Karakter dan Tipikal Kepemimpinan
Indonesia dari Masa ke Masa
1.
Karakter
Presiden Indonesia
Gaya
kepemimpinan, mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari
seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan
tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu. Pengertian gaya
kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh
Davis dan Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara
keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal
sebagai gaya kepemimpinan.
Menurut
Tjiptono (2006) gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan pemimpin
dalam berinteraksi dengan bawahannya. Sementara itu, pendapat lain menyebutkan
bahwa gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku (kata-kata dan
tindakan-tindakan) dari seorang pemimpin yang dirasakan oleh orang lain
(Hersey, 2004).
Gaya
kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih dan dipergunakan pemimpin
dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku para anggota
organisasi bawahannya (Nawawi, 2003). Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat
bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen,
yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan
tersebut diwujudkan. Pimpinan adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang
lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan
sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika
pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai
keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan
konseptual.
Pemimpin-pemimpin kita, mulai dari Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno, Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto, Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, Mantan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid, Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri , Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono , dan saat sekarang Presiden Ir. H. Joko Widodo memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Sebagian masyarakat meninjau dari sisi baik, sebagian lainnya meninjaunya dari sisi buruk.
Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno, dikenal sebagai seorang seorang pembicara
ulung yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme rakyat. Beliau memiliki
gaya kepemimpinan yang sangat populis, bertemperamen meledak-ledak, tidak
jarang lembut, dan menyukai keindahan. Mantan Presiden Dr. Ir. H.
Soekarno adalah tokoh
yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno memiliki andil dalam penyusunan Pancasila,
perumusan konstitusi negara, serta pembentukan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Melalui diplomasi yang dilakukannya di PBB,
Indonesia mulai mendapatkan tempat dan pengakuan kedaulatan di mata
internasional. Namun, sebagian masyarakat menilainya terlalu western, pro PKI,
ceroboh, dan kurang hati-hati dalam mengambil keputusan. Kebijakannya yang
banyak menuai kritik adalah penerbitan Dekrit Presiden, konsep Nasakom,
sikapnya yang lunak terhadap PKI, juga pengangkatan dirinya sebagai Presiden
Seumur Hidup yang dinilai inkonstitusional.
Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto, dikenal sebagai bapak pembangunan. Gaya
kepemimpinan Mantan Presiden Jenderal
Besar TNI H. M. Soeharto merupakan
gabungan dari gaya kepemimpinan proaktif-ekstraktif dengan adaptif-antisipatif,
yaitu gaya kepemimpinan yang mampu menangkap peluang dan melihat tantangan
sebagai sesuatu yang berdampak positif serta mempunyai visi yang jauh ke depan
dan sadar akan perlunya langkah-langkah penyesuaian. Ia berjasa atas
pembangunan sekolah-sekolah, infrastruktur, fasilitas umum, dan pelayanan publik.
Ia juga berjasa dalam pembangunan transportasi umum seperti PT. KAI, PT. PAL,
PT. PINDAD. Bahkan, pada masa pemerintahannya, kita sempat memiliki industri pesawat
terbang nasional. Namun, di sisi lain ia juga dikritik akan sikap diktator,
penangkapan para aktivis HAM, pembunuhan massal tahun 1965, operasi militer di
Aceh, dan keterlibatannya dalam kasus kolusi, korupsi, serta nepotisme.
Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie memiliki gaya kepemimpinan
dedikatif-fasilitatif, yang merupakan sendi dalam kepemimpinan demokratis. Pada
masa pemerintahan Mantan Presiden Prof. Dr.
Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie,
kebebasan pers dibuka lebar-lebar sehingga melahirkan demokratisasi yang lebih
besar. Dalam penyelenggaraan negara, Mantan Presiden Prof. Dr.
Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie
pada dasarnya merupakan
seorang liberal
karena latar belakang kehidupan dan pendidikan yang lama di dunia barat. Hanya
dalam kurun waktu dua tahun, Habibie mampu mengatasi krisis ekonomi yang
melanda Indonesia pada tahun 1998. Gaya komunikasinya penuh spontanitas,
meletup-letup, dan responsif terhadap perubahan. Walau memiliki reputasi yang
sangat baik di kalangan internasional sebagai seorang
peneliti, ia juga
menuai kritikan karena keluguannya dalam berpolitik, termasuk sikapnya atas
Timor-Timur.
