menapaki dunia persopiran mulai dari sopir pribadi hingga sopir bus antar provinsi.
Setiap
malam Sujiatmi menunggu suaminya pulang hingga larut. Tapi ternyata usaha gigih
itu tak sia-sia, Notomiharjo kemudian mengajak keluarganya pindah dan
mengontrak rumah sendiri di wilayah Manahan. Ketika itu Joko Widodo kecil sudah menginjak usia remaja dan
melanjutkan jenjang pendidikan ke SMP 1 Solo, sebuah sekolah yang bisa dibilang
favorit.
( BERSAMBUNG )






Tidak ada komentar:
Posting Komentar