Perkembangan bisnisnya bagus, ia
dipercaya karena ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan
pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tak
pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri.
Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan
kontainer dan ia berjalan-jalan di Eropa.
Tidak seperti kebanyakan orang
Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto
sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi di Eropa berpikir reflektif. “Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat
manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang
gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan” lama ia
merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya “Ruang Kota dibangun dengan
Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran”. Tiga cara itulah yang
kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.
Setelah sukses di bisnis, Jokowi
berpikir “Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya” lalu ia mendapatkan
jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin
rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan
seluruh rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah
pertanggungjawaban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia
ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih pada bangsanya.
Ia masuk ke dalam dunia politik,
awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun
kidul tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan
‘bleger’ yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus,
ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi
Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu
saja, mereka mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi menang tipis.
Masyarakat mempercayainya dan ia
menjawabnya dengan “Kerja” ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi
tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada
selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda
sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi
masyarakat.
Suatu hari Jokowi didatangi Kepala
Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian
senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja “Gila apa aku
menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri…keluar kamu…!!” kepala
Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi
pada kepala Satpol PP perempuan itu “Kerjalan dengan bahasa cinta, kerna itu
yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa
pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal
bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah
Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta….”. Apakah di
Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta.
Tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang,
yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara
omongan hanya menghasilkan alasan”
Jokowi berangkat dalam alam paling
realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel.
Beruntung Indonesia masih memiliki Jokowi, pada Jokowi : “Merah Putih ada
harapan berkibar kembali dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.
.
Di bawah kepemimpinannya, Solo
mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan
menyetujui slogan Kota Solo yaitu "Solo: The Spirit of Java". Langkah
yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi
pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk
merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk
mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan
terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat.
Taman Balekambang, yang terlantar
semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak
segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya.
Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan
Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima
pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi
tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada
tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD)
yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk
dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di
komplek Istana Mangkunegaran. Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi
salah satu dari "10 Tokoh 2008"
Sikap rendah hati Walikota solo ini
tidaklah dibuat-buat. Bagi Masyarakat Solo, Jokowi adalah sosok pemimpin yang
sangat peduli dengan kehidupan mereka. Di lorong pasar dan jalan-jalan di Kota
Solo, Pak Jokowi sering sekali mengobrol dan mendengarkan keluh kesah rakyat
tanpa jarak. Ada satu fakta yang sangat mengejutkan, Jokowi belum pernah
mengambil gajinya selama menjabat sebagai seorang Walikota dan Mobil yang ia
pakai sebagai mobil dinas saat ini hanyalah "warisan" mobil dinas
pendahulunya yaitu Bapak Slamet Suryanto.Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang
berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto
Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau
bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.
Presiden seakan ingin mengorek-korek masa kecilnya di kampung itu. Di tempat kampung inilah, tepatnya di kawasan blok 10, Jokowi menghabiskan 12 tahun masa kecilnya. Namun, rumah yang pernah ditinggali Jokowi telah menjadi Pasar Ngudi Rejeki Gilingan. Kisah Jokowi kecil cukup banyak berserakan di kampung ini. Bahwa Jokowi kecil kerap lari terbirit saat orangtua memergokinya mandi di kali. Atau sekadar mencari telur bebek untuk kemudian di masak dengan kaleng bekas.
“Dulu dengan saya dan teman-teman
lainnya, Pak Jokowi sering bermain. Kami mandi di sungai dan mencari telur
bebek di Kali Anyar,” ujar Bandi, 59, tersenyum menceritakan kenangannya dengan
Jokowi.
Seringkali, Ibunda Jokowi maupun orang tua lainnya mencari mereka ke sungai. Jika sudah seperti itu, ujar Bandi, mereka akan secepatnya mengambil langkah seribu, pulang karena takut dimarahi.
Seringkali, Ibunda Jokowi maupun orang tua lainnya mencari mereka ke sungai. Jika sudah seperti itu, ujar Bandi, mereka akan secepatnya mengambil langkah seribu, pulang karena takut dimarahi.
Kepada Metrotvnews.com, pria yang berprofesi sebagai sopir itu bercerita, selisih umurnya dengan Jokowi sekira tujuh tahun. “Saya dulu manggilnya ‘Le’, dia manggil saya 'Mas'," kata dia.
Sejak Jokowi menjadi orang penting,
dia sungkan untuk menggunakan panggilan itu. "Saya tidak berani manggil
‘Le’. Walaupun pernah Pak Jokowi sendiri meminta saya manggil seperti panggilan
masa kecil,” ujarnya. Bandi tak ingat pasti kapan Jokowi dan keluarganya
tinggal di Candirejo Lor. Yang Bandi ingat, Jokowi pindah ke wilayah Sumber,
Banjarsari, Solo, pada 1971. Sejak itu, mereka jarang bertemu. "Tapi ia
masih suka main kemari,” imbuhnya.
Jokowi, kata Bandi, telah memiliki jiwa kepemimpinan sejak kecil. Selain dikenal cerdas dan pendiam, Jokowi juga kerap mendamaikan rekan-rekannya yang berkelahi.
Kalau temannya berkelahi, Jokowi memilih untuk tidak memihak. "Dia pilih pergi. Namun hari berikutnya dia beri solusi dan mendamaikan,” jelas Bandi. Di mata Bandi, tidak banyak berubah dari Jokowi. Terbukti ketika bertemu beberapa tahun lalu di Bandara Adi Soemarmo, Jokowi langsung merangkulnya.
Jokowi, kata Bandi, telah memiliki jiwa kepemimpinan sejak kecil. Selain dikenal cerdas dan pendiam, Jokowi juga kerap mendamaikan rekan-rekannya yang berkelahi.
Kalau temannya berkelahi, Jokowi memilih untuk tidak memihak. "Dia pilih pergi. Namun hari berikutnya dia beri solusi dan mendamaikan,” jelas Bandi. Di mata Bandi, tidak banyak berubah dari Jokowi. Terbukti ketika bertemu beberapa tahun lalu di Bandara Adi Soemarmo, Jokowi langsung merangkulnya.
“Saya cuma sopir, menjemput penumpang di bandara. Tak tahunya, dia mendatangi dan merangkul saya. Semua orang heran melihatnya,” pria itu menutup kisah dengan senyum. Dalam kunjungan itu, Presiden didampingi Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Jaswandi, Kapolda Jateng Irjen Condro Kirono dan Wali Kota Solo FX. Hadi Rudyatmo.
"Pak Jokowi dulu sama sekarang beda banget. Dulu itu
orangnya pendiam.
Tetapi beliau itu rajin, ia sering
menggarisbawahi dengan penggaris, materi-materi yang penting. Karena kepandaian
dan kerajinanannya itu, ia selalu jadi juara I, " ungkap Mahmud yang
sekarang berprofesi sebagai penyuplai perangkat mebel ini, seperti dilaporkan
kontributor BBC di Solo, Fajar Sodiq.
Mahmud mengingat Jokowi adalah pribadi yang tidak tertarik untuk
menonton adu jotos yang di masa itu acap terjadi.
"Pak Jokowi nggak mau kalau saya ajak lihat, beliau lebih
memilih tinggal di kelas, " kata Mahmud.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar