Jumat, 21 September 2018

Karakter dan Tipikal Kepemimpinan Indonesia dari Masa ke Masa By Adrian Indra



Karakter dan Tipikal Kepemimpinan    
Indonesia dari Masa ke Masa



1.            Karakter Presiden Indonesia
Gaya kepemimpinan, mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan. 


Menurut Tjiptono (2006) gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan pemimpin dalam berinteraksi dengan bawahannya. Sementara itu, pendapat lain menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku (kata-kata dan tindakan-tindakan) dari seorang pemimpin yang dirasakan oleh orang lain (Hersey, 2004).

Gaya kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih dan dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku para anggota organisasi bawahannya (Nawawi, 2003). Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Pimpinan adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual. 

Pemimpin-pemimpin kita, mulai dari Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno, Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto, Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, Mantan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid, Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri ,  Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono ,  dan saat sekarang Presiden Ir. H. Joko Widodo memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Sebagian masyarakat meninjau dari sisi baik, sebagian lainnya meninjaunya dari sisi buruk. 


Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno, dikenal sebagai seorang seorang pembicara ulung yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme rakyat. Beliau memiliki gaya kepemimpinan yang sangat populis, bertemperamen meledak-ledak, tidak jarang lembut, dan menyukai keindahan. Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno adalah tokoh yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno memiliki andil dalam penyusunan Pancasila, perumusan konstitusi negara, serta pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melalui diplomasi yang dilakukannya di PBB, Indonesia mulai mendapatkan tempat dan pengakuan kedaulatan di mata internasional. Namun, sebagian masyarakat menilainya terlalu western, pro PKI, ceroboh, dan kurang hati-hati dalam mengambil keputusan. Kebijakannya yang banyak menuai kritik adalah penerbitan Dekrit Presiden, konsep Nasakom, sikapnya yang lunak terhadap PKI, juga pengangkatan dirinya sebagai Presiden Seumur Hidup yang dinilai inkonstitusional.

Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto, dikenal sebagai bapak pembangunan. Gaya kepemimpinan Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto merupakan gabungan dari gaya kepemimpinan proaktif-ekstraktif dengan adaptif-antisipatif, yaitu gaya kepemimpinan yang mampu menangkap peluang dan melihat tantangan sebagai sesuatu yang berdampak positif serta mempunyai visi yang jauh ke depan dan sadar akan perlunya langkah-langkah penyesuaian. Ia berjasa atas pembangunan sekolah-sekolah, infrastruktur, fasilitas umum, dan pelayanan publik. Ia juga berjasa dalam pembangunan transportasi umum seperti PT. KAI, PT. PAL, PT. PINDAD. Bahkan, pada masa pemerintahannya, kita sempat memiliki industri pesawat terbang nasional. Namun, di sisi lain ia juga dikritik akan sikap diktator, penangkapan para aktivis HAM, pembunuhan massal tahun 1965, operasi militer di Aceh, dan keterlibatannya dalam kasus kolusi, korupsi, serta nepotisme. 

Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie memiliki gaya kepemimpinan dedikatif-fasilitatif, yang merupakan sendi dalam kepemimpinan demokratis. Pada masa pemerintahan Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, kebebasan pers dibuka lebar-lebar sehingga melahirkan demokratisasi yang lebih besar. Dalam penyelenggaraan negara, Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie pada dasarnya merupakan
seorang liberal karena latar belakang kehidupan dan pendidikan yang lama di dunia barat. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, Habibie mampu mengatasi krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998. Gaya komunikasinya penuh spontanitas, meletup-letup, dan responsif terhadap perubahan. Walau memiliki reputasi yang sangat baik di kalangan internasional sebagai seorang
peneliti, ia juga menuai kritikan karena keluguannya dalam berpolitik, termasuk sikapnya atas Timor-Timur.

Mantan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid, atau akrab disapa Gus Dur, memiliki gaya kepemimpinan responsif-akomodatif, yang berusaha untuk mengagregasikan semua kepentingan yang beraneka ragam, yang diharapkan dapat dijadikan menjadi satu kesepakatan atau keputusan yang memiliki keabsahan. Mantan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid berjasa dalam penanaman kesadaran generasi muda akan perlunya menjunjung tinggi pluralisme dan toleransi terhadap perbedaan ras atau golongan. Dimasanya, rakyat mulai sadar akan pentingnya penghargaan akan etnis, termasuk etnis Tionghoa. Namun, ia juga banyak menuai kritik karena sifatnya yang berubah-ubah, ceplas-ceplos, dan dinilai agak ngawur. Kebijakannya untuk membekukan MPR dianggap inkonstitusional dan tidak prosedural.

Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri , memiliki gaya kepemimpinan anti kekerasan. Dimasa pemerintahannya tidak terjadi banyak kasus besar atau konflik yang melibatkan massa. Ia memiliki andil dalam perbaikan fasilitas dan institusi kepolisian. Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri  merupakan sosok yang cukup demokratis, namun juga dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan cepat emosional. Ia alergi pada kritik. Komunikasinya didominasi oleh keluhan dan uneg-uneg, nyaris tidak pernah menyentuh visi, misi, atau kebijakan publik yang ia ambil. Pemerintahan Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri  minim prestasi. Ia juga dikritik atas penjualan saham beberapa BUMN serta aset-aset penting negara.

Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, memiliki gaya kepemimpinan responsif, demokratis, dan proaktif. Kebebasan berpendapat  dijunjung tinggi. Jika tadinya mengkritik pemerintah menjadi hal yang tabu, dimasa pemerintahannya tidak lagi.  Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono berjasa dalam pendirian KPK serta perbaikan mutu pendidikan melalui sertifikasi guru, kenaikan anggaran, dan program LPDP. Presiden Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono memiliki andil besar dalam recovery Aceh pasca bencana tsunami yang menewaskan sekitar 280.000 orang pada tahun 2004. Kebijakan fiskal dan perekonomian yang diambil pada masa kepemimpinan Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, membuat ekonomi Indonesia tumbuh menjadi nomor dua yang terkuat di Asia. Namun, pemerintahannya juga dikritik karena sikapnya yang dianggap peragu, lambat, dan terlalu defensif terhadap kritik.

Presiden Ir. H. Joko Widodo, dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang pro rakyat. Ia berjasa dalam dalam pembangunan infrastruktur dan transparansi birokrasi. Banyak hal yang tadinya sulit diurus karena harus melewati birokrasi yang berbelit-belit, kini telah bisa dilakukan secara online. Pengembangan one data (BIG), kebijakan pendaftaran
online untuk CPNS, pembayaran pajak, dan pengurusan imigrasi menciptakan birokrasi yang lebih bersih. Namun, ia juga menuai banyak kritik karena pemerintahannya yang terperangkap dalam politik oligarkis, tanggapannya mengenai  isu-isu SARA, dan sikapnya yang cenderung lambat dan gamang dalam memberikan solusi atas masalah-masalah negara.

Perbedaan gaya kepemimpinan adalah hal yang wajar. Juga perbedaan cara memerintah dan pandangan dalam berpolitik. Demokrasi tentu menghormati perbedaan pandangan politik. Namun, demokrasi juga lebih memilih integrasi (persatuan), ketimbang disintegrasi (perpecahan). Betul kita memiliki kebebasan untuk berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Namun, kebebasan itu juga tidak boleh memecah belah persatuan atau memperbesar kebencian antara pihak yang satu dengan pihak yang lain.

1.        Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno, Adalah bapak proklamator, seorang orator ulung yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Beliau memiliki gaya kepemimpinan yang sangat populis, bertempramen meledak-ledak, tidak jarang lembut dan menyukai keindahan. Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi yang mendasari negara atau partai,  sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yang juga menonjol dan Ir. Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan inovatif serta kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara Barat (Amerika dan Eropa).

Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan bangsanya. Namun berdasarkan perjalanan sejarah kepemimpinannya, ciri kepemimpinan yang demikian ternyata mengarah pada figur sentral dan kultus individu. Menjelang akhir kepemimpinannya terjadi tindakan politik yang sangat bertentangan dengan UUD 1945, yaitu mengangkat Ketua MPR (S) juga.

Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno  termasuk sebagai tokoh nasionalis dan anti-kolonialisme yang pertama, baik di dalam negeri maupun untuk lingkup Asia, meliputi negeri-negeri seperti India, Cina, Vietnam, dan lain-lainnya. Tokoh-tokoh nasionalis anti-kolonialisme seperti inilah pencipta Asia pasca-kolonial. Dalam perjuangannya, mereka harus memiliki visi kemasyarakatan dan visi tentang negara merdeka. Ini khususnya ada dalam dasawarsa l920-an dan 1930-an pada masa kolonialisme kelihatan kokoh secara alamiah dan legal di dunia. Prinsip politik mempersatukan elite gaya Soekarno adalah "alle leden van de familie aan een eet-tafel" (semua anggota keluarga duduk bersama di satu meja makan). Dia memperhatikan asal-usul daerah, suku, golongan, dan juga parta

2.          Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto
Diawali dengan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun 1966 kepada Letnan Jenderal Soeharto, maka Era Orde Lama berakhir diganti dengan pemerintahan Era Orde Baru. Pada awalnya sifat-sifat kepemimpinan yang baik dan menonjol dari Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto adalah kesederhanaan,  keberanian dan kemampuan dalam mengambil inisiatif dan keputusan, tahan menderita dengan kualitas mental yang sanggup menghadapi bahaya serta konsisten dengan segala keputusan yang ditetapkan.

Gaya Kepemimpinan Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto merupakan gabungan dari gaya kepemimpinan Proaktif-Ekstraktif dengan Adaptif-Antisipatif, yaitu gaya kepemimpinan yang mampu menangkap peluang dan melihat tantangan sebagai sesuatu yang berdampak positif serta mempunyal visi yang jauh ke depan dan sadar akan perlunya langkah-langkah penyesuaian.

Tahun-tahun pemerintahan Suharto diwarnai dengan praktik otoritarian di mana tentara memiliki peran dominan di dalamnya. Kebijakan dwifungsi ABRI memberikan kesempatan kepada militer untuk berperan dalam bidang politik di samping perannya sebagai alat pertahanan negara.

Demokrasi telah ditindas selama hampir lebih dari 30 tahun dengan mengatasnamakan kepentingan keamanan dalam negeri dengan cara pembatasan jumlah partai politik, penerapan sensor dan penahanan lawan-lawan politik. Sejumlah besar kursi pada dua lembaga perwakilan rakyat di Indonesia diberikan kepada militer, dan semua tentara serta pegawai negeri hanya dapat memberikan suara kepada satu partai penguasa Golkar Bila melihat dari penjelasan singkat di atas maka jelas sekali terlihat bahwa mantan Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter, dominan, dan sentralistis.

3.       Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie  Menjadi presiden bukan karena keinginannya. Hanya karena kondisi sehingga ia jadi presiden. Orang yang cerdas tapi terlalu lugu dalam politik. Karena ingin terlihat bagus, ia membuat blunder dalam masalah timor timur.Sebenarnya gaya kepemimpinan Presiden Habibie adalah gaya kepemimpinan Dedikatif-Fasilitatif, merupakan sendi dan Kepemimpinan Demokratik. Pada masa pemerintahan Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie ini, kebebasan pers dibuka lebar-lebar sehingga melahirkan demokratisasi yang lebih besar. Pada saat itu pula peraturan-peraturan perundang-undangan banyak dibuat. Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya Habiebi sangat terbuka dalam berbicara tetapi tidak pandai dalam mendengar, akrab dalam bergaul, tetapi tidak jarang eksplosif. Sangat detailis, suka uji coba. Dalam penyelengaraan Negara Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie pada dasarnya seorang liberal karena kehidupan dan pendidikan yang lama di dunia barat.

Gaya komunikasinya penuh spontanitas, meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa mau memikirkan risikonya. Tatkala Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie dalam situasi penuh emosional, ia cenderung bertindak atau mengambil keputusan secara cepat. Seolah ia kehilangan kesabaran untuk menurunkan amarahnya. Bertindak cepat, rupanya, salah satu solusi untuk menurunkan tensinya. Karakteristik. Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie digambarkan sebagai pribadi yang terbuka, namun terkesan mau menang sendiri dalam berwacana dan alergi terhadap kritik.

4.     Mantan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid Seorang kiai yang sangat liberal dalam pemikirannya, penuh dengan ide, sangat tidak disiplin, dan berkepemimpinan ala
LSM. Gaya kepemimpinan antan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid adalah gaya kepemimpinan Responsif-Akomodatif, yang berusaha untuk mengagregasikan semua kepentingan yang beraneka ragam yang diharapkan dapat dijadikan menjadi satu kesepakatan atau keputusan yang memihki keabsahan. Pelaksanaan dan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan diharapkan mampu menggerakkan partisipasi aktif para pelaksana di lapangan, karena merasa ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan kebijaksanaan.

Kehadiran antan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid sebagai RI 1 menimbulkan harapan untuk menyelesaikan berbagai persoalan baik ekonomi, politik, keamanan, dan ancaman disintegrasi yang timbul akibat krisis. antan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid membentuk Kabinet Persatuan Nasional yang menggambarkan rekonsiliasi antarkekuatan partai politik. 
Tujuannya memang mulia: menyatukan kekuatan yang untuk menyelamatkan bangsa dan negara disaat kepemimpinannyaBeliau ini awalnya memberikan banyak harapan untuk kemajuan Indonesia. Seolah bisa menjadi figur yang bisa diterima oleh berbagai kelompok didalam dan luar negeri. Tapi setelah menjadi presiden, bicaranya ngelantur tidak karu-karuan. Hari ini A, besok B lusa C. Sebagai rakyat aku sendiri ikut capai mikirin Negara di bawah antan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid ini. Orang seperti ini yang dianggap 1/2 wali oleh sebagian orang cukup berbahaya untuk memimpin bangsa. Beruntung MPR melengserkannya dari kursi presiden.

5.       Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri  Berpenampilan tenang dan tampak kurang acuh dalam menghadapi persoalan. Tetapi dalam hal-hal tertentu Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri  memiliki determinasi dalam kepemimpinannya, misalnya mengenai persoalan di BPPN, kenaikan harga BBM dan pemberlakuan darurat militer di Aceh Nanggroe Darussalam. Gaya kepemimpinan megawati yang anti kekerasan itu tepat sekali untuk menghadapi situasi bangsa yang sedang memanas.

Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri  lebih menonjolkan kepemimpinan dalam budaya ketimuran. Ia cukup lama dalam menimbang-nimbang sesuatu keputusan yang akan diambilnya. Tetapi begitu keputusan itu diambil, tidak akan berubah lagi. Gaya kepemimpinan seperti bukanlah suatu kelemahan. Seperti dikatakan oleh Frans Seda: " Dia punya intuisi tajam. Sering kita berpikir, secara logika, menganalisa fakta-fakta, menyodorkan bukti-bukti, tapi tetap saja belum pas. Di saat itulah Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri  bertindak berdasarkan intuisinya, yang oleh orang-orang lain tidak terpikirkan sebelumnya."  Cukup demokratis, tapi pribadi Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri  dinilai tertutup dan cepat emosional. Ia alergi pada kritik. Komunikasinya didominasi oleh keluhan dan uneg-uneg, nyaris tidak pernah menyentuh visi misi pemerintahannya

6.       Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono Beliau ini presiden pertama yang dipilih oleh rakyat. Orangnya mampu dan bisa menjadi presiden. Juga cukup bersih, kemajuan ekonomi dan stabilitas negara terlihat membaik. Sayang tidak mendapat dukungan yang kuat di Parlemen. Membuat beliau tidak leluasa mengambil keputusan karena harus mempertimbangkan dukungannya di parlemen. Apalagi untuk mengangkat kasus korupsi dari orang dengan back ground parpol besar, beliau keliahatan kesulitan. Sayang sekali saat Indonesia punya orang yang tepat untuk memimpin, parlemennya dipenuhi oleh begundal-begundal oportunis yang haus uang sogokan. Pembawaan Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, karena dibesarkan dalam lingkungan tentara dan ia juga berlatar belakang tentara karir, tampak agak formal. Kaum ibu tertarik kepada SBY karena ia santun dalam setiap penampilan dan apik pula berbusana. Penampilan semacam ini meningkatkan citra Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono  di mata masyarakat.

Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemimpin yang mampu mengambil keputusan kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Sangat jauh dari anggapan sementara kalangan yang menyebut Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono  sebagai figur peragu, lambat, dan tidak "decisive" (tegas). Sosok yang demokratis, menghargai perbedaan pendapat, tetapi selalu defensif terhadap kritik. Hanya sayang, konsistensi Yudhoyono dinilai buruk. Ia dipandang sering berubah-ubah dan membingungkan publik.
1.                   Karakter Kepemimpinan  Presiden Ir. H. Joko Widodo  Berikut Sifat-sifat atau karakter  Presiden Ir. H. Joko  Widodo yang disukai jutaan orang Indonesia.

Rendah Hati

Dari seluruh sifat Presiden Ir. H. Joko Widodo yang paling disenangi adalah sikapnya yang rendah hati, ia terlihat tidak pernah bicara sinis, ia selalu membungkuk bila bertemu orang, ia menyalami siapa saja, dan ia ‘ngajeni’ (bhs jawa = menghormati) siapapun. Banyak kawan saya di Solo berkata pada saya dan memberikan kesaksian bahwa memang karakter dia begitu, siapa saja dia sapa, dan bertanya kabarnya, ini adalah karakter orang Jawa dari sisi rakyat jelata yang guyub dan tidak memandang jabatan, ia lebih memandang jabatan sebagai ‘Kerja’ bukan status sosial, jadi ia tidak merasa lebih dari orang lain.

Presiden Ir. H. Joko Widodo tidak suka merendahkan orang lain, ia selalu memuji tapi juga tegas, tampaknya Presiden Ir. H. Joko Widodo menggunakan bahasa yang menyenangkan lawan bicaranya, ia tidak merasa dirinya harus dilayani, ia bahkan sering merasa harus melayani orang. Karakter melayani ini mungkin sudah terbentuk sejak masa ia kecil, masa ia tumbuh, ia lahir dalam kondisi miskin dan satu-satunya bertahan hidup adalah dengan melayani orang lain, ia bekerja untuk membiayai sekolahnya, ia bertanggung jawab pada dirinya dan mungkin ia tau betapa susahnya menjadi orang miskin, betapa nggak enaknya ‘dadi wong ra nduwe’ (jadi orang nggak punya)yang mungkin dihina orang, dianggap sebelah mata, maka ketika hidupnya makmur ia takut untuk menghina orang, lalu ia tidak dendampada masa lalunya yang miskin, justru menghargai orang miskin, status manusia tidak dilihat dari hartanya, tapi apakah ia berguna bagi orang banyak, apakah kerjanya bermanfaat bagi orang banyak, ia mungkin tau rasanya disakiti oleh sikap sombong, sebab itu ia rendah hati, andap asor, ia memanusiakan manusia, senang bicara secara bersahabat. Di titik ini ia tidak pernah merasa lebih dari orang lain, kelihatan sekali dari cara bicara dan tindakannya.

