Jumat, 21 September 2018

Perkembangan Bisnis Kayu Presiden Jokowi ( BUKU SANG PRESIDEN RAKYAT ) By Adrian Indra


Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya karena ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontainer dan ia berjalan-jalan di Eropa.



Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi di Eropa berpikir reflektif. “Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan” lama ia merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya “Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran”. Tiga cara itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.

Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir “Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya” lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah pertanggungjawaban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih pada bangsanya.


Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan ‘bleger’ yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi menang tipis.

Masyarakat mempercayainya dan ia menjawabnya dengan “Kerja” ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi masyarakat.

Suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja “Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri…keluar kamu…!!” kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan itu “Kerjalan dengan bahasa cinta, kerna itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta….”. Apakah di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan”

Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel. Beruntung Indonesia masih memiliki Jokowi, pada Jokowi : “Merah Putih ada harapan berkibar kembali dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.
.
Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui slogan Kota Solo yaitu "Solo: The Spirit of Java". Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat.

Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya.

Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran. Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh 2008"

Sikap rendah hati Walikota solo ini tidaklah dibuat-buat. Bagi Masyarakat Solo, Jokowi adalah sosok pemimpin yang sangat peduli dengan kehidupan mereka. Di lorong pasar dan jalan-jalan di Kota Solo, Pak Jokowi sering sekali mengobrol dan mendengarkan keluh kesah rakyat tanpa jarak. Ada satu fakta yang sangat mengejutkan, Jokowi belum pernah mengambil gajinya selama menjabat sebagai seorang Walikota dan Mobil yang ia pakai sebagai mobil dinas saat ini hanyalah "warisan" mobil dinas pendahulunya yaitu Bapak Slamet Suryanto.Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.


Presiden seakan ingin mengorek-korek masa kecilnya di kampung itu. Di tempat kampung inilah, tepatnya di kawasan blok 10, Jokowi menghabiskan 12 tahun masa kecilnya. Namun, rumah yang pernah ditinggali Jokowi telah menjadi Pasar Ngudi Rejeki Gilingan. Kisah Jokowi kecil cukup banyak berserakan di kampung ini. Bahwa Jokowi kecil kerap lari terbirit saat orangtua memergokinya mandi di kali. Atau sekadar mencari telur bebek untuk kemudian di masak dengan kaleng bekas.

“Dulu dengan saya dan teman-teman lainnya, Pak Jokowi sering bermain. Kami mandi di sungai dan mencari telur bebek di Kali Anyar,” ujar Bandi, 59, tersenyum menceritakan kenangannya dengan Jokowi.
 Seringkali, Ibunda Jokowi maupun orang tua lainnya mencari mereka ke sungai. Jika sudah seperti itu, ujar Bandi, mereka akan secepatnya mengambil langkah seribu, pulang karena takut dimarahi.

Kepada Metrotvnews.com, pria yang berprofesi sebagai sopir itu bercerita, selisih umurnya dengan Jokowi sekira tujuh tahun. “Saya dulu manggilnya ‘Le’, dia manggil saya 'Mas'," kata dia.

Sejak Jokowi menjadi orang penting, dia sungkan untuk menggunakan panggilan itu. "Saya tidak berani manggil ‘Le’. Walaupun pernah Pak Jokowi sendiri meminta saya manggil seperti panggilan masa kecil,” ujarnya. Bandi tak ingat pasti kapan Jokowi dan keluarganya tinggal di Candirejo Lor. Yang Bandi ingat, Jokowi pindah ke wilayah Sumber, Banjarsari, Solo, pada 1971. Sejak itu, mereka jarang bertemu. "Tapi ia masih suka main kemari,” imbuhnya.

           Jokowi, kata Bandi, telah memiliki jiwa kepemimpinan sejak kecil. Selain dikenal cerdas dan pendiam, Jokowi juga kerap mendamaikan rekan-rekannya yang berkelahi.

Kalau temannya berkelahi, Jokowi memilih untuk tidak memihak. "Dia pilih pergi. Namun hari berikutnya dia beri solusi dan mendamaikan,” jelas Bandi. Di mata Bandi, tidak banyak berubah dari Jokowi. Terbukti ketika bertemu beberapa tahun lalu di Bandara Adi Soemarmo, Jokowi langsung merangkulnya.

“Saya cuma sopir, menjemput penumpang di bandara. Tak tahunya, dia mendatangi dan merangkul saya. Semua orang heran melihatnya,” pria itu menutup kisah dengan senyum.
Dalam kunjungan itu, Presiden didampingi Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Jaswandi, Kapolda Jateng Irjen Condro Kirono dan Wali Kota Solo FX. Hadi Rudyatmo.

Sejumlah temannya di kampung halamannya di Solo, bercerita tentang karakter, kebiasaan dan kesenangan Joko Widodo ketika masih belia. Salah-seorang berkisah ketika Jokowi naik pitam lantaran dijahili. Teman Jokowi satu bangku saat SMA, Mahmud Nur Windu, menceritakan masa-masa remaja bersama dengan Presiden Joko Widodo. Mahmud menjelaskan Jokowi adalah remaja yang pendiam. Jokowi juga orang yang rajin dan pandai.
"Pak Jokowi dulu sama sekarang beda banget. Dulu itu orangnya pendiam. 
 

      Tetapi beliau itu rajin, ia sering menggarisbawahi dengan penggaris, materi-materi yang penting. Karena kepandaian dan kerajinanannya itu, ia selalu jadi juara I, " ungkap Mahmud yang sekarang berprofesi sebagai penyuplai perangkat mebel ini, seperti dilaporkan kontributor BBC di Solo, Fajar Sodiq.
Mahmud mengingat Jokowi adalah pribadi yang tidak tertarik untuk menonton adu jotos yang di masa itu acap terjadi.
"Pak Jokowi nggak mau kalau saya ajak lihat, beliau lebih memilih tinggal di kelas, " kata Mahmud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FREDERIKUS GEBZE : "PRESIDEN JOKOWI DAN PEMIMPIN DUNIA"

  Berbagi Pengalaman dengan Generasi Muda Presiden Joko Widodo berbagi pengalamannya menjadi seorang wirausaha dalam acara ...