Jumat, 21 September 2018

MASA KECIL PRESIDEN JOKOWI dan KEJADIAN LUCU By Adrian Indra


Marah dijodohin

Salah satu kenangan yang sampai saat ini masih melekat pada ingatannya adalah ketika dia mengerjai sosok Jokowi. Ketika itu Mahmud menjodoh-jodohkannya dengan salah satu temannya di sekolahnya. Tak diduga Joko Widodo bereaksi dengan keras.
"Beliau itu marah-marah saat saya jodohkan. Pak Jokowi kala itu bilang nggak sudi. Akhirnya dia marah, tapi terus saya diamkan saja. Pak Jokowi nggak punya pacar saat SMA. Lha wong dipacokke (dijodoh-jodohkan) saja nggak mau gitu, " kenang Mahmud dengan tertawa.

Mahmud sering pulang bareng dengan Jokowi. Ia sering main ke rumah Joko Widodo. Saat main ke rumahnya itu, ia sering nyelonong langsung masuk ke kamar Jokowi. Seingat Mahmud, saat dirinya main ke rumah Jokowi, ia selalu diputarkan lagu-lagu slow seperti Koes Plus dan Bimbo.
"Tapi itu nggak memungkiri jika Jokowi senang dengan musik rock. Karena saya lihat di kamarnya itu banyak kaset-kaset dari grup musik rock mancanegara. Ada Deep Purple, Led Zeppelin. Selain itu juga saya melihat di kamarnya itu ada tumpukan majalah Aktuil, " kata Mahmud.
Majalah aktuil adalah majalah musik yang sering mengulas musik rock. Majalah yang berdiri di Bandung ini sering menjadi acuan bagi mereka yang menyebut diri sebagai fans musik rock.

Ingin jadi wali kota

Kesukaan lain dari Jokowi saat dia masih SMA yaitu berburu dengan senapan angin. Setiap pulang sekolah sering berburu burung di sekitar rumahnya di Sumber, tetapi selalu nihil tanpa membuahkan hasil.
"Nggak pernah dapat kalau nembak itu," ungkapnya.
Mahmud sendiri sempat menjadi curahan hati Joko Widodo yang akan mulai menapaki jabatan politik. Saat itu Jokowi menyatakan bahwa dia akan memiliki tantangan baru, yakni mencalonkan Walikota Surakarta. "Waktu itu dia cerita ingin jadi Walikota motivasinya ingin menata Kota Solo, " tuturnya.
Dua teman sebangku saat SMA itu memang hingga kini masih sering bertemu. Pasalnya, Mahmud sendiri merupakan suplier sejumlah perlengkapan mebel yang menyetor hampir semua perusahaan mebel yang dimiliki Jokowi.
"Saking dekatnya, saya itu kalau lagi berduaan ya manggilnya Jok, dia juga manggil saya Mud. Tapi kalo ada orang lain seperti ajudan atau siapalah, kami masing-masing memanggilnya pakai pak," ujarnya.

Menangis jika sendiri di rumah

Teman satu kecil Jokowi lainnya adalah Sutarti. Dia mengatakan, mantan Gubernur DKI Jakarta ini tipe anak pendiam dan rajin.
"Dia itu anaknya rajin dan pinter. Dia kalau malem selalu belajar. Orangnya juga nggak nakal," kata Sutarti.
Dulu, Mas Jokowi selalu nangis kalau sendirian di rumah. Karena bapak ibunya pas nggak ada di rumah. Saat Mas Jokowi nangis, saya yang memboncengkannya ke rumah Pakdenya di Gondang, " kenang Sutarti. Rumah Sutarti dulu berdampingan dengan kediaman keluarga Jokowi di Pasar bambu Gilingan, Banjarsari atau tepatnya di sebelah selatan bantaran Kali Anyar, Solo.

       Sutarti menceritakan masa kecil dari Jokowi tak ubahnya sama dengan anak-anak lainnya. Jokowi kecil sering bermain kelereng, layang-layang, memancing di pinggir kali.
"Mas Jokowi itu juga sering mandi di sungai sama teman-temannya, " tuturnya.
 Lantas dirinya mengaku sewaktu Jokowi kecil sudah seperti keluarganya sendiri.  Sutarti yang lebih tua delapan tahun dibanding Jokowi ini lebih sering ngemong Jokowi dan tiga adik perempuannya.
"Kemarin ketemu terakhir pas open house halal bihalal dengan Mas Jokowi di rumahnya. Ya, beliau masih ingat dengan saya, menyapa seperi biasa."
"Nggak ada yang berbeda dengan sikap Pak Jokowi setelah kemarin terpilih Presiden," ungkap Sutarti.
      