Tulus
Sikap yang tulus dari seseorang adalah dilihat saja dari caranya bicara, caranya bekerja, biasanya orang yang tulus bekerja tanpa beban dan tidak direpotkan pada hal-hal yang artifisial, orang yang tulus tidak pernah berpikir macam-macam ‘kerja ya kerja’ ndak usah ada hidden agenda, trik-trik dan segala apapun yang membuat dirinya diuntungkan dan merugikan banyak orang.  Karakter dasar Tulus Presiden Ir. H. Joko Widodo ini dilihat dari cara ia bekerja untuk rakyat banyak, hal paling menonjol adalah ketika ia tidak mengambil gajinya. Disaat pejabat Negara habis-habisa menggarong dana APBN atau APBD lewat proyek-proyek tender yang di mark up, Jokowi tidak mengambil gajinya, ini mungkin kelihatan sepele, tapi coba anda ingat-ingat kembali, bukankah Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono sendiri pernah mengeluh gajinya tidak dinaikkan. Presiden Ir. H. Joko Widodo tidak pernah meributkan gaji, bahkan ia melupakannya, dari sisi ini untuk pembelajaran publik bahwa ia bekerja dengan tulus. ‘Boro-boro memperkaya diri dari mark up proyek dari gaji saja dia tidak mau ambil.
 Ketulusan dia bekerja ini kemudian membawa prestasi yang luar biasa bagi Kota Solo, ia dengan cepat mengubah keadaan dan membangun landasan perubahan revolusioner menjadikan kota Solo yang tadinya dianggap kota kecil dan hanya dibawah bayang-bayang kota Semarang dan Yogya, kini sebagai kota modern tapi berkebudayaan, bahkan Solo sekarang lebih dikenal daripada Semarang dan Yogyakarta.

Sederhana Dalam Tingkah dan Bicara
Karakter yang paling disukai dari Presiden Ir. H. Joko Widodo bagi jutaan rakyat Indonesia adalah sikapnya yang ‘sederhana dalam tingkah dan bicara’. Ia tidak berlebihan, ia tidak sok Nginggris (sok ngomong Inggris separuh-separuh) seperti SBY, tidak memakai baju yang amat mahal, ia pakai pakaian sederhana, sepatunya sederhana, tidak pernah pamer kekayaan. Kita sering miris bahwa ditengah rakyat banyak yang lapar banyak pejabat tak tau malu pamer pesta pernikahan besar-besaran, bagaimana perasaan kita bila melihat ada seorang anak kelaparan, ada seorang anak memikul dagangan bakso, atau anak mencari rejeki dengan mengais-ngais sampah, sementara pemimpinnya menikahkan anaknya dengan Pancuran coklat setinggi 5 meter? Dan anak yang lapar itu melihat dari tontonan di teve hanya makan ikan asin dan tahu?, Bagaimana perasaan kepemimpinan model beginian?  Presiden Ir. H. Joko Widodo paham bahwa dengan bersikap sederhana ia mengajarkan tidak hidup dalam bui rasa gengsi, rasa gengsi-lah yang membuat hidup jadi mahal, hidup apa adanya, tak usah pamer, mobil dinasnya pun mobil Camry lama, ia tak rewel, kemudian ia pakai mobil Esemka, kalau ke Jakarta untuk keperluan dinas ia hanya naik taksi Ekspress tak pakai mobil mewah. Disini iamemang melakukan pencitraan, karena dengan kekayaannya ia bisa  saja membeli mobil sedan teranyar berharga diatas 1 milyar, tapi untuk apa beli kalau kemudian di dalam mobil ia melihat bangsanya masih banyak yang lapar dan susah, dalam kesederhanan ia bersatu dalam lumpur kesengsaraan masyarakat banyak.

Tidak Pendendam
Karakter yang disukai Presiden Ir. H. Joko Widodo banyak orang adalah ‘Tidak Pendendam’. Ia tidak pernah membalas ucapan-ucapan yang merendahkan dirinya bahkan ia merasa setiap ucapan yang merendahkan adalah berkah Tuhan yang ‘harus’ ia terima saja. Mungkin publik masih banyak ingat tentang ucapan Gubernur Jawa Tengah saat ribut-ribut eks Gudang Es Sari Petodjo di Kota Solo yang mau dibangunken mall tapi Jokowi menolak, lalu Presiden Ir. H. Joko Widodo dibilang “Walikota Goblok” oleh Gubernur Semarang, Presiden Ir. H. Joko Widodo tidak membalas dengan ucapan pedas tapi dengan ucapan yang santai namun tak dimasukkan ke hati “Lha, memang saya orang Goblok” kata Presiden Ir. H. Joko Widodo sambil ketawa-ketawa. Dan Presiden Ir. H. Joko Widodo  jalan terus dengan keyakinannya, ia tidak mendendam tapi sekaligus tak plin plan. Karakter ini tak banyak dipunyai pejabat sekarang yang arogan, banyak dari pejabat publik atau wakil rakyat yang ditonton banyak orang seperti di Indonesian Lawyer Club asuhan Karni Ilyas di TV One, memamerkan arogansinya, disenggol sedikit marah, kelihatan maen bener sendiri, pinter bicara tapi tanpa tindakan dan selalu menyimpan dendam sampai dendam itu dibawa main hantam pukul-pukulan ditonton rakyat banyak.

