Apa Itu Satrio
Piningit ?
Belum
tentu seluruh masyarakat Indonesia, paham dan mengetahui tentang istilah Satrio
Piningit. Satrio Piningit adalah istilah
atau wacana nusantara yang disebut-sebut di alam lampau, tentang munculnya
sosok besar, pahlawan yang ditunggu-tunggu yang akan membereskan masalah
duniawi di Nusantara. Satrio Piningit atau Sang Budak Angon, atau Sang Ratu Adil,
atau Sang Mahdi muncul ketika semua orang hilang kemampuan untuk membedakan
baik dan buruk, ketika masyarakat memiliki aturan, tetapi aturan itu tidak
diindahkan dan diterapkan oleh mereka sendiri.
Wacana Satria Piningit adalah wacana bagus, yang bisa mengangkat moral suatu masyarakat, akan kedatangan sosok yang akan menyelesaikan banyak masalah. Siapa yang tidak suka dengan sosok Pahlawan? Para pahlawan bahkan diciptakan dengan sengaja, menjadi patron dan menjaga keseimbangan masyarakat. Namun, maaf bagi saya, masyarakat yang selalu membutuhkan pahlawan adalah masyarakat yang egois.
Wacana Satria Piningit adalah wacana bagus, yang bisa mengangkat moral suatu masyarakat, akan kedatangan sosok yang akan menyelesaikan banyak masalah. Siapa yang tidak suka dengan sosok Pahlawan? Para pahlawan bahkan diciptakan dengan sengaja, menjadi patron dan menjaga keseimbangan masyarakat. Namun, maaf bagi saya, masyarakat yang selalu membutuhkan pahlawan adalah masyarakat yang egois.
Satrio Piningit intinya muncul saat masyarakat di suatu wilayah menyerahkan dirinya pada nasib, alih alih mengubah nasib mereka sendiri, nasib mereka ditentukan orang jauh, yang notabene tidak menyayangi mereka.
Dengan demokrasi, setidaknya masyarakat tidak lagi membutuhkan wacana tentang kehadiran one man show, prodigal, sang asketis yang juga agresif menentukan semua hal, bagaikan sistem monarki dan atau sistem kepemimpinan Kenabian, di mana keinginan pemimpin adalah sabda yang tidak bisa dikoreksi dan diverifikasi.
Demokrasi
adalah keterlibatan semua pihak menentukan nasib sendiri. Masyarakat yang
menginginkan hasil maksimal dari kepemimpinan yang kuat, juga harus mencirikan
diri sebagai masyarakat kuat. Tentu
saja demokrasi juga memiliki kelemahan besar, sebagaimana yang saya sebutkan di
atas, kelemahannya muncul saat dipraktikan oleh masyarakat yang juga lemah. Dan
baru saja Anda mengetahui alasan mengapa di Indonesia pernah terjadi Dekrit
Presiden pada medio 1900 an yang membubarkan demokrasi (parlemen), disaat
benihnya baru tumbuh. Founding father Republik ini, Presiden Soekarno membuat
keputusan besar, terberat, kontroversial namun mampu dimengerti karena
masyarakat masih awam pada fungsi demorkasi itu sendiri.
Tapi 56 tahun berlalu sejak pembubaran demokrasi tersebut, lalu dipulihkan pada 1969, pendidikan politik telah berjalan dan masyarakat telah berevolusi menjadi sedikit tercerahkan. Mestinya Demokrasi mampu membawa kita pada penyelesaian. Nyatanya belum. Kenapa? Karena masyarakat pada periode yang sama, juga masih terpaku untuk mencari sosok Satria Piningit, mereka merasa bahwa Demokrasi adalah salah satu upaya untuk mendapatkan Satrio Piningit tersebut.
Tapi 56 tahun berlalu sejak pembubaran demokrasi tersebut, lalu dipulihkan pada 1969, pendidikan politik telah berjalan dan masyarakat telah berevolusi menjadi sedikit tercerahkan. Mestinya Demokrasi mampu membawa kita pada penyelesaian. Nyatanya belum. Kenapa? Karena masyarakat pada periode yang sama, juga masih terpaku untuk mencari sosok Satria Piningit, mereka merasa bahwa Demokrasi adalah salah satu upaya untuk mendapatkan Satrio Piningit tersebut.