        Pengalaman Pertama Jadi Inspektur Upacara
Selama menjadi gubernur, kisah pengalaman pertama menjadi inspektur upacara kala dilantik sebagai Wali Kota Solo adalah hal yang kerap Jokowi ceritakan. Bahkan, cerita ini sudah ia sebar sejak kampanye pilkada Jakarta.

Dalam cerita itu, Jokowi mengaku salah prosedur ketika upacara memasuki bagian "hormat kepada pemimpin upacara". "Pas disuruh hormat, saya hormat. Lima menit, kok enggak turun-turun hormatnya. Wah, keliru pikir saya. Yang di depan saya sudah pada mulai ketawa. Ternyata hormat baru berhenti kalau saya kasih aba-aba."

2.        Kalah Ganteng dengan Ajudan
Jokowi pernah bercerita, saat menjadi Wali Kota Solo, dirinya sempat memiliki ajudan yang lebih tampan dibanding dirinya. Karena kalah tampan, ajudannya lebih dianggap sebagai wali kota dibanding dirinya. Buktinya, setiap ada tamu, ajudannya disalami lebih dulu, dirinya belakangan. "Sekali dua kali enggak apa, lama-lama kesel juga. Setelah tiga bulan, langsung saya ganti ajudan saya, sama yang lebih jelek. Habis itu aman, setiap ada tamu, saya disalami duluan hehehehe," ujar Jokowi.

3.             Bakat Jadi Dukun
Jokowi mengaku sempat dianggap paranormal ketika menjadi Wali Kota Solo. Pernah suatu kali dirinya diminta untuk menyembuhkan seorang anak yang sakit panas.
"Karena rumah dinas saya terbuka untuk warga, ada ibu-ibu minta tolong saya sembuhkan anaknya. Saya cuma dinginkan tangan saya dengan air lalu saya usap kepala anaknya. Eh, besoknya sembuh anak itu. Mungkin saya ada bakat jadi dukun," ujarnya seraya tertawa.

4.        Kucing-kucingan dengan Vojrider
Jokowi bercerita, sejak menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta, ia kerap dikawal vojrider tiap kali hendak blusukan. Namun, pengawalan tersebut dianggap Jokowi terlalu berlebihan dan memusingkan.
"Sudah bunyi nguing nguing, jalannya gini-gini (zigzag). Saya paling enggak suka itu dikawal dengan cara seperti itu. Ganggu orang, bikin saya pusing juga," ujarnya.  Karena kesal, Jokowi mengaku sempat kucing-kucingan dengan pengawalnya, yakni dengan menyuruh sopirnya meninggalkan vojrider saat mereka lengah. "Jadi, pas motornya lurus terus, saya belok kiri mendadak. Dia pasti bingung, nengok spion, lah Gubernur saya mana hehehehe," ujarnya sambil tertawa jahil.

5.        KB-nya Gagal
Saat meluncurkan Kartu Jakarta Sehat untuk pertama kalinya, salah satu tempat yang dikunjungi Jokowi adalah kawasan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Di sana, Jokowi bertemu dengan seorang kepala warga dan sempat mengobrol. Kala mengobrol, Jokowi sempat terhentak ketika mengetahui kelapa keluarga itu punya sembilan anak.
"Ini sih KB-nya gagal. Masak punya anak sembilan," ujar Jokowi sambil tertawa. Hal itu disambut tawa bapak yang disinggung dan wartawan.

6.        The Mbronx
Dengan aksen Jawanya yang agak kental, Jokowi terkadang memodifikasi istilah-istilah asing agar mudah ia ucapkan. Saat dimintai tanggapan soal graffiti misalnya, ia menyebut Bronx, salah satu kawasan di Amerika, sebagai The Mbronx.
"Kita lihat saja the Mbronx', bagus kan? Artinya kalau tertata, gambarnya bagus, itu jadi indah, bukan urek-urekan kayak sekarang," ujarnya santai. pengucapan yang terdengar lucu di telinga itu membuat wartawan tak bisa menahan tawa. Jokowi, dengan santainya, tetap nyerocos soal The Mbronx.