Sekarang saat menjelang Putaran II, Presiden Ir. H. Joko Widodo dijelek-jelekkan terus asal usulnya difitnah ini itu, tuduhan yang nggak ada hubungannya dengan prestasi kerja, dan sebagainya terus dihembus-hembuskan untuk menyampaikan kebencian kepada kelompok yang belum menerima informasi siapa Presiden Ir. H. Joko Widodo1. Tapi Presiden Ir. H. Joko Widodo tidak dendam tidak membalas dengan cara jahat tapi ia membalasnya dengan sikap diam saja, ia sabar dalam menerima cobaan, mungkin ia paham prinsip keberhasilan hidup seseorang : ‘Ketika seseorang diuji kesabarannya maka ia sedang diangkat derajatnya oleh Tuhan, orang yang direndahkan adalah orang yang ketika diuji kesabarannya tapi malah menyimpan dendam” dan Presiden Ir. H. Joko Widodo tak pernah menyimpan dendam, kejadian yang sudah ya sudah, cukup jadi pelajaran tapi tak boleh membalas dengan kejahatan baru, balas dengan kebaikan. Buktinya setelah dikata-katain Goblok oleh boss-nya di Semarang, ia malah ke DKI dan menjadi walikota paling terkenal sepanjang sejarah Republik Indonesia. Tuhan sudah mengangkat derajatnya.


Pekerja Keras

Karakter yang paling menonjol dari Presiden Ir. H. Joko Widodo adalah pekerja keras, ia cepat mematerialkan sesuatu dari nggak ada jadi ada dengan kerja kerasnya,cara kerja Presiden Ir. H. Joko Widodo  amat mirip dengan Obama dalam soal pemecahan masalah, ‘Selesaikan mulai dari inti persoalannya’ – Presiden Ir. H. Joko Widodo amat efektif soal waktu, ia sedari kecil harus menyelesaikan persoalan dengan cepat, karena setiap persoalan yang ditunda-tunda akan menghabiskan biaya dan energi, sementara ia tau dirinya orang miskin, jadi harus irit, demikian juga soal kerja.
Dalam bekerja Presiden Ir. H. Joko Widodo tampaknya menganut ilmu menanam Padi. “Barangsiapa menanam padi, pasti ada rumput yang mengikuti, tapi barang siapa menanam rumput tak mungkin ada padi yang mengikuti”. Artinya : Orang yang menanam kebaikan, pasti ada keburukan-keburukan baik sengaja atau tak sengaja, tapi orang yang menanamkan keburukan sudah pasti tak ada hal baik yang mengikuti”. Baginya kerja adalah menanam perbuatan, dan perbuatan pasti ada imbal hasilnya dari apa yang kita lakukan.  Kerja Presiden Ir. H. Joko Widodo dilandasi nilai-nilai baik, ia jujur dan dipercaya, ia juga bekerja keras, bila ia tak jujur mana ada orang Jerman percaya untuk ekspor meubel, di kalangan eksportir paling mengerti kalo orang Jerman itu amat keras soal kepercayaan.

Presiden Ir. H. Joko Widodo mau terjun langsung ke wilayah-wilayah, ia ngider tanpa capek, ia tenggelam dalam kerjanya rakyat, ingin tau rakyat kerjanya apa. Dari sini ia mempelajari bagaimana karakter orang dalam melihat masyarakatnya, lalu dengan kerja kerasnya ia bentuk sistem terpadu dimana akses-akses kesejahteraan bisa dibentuk. Presiden Ir. H. Joko Widodo tidak sekedar bekerja keras saja, tapi ia kerja cerdas. Pembagian kartu kesehatan adalah contoh bagaimana ia secara sederhana menerapkan kerja cerdas. Ia memotong jalur birokrasi, bila dulu anggaran diendapkan sampai ada klaim asuransi Pemerintah dan jalur birokrasi yang panjang sehingga berpotensi disalahgunakan.


Maka dengan membuat kartu kesehatan ia penyelenggarakan asuransi publik dimana kaum miskin tidak usah mengeluarkan surat miskin tapi sudah memiliki jaminan  kesehatan langsung tanpa birokrasi yang berbelit-belit. Ia bekerja cepat, tanggap dan efisien, persoalan KTP yang berjangka waktu 2 minggu ia efektifkan jadi dua jam, gratis berarti disini Presiden Ir. H. Joko Widodo tidak melakukan intervensi pemerintah atas jam kerja masyarakat.