Keegoisan Yang Menjerumuskan Pemimpin Bagus
Berdemokrasi dengan tujuan mendapatkan pemimpin terbaik yang mampu melakukan banyak hal adalah kesesatan terbesar dalam demokrasi itu sendiri. Anda mencari pemimpin agar dia mampu berbahasa Inggris fasih tidak campur baur dengan bahasa Jawa, memahami fiskal, memahami ekonomi, menguasai sains, menguasai sosiologi, memahami ilmu agama, menguasai pidato, dan ketika dirinya tidak mampu melakukannya Anda sebut orang malang itu pemimpin jelek, pemimpin tak berguna, pemimpin gagal, maka ketahuilah bahwa justru diri Anda yang notabene pemilih gagal. Pemilih egois yang gagal paham.
Jika demokrasi adalah ajang konstentansi mencari manusia serba bisa, maka jangan pakai demokrasi! Gunakan saja forum lelang panelis, yang diisi para ahli dari ratusan disiplin ilmu, dan presiden Indonesia bisa diseleksi dengan ketat dengan sistem lelang tersebut. Karena tujuan sejati dari demokrasi justru mencari pemimpin yang mampu mengeluarkan yang terbaik dari masyarakatnya. Pemimpin yang sanggup juga konsisten pada gagasan besar pemberdayaan masyarakat. Dia berani menolak wacana yang melemahkan keberdayaan masyarakatnya. Dia mampu juga membawa formula yang tepat, pemikir yang tepat, teknisi yang tepat, praktisi yang tepat, dan dengan konsisten serta sabar menerapkan reformasi pembangunan secara terbuka dan menerima kritik.
Dia bersama golongannya memberikan sepotong ideologi mencari formula terbaik dalam memimpin suatu bangsa. Dia mantap dengan ideologi kelompoknya, bahwa itu yang terbaik, itu yang mampu mengeluarkan yang terbaik. Karena bagi penulis tidak ada ideologi yang buruk, entah yang di bawa oleh PDI Perjuangan, Golongan Karya, Nasional Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Parpol lainnya, semua membawa formulasi ideal versi masing-masing demi memajukan bangsa. Demokrasi memilih formulasi mana yang menarik minat.
Dan demokrasi telah memilih Presiden Joko Widodo, akankah Jokowi bersama koalisinya membawakan formulasi serta reformasi versi sendiri setidaknya hingga 2019-2024 kelak ? Di sisi lain, terlepas dari previlese kemenangan suatu ideologi yang telah melalui proses demorkasi yang melelahkan dan mahal, serta meraih kemenangan yang secara kasualitas akan menempatkan para koalisi pemenang pemilu pada akses kekuasaan yang besar, pemimpin dari ideologi manapun harus mampu mengeluarkan yang terbaik dari bangsanya. Terutama harus mengangkat dan mengupgrade kemampuan teknis bangsanya dengan jalan apapun itu.
Ada Harapan
Tentu
saja ada harapan. Meskipun ada praktik moral hazard beberapa politikus
ajimumpung yang ikut menikam bangsanya saat berjuang melewati masa sulit
pelemahan permintaan komoditas global, tetap mempraktikkan bisnis korup seperti
biasa pada saat ada peningkatan eskalasi konflik regional yang menyeret dunia
dalam ketidakpastian politik yang membawa ongkos ekonomi tambahan, ditambah
pelemahan elemen anti korupsi, bangsa Indonesia tetap memiliki harapan.
Yang pertama, politikus baik tetap masih berperan besar di pemerintahan. Dari apa yang saya baca di beberapa headline berita nasional atau asing. Penguasa politik tertinggi di Indonesia semakin mengerti pentingnya perbaikan SDM. Upaya Presiden yang memberikan jalan pada prodigal teknologi dalam kontes para progammer dalam Hackaton Merdeka, upaya membuat teknologi maju luar negeri mampu melibatkan elemen ke Indonesiaan, dan lebih memilih melawat ke perusahaan teknologi tinggi dibanding perusahaan yang mengeksploitasi alam, menunjukkan adanya perubahan serius terjadi di tengah kita.
Yang kedua, ada upaya merubah mentalitas pikul, berkerja hanya memikul hasil alam yang mentah ke atas truk truk, ke loji loji, serta dikapalkan ke negeri asing, menjadi mentalitas pikir yang berkerja dengan isi kepalanya. Pemerintah pun makin menghargai kemampuan nalar dan fikir, dengan memberikan remunerasi pada prestasi-prestasi yang mengacu pada penyelesaian tantangan. Pemerintah juga mengadaptasi segala tren teknologi terbaru dalam energi, dan ingin penerapannya berlangsung di Indonesia.