Kelucuan-kelucuan di atas secara semiotika adalah karekter Jokowi yang menggunakan bahasa manusia atau humanisme. Tetapi mengapa Jokowi diserang dengan Kampanye Hitam dalam bentuk lembaran kertas dalam bentuk tabloid “obor rakyat” yang dikirim ke pessantren –pesantren, apa dibalik analisis semiotikanya, dengan parameter terukur kita analisis melalui sinergisitas antara tgl lahir Jokowi dengan tgl pelaksanaan Pilpers adalah “benang merahnya” dengan kejadian-kejadian yang menimpa diri Jokowi.

Analisis Tgl Lahir Jokowi dikaitkan dengan Tgl Pelaksanaan Pilpres 2014

  Analisis “kampanye Hitam yang menyerang Jokowi dengan terbitkan Tabloid “obor rakyat” adalah semiotika dari Allah, bahwa Jokowi sedang diuji, dimatangkan dalam kawah candra dimuka, sedang digebleng. Perhatikan  Tgl lahir Jokowi 21 Juni 1961 = 21- 6-1961= 3(2+1) +6+17 (1+9+6+1)= 26.

         Angka 26 adalah nama surah  Asy Syuara (para penyair), salah satu subtansi isinya adalah berbicara hukum-hukum tentang keharusan memenuhi takaran dan timbangan:larangan menggubah syair yang berisi cacian-cacian, kurafat-kurafat dan kebohongan-kebohongan. 26 AYAT , 3,6 dan ayat 17 adalah early warning bagi mereka yang melakukan kampanye hitam tethadap Jokowi: “Boleh jadi kamu akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya mereka telah mendustakan ayat ayat alquran, maka kelak akan datang kepada mereka kenyataan dari berita-berita yang selalu mereka perolok-olokan, lepaskan bani israel pergi berserta kami.

Semiotikanya adalah, bahwa selama ini Jokowi diolok-olok, diserang kampanye hitam, difitnah, tetapi Jokowi akan lepas dari olok-olok dan fitnah, Jokowi akan membawa bangsanya yang masih memiliki sifat-sifat Israel  akan terlepas dan melepaskan sifat-sifat bani Israel dan membawa kebebasan dan keadilan. 

Mitos “Satrio Piningit” Berdasarkan analisis Semiotika Mitos

           Salah satu analisis semiotika jika meminjam teori mitos, adalah gambaran Satrio Piningit: Kurun tahun 1135 sampai 1159 Prabu Jayabaya meramalkan; pada zaman keemasan Nusantara akan kedatangan Ratu Adil alias Satrio Piningit. Nubuat itu rupanya dikenang dan diyakini oleh sebagian masyarakat, bahkan sampai zaman modern seperti saat ini.
Mendiang Bung Karno pun pernah mengutip ramalan Jayabaya saat membacakan pledoi pada persidangan di Landraad, Bandung, Jawa Barat, pada 1930. 



“Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya “Ratu Adil”, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap “Kapan, kapankah Matahari terbit?” kata Sukarno dalam pledoi yang kemudian dikenal dengan Indonesia Menggugat itu.

        Politisi senior Partai Golongan Karya Suhardiman tiba-tiba menyebut ciri-ciri satrio piningit ada pada sosok calon presiden PDIP, Joko Widodo (Jokowi). Politisi yang juga pendiri SOKSI ini yakin bahwa Jokowi, adalah sosok pemimpin yang akan meneruskan estafet kepemimpinan Indonesia.

"Yang pertama Satrio Kinunjoro, Satria yang keluar masuk penjara itu Pak Karno (Soekarno). Kedua Satrio Muktiwibowo itu Pak Harto (Soeharto), yang ketiga Satrio Piningit. Gambaran secara singkat Satrio Piningit itu orang yang kesandung, itu berarti dari lapisan bawah, bukan dari atas. Jikalau lihat sejarah, sementara yang kita jumpai orang kesandung, itu adalah Jokowi," kata Suhardiman di kediamannya di Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (5/5/2014) kemarin.

Suhardiman yang dijuluki sebagai dukun politik itu berpendapat bahwa Indonesia membutuhkan tiga satrio atau satria. Pertama Satrio Kinunjoro yang berarti pejuang atau pemimpin yang sering keluar masuk penjara seperti Soekarno. Kedua Satrio Mukti Wibowo yang terwujud pada sosok Soeharto. Sedangkan yang terakhir adalah Satrio Piningit. "Figur Satrio Piningit ini ada pada sosok Joko Widodo yang benar-benar berasal dari tingkat bawah," ungkapnya.

Karenanya Suhardiman menyarankan Prabowo agar mengurungkan niat menjadi presiden. "Saya menyarankan Prabowo untuk mengurungkan niat menjadi capres. Lebih baik Prabowo beri kesempatan kepada Jokowi," saran dia.