Presiden Ir. H. Joko Widodo bekerja keras soal efisiensi angkutan-angkutan pasar, efisiensi ketersediaan barang dan memastikan jangan ada hambatan komoditas masuk ke pasar-pasar, efektifitas ini menghasilkan tingkat inflasi yang rendah, bahkan rendahnya tingkat inflasi ini mendapatkan penghargaan dari Hatta Rajasa, dan mendapatkan pengakuan resmi dari Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Prinsip kerja Presiden Ir. H. Joko Widodo  yang membuat dia berhasil seperti ini adalah : -Kerjalah dari hal sederhana dulu, selesaikan persoalan-persoalan sederhana, tidak usah berpikir muluk-muluk yang penting kerja dan hasilkan yang riil-. Presiden Ir. H. Joko Widodo benar sekali karena ada adagium dalam soal kerja : 
“Sesuatu yang rumit biasanya dimulai dari persoalan-persoalan yang amat sederhana”. Jadi bila menunda-nunda pekerjaan yang sederhana sampai terbengkalai maka persoalan rumit akan timbul. Presiden Ir. H. Joko Widodo  tak suka itu, ia juga tak terlalu mengawang-awang, apa persoalan depan mata selesaikan dengan cepat, soal lain muncul nanti dipikirkan.

Komunikatif

Presiden Ir. H. Joko Widodo  rupanya sangat memahami ilmu komunikasi, dari sisi ini ketrampilannya yang terbesar adalah cara berdialog dan bernegosiasi. Kalau dilihat dari cara bahasanya, ia memang amat khas Solo, cara bicaranya ‘Ngglenik’ atau akrab tanpa batas kepada lawan bicaranya, ini cara khas rakyat jelata bila sedang kongkow. Presiden Ir. H. Joko Widodo  tidak mengasingkan dirinya seperti seorang bangsawan yang sakral ketika bicara dengan masyarakat yang dipimpinnya, ia masuk ke dalam alam pemikiran lawan bicaranya dengantenggelam dalam alam bawah sadar mereka.
'Jika berbicara dengan orang lain, gunakanlah bahasa orang itu dalam memahami alam pikir mereka’ itu kata Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno saat memberikan wejangan kepada wartawan tentang bagaimana berkomunikasi yang baik “Bila kamu bicara dengan tukang becak, pahami alam pikir tukang becak, pahami bagaimana ia berbicara soal kesehariannya, cara mereka berbahasa, ukuran-ukuran intelektual mereka, bila kamu sudah masuk ke dalam gelombang yang sama dengan cara mereka bicara dari situlah kamu bisa berkomunikasi” Prinsip Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno ini digunakan Presiden Ir. H. Joko Widodo  dalam memahami cara berkomunikasi dengan rakyatnya, ucapannya yang ia lontarkan jelas, padat dan tak perlu dicerna rumit-rumit.

Bila Donald Trump mengajarkan cara bernegosiasi ‘Win Win Solution’maka ini diterapkan dengan amat sangat oleh Jokowi, metode ‘Win Win Solution + rasa kemanusiaan’. Di dalam negosiasi dengan pekerjaannya Jokowi di satu sisi bisa bersikap tegas, tapi juga bersikap amat sabar. –Sebagai misal saat ia berhadapang dengan Camat dan Lurah yang masih bandel soal KTP. Ia dengan tegas mencopot pejabat yang gagal dalam melaksanakan efektifitas pelaksanaan KTP. Tapi disisi lain ia bisa amat sabar bernegosiasi dengan pihak masyarakat. Presiden Ir. H. Joko Widodo  duduk satu meja dengan para pedagang klitikan, ia tak bicara apa-apa soal pasar, ia hanya bicara sebagai teman. Berbeda saat Jokowi berhadapan dengan aparat yang bandel, ia sudah tau posisi “Siapa yang berkuasa dan apa maunya orang ini” tapi ketika berbicara dengan rakyat ia tidak bertanya “Siapa yang berkuasa” karena ia paham yang berkuasa jelas rakyat dan ia pelaksana, maka ia bertindak sebagai seorang bawahan yang sedang memahami apa maunya atasan. Ia undang makan para boss-nya itu untuk makan bersama, sampai puluhan kali, di undangan ke 54 barulah Jokowi mengutarakan maksudnya, itupun masih ada penentangan tapi tak keras, karena selama 53 pertemuan sebelumnya, Presiden Ir. H. Joko Widodo  sudah menangkap bagaimana karakter masyarakat-nya dalam melihat persoalan pemindahan pasar. Disini Jokowi menerapkan komunikasi empati plus integratif, artinya : ia masuk ke dalam penghormatan dan tenggelam dari apa maunya rakyat. Seperti katanya "Rakyat adalah gudangnya gagasan. Pemimpin jangan sok pinter. Kita cuma eksekutor,"
Taktis

Satu sikap yang disukai oleh masyarakat kepada Jokowi adalah kemampuannya dalam berpikir taktis, di satu sisi ia bisa berpikir sosialis yaitu : melakukan tindakan-tindakan kolektif dimana kekayaan negara bisa diarahkan untuk kesejahteraan rakyat banyak. Di satu sisi Presiden Ir. H. Joko Widodo  sangat taktis dalam berbisnis, ia amat berotak bisnis, dan otaknya untuk ini amat moncer.