Presiden Jokowi digambarkan seperti Ken
Arok
Sosok Joko Widodo alias Jokowi di mata
masyarakat Malang tak hanya dinilai sebagai sosok Satrio Piningit, tetapi dia
juga ditafsirkan sebagai sosok Ken Arok, yang dinilai mampu mendobrak
ketidakadilan, penegakan hukum, dan penindasan, serta akan berhasil membawa
Indonesia menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto
raharjo.
"Sosok Jokowi dilihat dari
kinerjanya memimpin Kota Solo dan DKI Jakarta yang cukup merakyat dan
sederhana. Bukan hanya layak disebut Satrio Piningit, tapi juga layak disebut
sosok Ken Arok," ( Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang,
Hari Sasongko )
Ketua DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dinilai cukup tepat
menetapkan Jokowi menjadi calon presiden pada Pilpres 2014 mendatang. Kinerja
dan tipe kepemimpinannya selama ini, kata dia, tak jauh beda dengan apa yang
pernah dilakukan Ken Arok, yang tercatat dalam sejarah. Sosok Ken Arok, tutur
dia, adalah warga sipil biasa, bukan lahir dari keturunan raja atau ningrat,
bukan juga keturunan darah biru.
Dalam buku sejarah Nasional kita diceritakan bagaimana sejarah Ken Arok
sebagai rakyat biasa hingga bisa menjadi seorang Maharaja yang waktu itu bisa
dikatakan tidak mungkin justru Ken Arok mencatatkan sejarahnya sendiri.
Sampai akhirnya diceritakan bahwa untuk mewujudkan ambisinya menguasai
Tumapel dan Ken Dedes sekaligus, maka ia harus membunuh Tunggul Ametung dan
seterusnya. Itu menurut guru sejarah kita jaman sekolah dulu yang merujuk teori
sejarahnya dari buku induk sebuah Naskah kuno yang berjudul “Kitab Pararaton”.
Kitab Pararaton adalah sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang
digubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman
seukuran folio yang terdiri dari 1126 baris. Isinya adalah sejarah raja-raja
Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur.
Naskah ini juga dikenal dengan nama “Pustaka Raja”, yang dalam bahasa
Sanskerta juga berarti “kitab raja-raja”. Tidak terdapat catatan yang
menunjukkan siapa Pun Naskah Pararaton ini. Kisah dalam Kitab Pararaton diawali
dengan cerita mengenai re-inkarnasi Ken Arok, sehingga ia bisa menjadi seorang
Raja, Pendiri Kerajaan Singhasari (1222–1292).
Diceritakan dalam Kitab tersebut bahwa Ken Arok menjadikan dirinya korban
persembahan (bahasa Sanskerta) bagi Yamadipati, dewa penjaga pintu neraka,
untuk mendapatkan keselamatan atas kematian. Sebagai balasannya, Ken Arok
mendapat karunia dilahirkan kembali sebagai raja Singhasari, dan di saat
kematiannya akan masuk ke dalam surga (Wisnu).
Selanjutnya hampir setengah kitab membahas bagaimana Ken Arok meniti
perjalanan hidupnya, sampai ia menjadi Raja pada tahun 1222. Penggambaran pada
naskah ini cenderung bersifat mistis. Cerita kemudian dilanjutkan dengan
bagian-bagian naratif pendek, yang diatur dalam urutan kronologis.
Begitu juga dengan Jokowi.
"Jokowi hanya pengusaha mebel biasa.
Bukan juga keturunan Soekarno. Tapi dalam diri Jokowi mengalir ideologi
Soekarno. Jokowi adalah anak ideologi Soekarno," (
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Hari Sasongko )
"Selain pemberani,
Ken Arok juga setia pada kesederhanaan. Ya, sama seperti Jokowi
saat ini. Ken Arok melakukan perlawanan
dibantu oleh pendeta Hindhu Siwa dan Buddha untuk mengalahkan Kerajaan Kediri,
yang saat itu berbasiskan Hindhu Wisnu," ( Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang,
Hari Sasongko )




Tidak ada komentar:
Posting Komentar