Seperti apa persisnya ramalan Prabu Jayabaya yang pernah menjadi Raja di Kerajaan Kediri itu? Sejumlah pustaka menyebut bahwa secara berturut-turut Nusantara yang kini dikenal dengan Indonesia pada masa keemasannya akan dipimpin oleh tujuh satria piningit.


Tujuh satrio piningit itu adalah; Satria Kinunjara Murwo Kuncoro, Satria Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumela Atur, Satria Lelono Tapa Ngrame, Satria Piningit Hamong Tuwuh, Satria Boyong Pambuka ning Gapura dan terakhir adalah Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu

            Hanya mencoba mengais kembali sisa sejarah Tanah Nusantara.. Benar atau tidak itu Kuasa dan Ilmu Tuhan.. TIDAK ADA SALAHNYA UNTUK DIRENUNGKAN... Semuanya demi bangsa kita tercinta, tanah air Indonesia.

             Semiotika pada tingkat kedua adalah konotasi atau mitologi, mari kita rasionalisasi semiotika Serat Joyoboyo yang  menggunakan bahasa dan penggambaran saat itu. Saat dimana budaya dan ritual Hindu yang menjadi mayoritas.. Bagaimana mungkin bisa menggambarkan masa sekarang dengan jelas?? Apakah mungkin mobil dan Handphone sudah diberitakan pada jaman Majapahit?? Tentu saja ia berbicara Kreshna, Kereta, Singgasana, Baratayudha, dll.. Ia berbicara dengan bahasa Hindu sebagai kebudayaan dan religius terbesar pada peradaban saat itu.

Jika menggambarkan saat ini dan mengaitkan dengan bahasa agama maka tidak bisa tidak Islamlah yang menjadi subyeknya, bukan yang lain. Mayoritas adalah subyek penggambaran, dan hal ini bisa sangat diterima dan masuk akal. 

Gambaran dari para Budayawan tentang Ir. H. Jokowi adalah :
ü  Ia jujur dan apa adanya tidak bersembunyi dibalik topeng kepura-puraan. Ia tulus mengabdi dan mencintai bagi rakyat demi Tuhan..
ü  Ia bukan hitler atau Musollini namun apa katanya selalu dituruti.. Semua mengekor dengan kerelaan hati demi kebaikan dan kemajuan bersama.. Ini benar-benar ajaib
ü  Ia bukan ustad apalagi kyai namun kharismanya melebihi ulama.. Ia tidak menghapal banyak hadist namun mengaplikasikannya dalam dunia nyata. Dalam muamalah kehidupan bermasyarakat..
ü  Ia bukan Obama apalagi Aktor.. Ia tidak ganteng, namun bagi warga Jakarta dan Indonesia ia adalah laki-laki paling ganteng se Indonesia.. Ke gantengan yang lahir dari dalam jiwa yang bersih dan tulus. Ia hanya ingin melayani rakyat. Prinsipnya hanya itu saja. Sangat sederhana.


            Budayawan Edhum lainnya, Bardi Agan, mengatakan wuku Jokowi ini memiliki kelemahan terhadap unsur besi. Unsur besi, menurut pengajar Universitas Nusantara PGRI Kediri ini, memiliki banyak makna. Ketika terpilih nanti, Jokowi mungkin akan menghadapi kuatnya kelompok parlemen atau kekuatan lain yang bertangan besi. "Atau bisa juga besi diartikan militer," kata Bardi. Namun demikian, Bardi menegaskan hal ini hanyalah pembacaan penanggalan berdasarkan ilmu kitab kuno. Sebab, pada dasarnya watak seseorang terdiri atas dua hal, yakni watak dasar, yang dimiliki sejak lahir, dan watak ajar, yang dibentuk oleh proses belajar. Teori penanggalan ini, menurut Bardi, sudah teruji selama bertahun-tahun dan diakui khalayak ramai.

Pengaturan kota yang baik di Eropa menjadi inspirasinya untuk diterapkan di Solo dan menginspirasinya untuk memasuki dunia politik. Ia ingin menerapkan kepemimpinan manusiawi dan mewujudkan kota yang bersahabat untuk penghuninya yaitu daerah Surakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FREDERIKUS GEBZE : "PRESIDEN JOKOWI DAN PEMIMPIN DUNIA"

  Berbagi Pengalaman dengan Generasi Muda Presiden Joko Widodo berbagi pengalamannya menjadi seorang wirausaha dalam acara ...