Ketika Faisal Basri harus menjual rumahnya untuk biaya kampanye, maka Presiden Ir. H. Joko Widodo mengajarkan berpikir ‘Keluar Kotak’ untuk apa kita harus menjual asset, nilai lebih kita harus jadi aktiva aktif. Disini Presiden Ir. H. Joko Widodo  menunjukkan dirinya bukan orang yang pandai berteori, tapi orang yang langsung aplikatif, ia beli baju yang bisa merumuskan dirinya pada posisi ingatan masyarakat, lalu baju ini dijual, ia tingkatkan partisipatif publik, ia tak perlu keluar banyak untuk kampanye karena cluster-cluster kampanye dengan sendirinya bergerak, ia ajarkan masyarakat sebagai produsen politik, bukan konsumen politik.

Presiden Ir. H. Joko Widodo  juga orang yang amat pandai melihat masalah dan anatominya serta dengan cepat menyusun posisi. Seperti banyak orang meremehkan bahwa kota Solo homogen, kota Solo kecil dan sebagainya. Jokowi hanya menjawab santai : “Solo kan masih Indonesia, Jakarta juga masih Indonesia juga kan?” Jawaban Jokowi yang terkesan simpel justru memperlihatkan sikap taktisnya dalam menghadapi masalah, ia paham Solo kota kecil tapi orang banyak tak tau Solo adalah kota paling plural dalam soal ideologis, tempat dimana kejadian-kejadian besar politik di Indonesia bermula, tempat paling parah bila terjadi pergolakan politik, ini bisa saksikan dan periksa dalam sejarah kota Solo, artinya : Di Solo tempat orang-orang yang memiliki karakteristik amat Jakarta, bahkan mungkin lebih ideologis ketimbang orang Jakarta yang pragmatis.

Seperti  ungkapan Soros : “Siapa yang bisa menaklukkan New York maka ia bisa menaklukkan dunia”. Ini sama saja dengan ungkapan : “Siapa bisa menaklukkan Solo maka ia bisa menaklukkan Indonesia”. Perlu diingat dalam sejarah bahwa kota Solo adalah pusat pergolakan politik, sejak peristiwa Swapradja yang digerakkan Tan Malaka tahun 1946, Peristiwa masuknya tentara Siliwangi ke Solo sehingga menimbulkan pertempuran di Srambatan dan berujung pada peristiwa Madiun 1948, peristiwa Gestapu 65 sehingga terjadi pembantaian besar-besaran ketika pasukan RPKAD masuk ke kota Solo, persoalan rasial tahun 1981, pembakaran besar-besaran seluruh kota tahun jaman reformasi 1998, Solo adalah kota yang paling pendek sumbunya untuk meledak dibandingkan kota-kota lain.

Tapi oleh Presiden Ir. H. Joko Widodo  dengan langkah yang cerdas, taktis dan strategis ia menempatkan Solo menjadi kota yang harmoni, nyaman, aman, dan saling menghargai, apapun bentuk potensi kerusuhan di Kota Solo bisa diatasi dengan cepat, karena kemampuan taktis Jokowi dalam menempatkan dirinya di tengan masyarakat.



Berbihinneka
Karakter Berbhinneka Jokowi amat disukai jutaan orang Indonesia, Presiden Ir. H. Joko Widodo  mengajarkan dalam ruang publik dan tata pemerintahan yang rasional tidak baik mengedepankan sentimen identitas seperti agama, suku dan status sosial tapi kedepankanlah prestasi, kedepankanlah nilai-nilai kejujuran dan etika, serta membawa rasionalitas ke dalam tataran perjuangan politik sehingga rakyat diajari dalam memilih ukuran-ukuran rasional-lah yang dikedepankan bukan ukuran-ukuran kuasa Tuhan seperti Agama, Suku dan Status Sosial.

Berkenalan langsung dengan pribadi Pak Jokowi melalui tulisan tangannya adalah salah satu cara untuk menjawab beberapa pertanyaan rakyat Jakarta khususnya tentang bagaimana nasib DKI untuk 5 tahun ke depan dengan konsep Jakarta Baru yang diusungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FREDERIKUS GEBZE : "PRESIDEN JOKOWI DAN PEMIMPIN DUNIA"

  Berbagi Pengalaman dengan Generasi Muda Presiden Joko Widodo berbagi pengalamannya menjadi seorang wirausaha dalam acara ...