Mantan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid, atau akrab disapa Gus Dur, memiliki gaya
kepemimpinan responsif-akomodatif, yang berusaha untuk mengagregasikan semua
kepentingan yang beraneka ragam, yang diharapkan dapat dijadikan menjadi satu
kesepakatan atau keputusan yang memiliki keabsahan. Mantan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid
berjasa dalam penanaman kesadaran generasi muda akan perlunya menjunjung tinggi
pluralisme dan toleransi terhadap perbedaan ras atau golongan. Dimasanya,
rakyat mulai sadar akan pentingnya penghargaan akan etnis, termasuk etnis
Tionghoa. Namun, ia juga banyak menuai kritik karena sifatnya yang
berubah-ubah, ceplas-ceplos, dan dinilai agak ngawur. Kebijakannya untuk
membekukan MPR dianggap inkonstitusional dan tidak prosedural.
Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati
Soekarnoputri , memiliki gaya
kepemimpinan anti kekerasan. Dimasa pemerintahannya tidak terjadi banyak kasus
besar atau konflik yang melibatkan massa. Ia memiliki andil dalam perbaikan
fasilitas dan institusi kepolisian. Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah
Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri merupakan sosok yang cukup demokratis, namun
juga dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan cepat emosional. Ia alergi pada
kritik. Komunikasinya didominasi oleh keluhan dan uneg-uneg, nyaris tidak
pernah menyentuh visi, misi, atau kebijakan publik yang ia ambil. Pemerintahan Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati
Soekarnoputri minim prestasi. Ia juga dikritik atas
penjualan saham beberapa BUMN serta aset-aset penting negara.
Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang
Yudhoyono, memiliki gaya
kepemimpinan responsif, demokratis, dan proaktif. Kebebasan berpendapat dijunjung tinggi.
Jika tadinya mengkritik pemerintah menjadi hal yang tabu, dimasa
pemerintahannya tidak lagi. Mantan Presiden Jenderal TNI
Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
berjasa dalam pendirian KPK serta perbaikan mutu pendidikan
melalui sertifikasi guru, kenaikan anggaran, dan program LPDP. Presiden Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang
Yudhoyono memiliki andil
besar dalam recovery Aceh pasca bencana tsunami yang menewaskan sekitar
280.000 orang pada tahun 2004. Kebijakan fiskal dan perekonomian yang diambil
pada masa kepemimpinan Mantan Presiden Jenderal TNI
Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono,
membuat ekonomi Indonesia tumbuh menjadi nomor dua yang terkuat di Asia. Namun,
pemerintahannya juga dikritik karena sikapnya yang dianggap peragu, lambat, dan
terlalu defensif terhadap kritik.
Presiden Ir. H. Joko
Widodo, dikenal
memiliki gaya kepemimpinan yang pro rakyat. Ia berjasa dalam dalam pembangunan
infrastruktur dan transparansi birokrasi. Banyak hal yang tadinya sulit diurus
karena harus melewati birokrasi yang berbelit-belit, kini telah bisa dilakukan
secara online. Pengembangan one data (BIG), kebijakan pendaftaran
online untuk
CPNS, pembayaran pajak, dan pengurusan imigrasi menciptakan birokrasi yang
lebih bersih. Namun, ia juga menuai banyak kritik karena pemerintahannya yang
terperangkap dalam politik oligarkis, tanggapannya mengenai isu-isu
SARA, dan sikapnya yang cenderung lambat dan gamang dalam memberikan solusi
atas masalah-masalah negara.
Perbedaan
gaya kepemimpinan adalah hal yang wajar. Juga perbedaan cara memerintah dan
pandangan dalam berpolitik. Demokrasi tentu menghormati perbedaan pandangan
politik. Namun, demokrasi juga lebih memilih integrasi (persatuan), ketimbang
disintegrasi (perpecahan). Betul kita memiliki kebebasan untuk berekspresi dan
mengeluarkan pendapat. Namun, kebebasan itu juga tidak boleh memecah belah
persatuan atau memperbesar kebencian antara pihak yang satu dengan pihak yang
lain.
1. Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno, Adalah
bapak proklamator, seorang orator ulung yang bisa membangkitkan semangat
nasionalisme rakyat Indonesia. Beliau memiliki gaya kepemimpinan yang sangat
populis, bertempramen meledak-ledak, tidak jarang lembut dan menyukai
keindahan. Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno berorientasi pada moral dan etika ideologi
yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat fanatik,
cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yang juga menonjol dan
Ir. Mantan Presiden Dr. Ir. H.
Soekarno adalah percaya
diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan inovatif serta kaya akan
ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi
panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan
Afrika serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara Barat
(Amerika dan Eropa).
Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki
semangat pantang menyerah dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta
kemerdekaan bangsanya. Namun berdasarkan perjalanan sejarah kepemimpinannya,
ciri kepemimpinan yang demikian ternyata mengarah pada figur sentral dan kultus
individu. Menjelang akhir kepemimpinannya terjadi tindakan politik yang sangat
bertentangan dengan UUD 1945, yaitu mengangkat Ketua MPR (S) juga.
Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno termasuk sebagai tokoh nasionalis dan anti-kolonialisme
yang pertama, baik di dalam negeri maupun untuk lingkup Asia, meliputi
negeri-negeri seperti India, Cina, Vietnam, dan lain-lainnya. Tokoh-tokoh
nasionalis anti-kolonialisme seperti inilah pencipta Asia pasca-kolonial. Dalam
perjuangannya, mereka harus memiliki visi kemasyarakatan dan visi tentang
negara merdeka. Ini khususnya ada dalam dasawarsa l920-an dan 1930-an pada masa
kolonialisme kelihatan kokoh secara alamiah dan legal di dunia. Prinsip politik
mempersatukan elite gaya Soekarno adalah "alle leden van de familie aan
een eet-tafel" (semua anggota keluarga duduk bersama di satu meja makan).
Dia memperhatikan asal-usul daerah, suku, golongan, dan juga parta
2. Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto
Diawali
dengan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun 1966 kepada Letnan
Jenderal Soeharto, maka Era Orde Lama berakhir diganti dengan pemerintahan Era
Orde Baru. Pada awalnya sifat-sifat kepemimpinan yang baik dan menonjol dari Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto adalah kesederhanaan, keberanian dan kemampuan dalam mengambil
inisiatif dan keputusan, tahan menderita dengan kualitas mental yang sanggup
menghadapi bahaya serta konsisten dengan segala keputusan yang ditetapkan.
Gaya Kepemimpinan Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto merupakan gabungan dari gaya kepemimpinan
Proaktif-Ekstraktif dengan Adaptif-Antisipatif, yaitu gaya kepemimpinan yang
mampu menangkap peluang dan melihat tantangan sebagai sesuatu yang berdampak
positif serta mempunyal visi yang jauh ke depan dan sadar akan perlunya
langkah-langkah penyesuaian.
Tahun-tahun pemerintahan Suharto diwarnai
dengan praktik otoritarian di mana tentara memiliki peran dominan di dalamnya.
Kebijakan dwifungsi ABRI memberikan kesempatan kepada militer untuk berperan
dalam bidang politik di samping perannya sebagai alat pertahanan negara.
Demokrasi telah ditindas selama hampir lebih
dari 30 tahun dengan mengatasnamakan kepentingan keamanan dalam negeri dengan
cara pembatasan jumlah partai politik, penerapan sensor dan penahanan lawan-lawan
politik. Sejumlah besar kursi pada dua lembaga perwakilan rakyat di Indonesia
diberikan kepada militer, dan semua tentara serta pegawai negeri hanya dapat
memberikan suara kepada satu partai penguasa Golkar Bila melihat dari penjelasan singkat di atas
maka jelas sekali terlihat bahwa mantan Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter,
dominan, dan sentralistis.
3. Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie Menjadi presiden bukan karena keinginannya.
Hanya karena kondisi sehingga ia jadi presiden. Orang yang cerdas tapi terlalu
lugu dalam politik. Karena ingin terlihat bagus, ia membuat blunder dalam
masalah timor timur.Sebenarnya gaya kepemimpinan Presiden Habibie adalah gaya
kepemimpinan Dedikatif-Fasilitatif, merupakan sendi dan Kepemimpinan
Demokratik. Pada masa pemerintahan Mantan Presiden Prof.
Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie
ini, kebebasan pers dibuka lebar-lebar sehingga melahirkan demokratisasi yang
lebih besar. Pada saat itu pula peraturan-peraturan perundang-undangan banyak
dibuat. Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya Habiebi
sangat terbuka dalam berbicara tetapi tidak pandai dalam mendengar, akrab dalam
bergaul, tetapi tidak jarang eksplosif. Sangat detailis, suka uji coba. Dalam penyelengaraan Negara Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie pada dasarnya seorang liberal karena kehidupan
dan pendidikan yang lama di dunia barat.
Gaya
komunikasinya penuh spontanitas, meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa mau
memikirkan risikonya. Tatkala Mantan Presiden Prof.
Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie
dalam situasi penuh emosional, ia cenderung bertindak atau mengambil keputusan
secara cepat. Seolah ia kehilangan kesabaran untuk menurunkan amarahnya.
Bertindak cepat, rupanya, salah satu solusi untuk menurunkan tensinya.
Karakteristik. Mantan Presiden Prof. Dr.
Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie digambarkan
sebagai pribadi yang
terbuka, namun terkesan mau menang sendiri dalam berwacana dan alergi terhadap
kritik.
4. Mantan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid Seorang kiai yang sangat liberal dalam
pemikirannya, penuh dengan ide, sangat tidak disiplin, dan berkepemimpinan ala
LSM.
Gaya kepemimpinan antan Presiden Dr. K. H.
Abdurrahman Wahid adalah gaya
kepemimpinan Responsif-Akomodatif, yang berusaha untuk mengagregasikan semua
kepentingan yang beraneka ragam yang diharapkan dapat dijadikan menjadi satu
kesepakatan atau keputusan yang memihki keabsahan. Pelaksanaan dan
keputusan-keputusan yang telah ditetapkan diharapkan mampu menggerakkan
partisipasi aktif para pelaksana di lapangan, karena merasa ikut terlibat dalam
proses pengambilan keputusan dan kebijaksanaan.
Kehadiran antan Presiden Dr.
K. H. Abdurrahman Wahid sebagai RI 1
menimbulkan harapan untuk menyelesaikan berbagai persoalan baik ekonomi,
politik, keamanan, dan ancaman disintegrasi yang timbul akibat krisis. antan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid membentuk Kabinet Persatuan Nasional yang
menggambarkan rekonsiliasi antarkekuatan partai politik.
Tujuannya memang mulia: menyatukan kekuatan yang untuk
menyelamatkan bangsa dan negara disaat kepemimpinannya. Beliau ini
awalnya memberikan banyak harapan untuk kemajuan Indonesia. Seolah bisa menjadi
figur yang bisa diterima oleh berbagai kelompok didalam dan luar negeri. Tapi
setelah menjadi presiden, bicaranya ngelantur tidak karu-karuan. Hari ini A,
besok B lusa C. Sebagai rakyat aku sendiri ikut capai mikirin Negara di bawah
antan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid ini. Orang seperti ini yang dianggap 1/2 wali
oleh sebagian orang cukup berbahaya untuk memimpin bangsa. Beruntung MPR
melengserkannya dari kursi presiden.
5. Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati
Soekarnoputri Berpenampilan
tenang dan tampak kurang acuh dalam menghadapi persoalan. Tetapi dalam hal-hal
tertentu Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah
Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri memiliki determinasi dalam kepemimpinannya,
misalnya mengenai persoalan di BPPN, kenaikan harga BBM dan pemberlakuan
darurat militer di Aceh Nanggroe Darussalam. Gaya kepemimpinan
megawati yang anti kekerasan itu tepat sekali untuk menghadapi situasi bangsa
yang sedang memanas.
Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri lebih menonjolkan kepemimpinan dalam budaya
ketimuran. Ia cukup lama dalam menimbang-nimbang sesuatu keputusan yang akan
diambilnya. Tetapi begitu keputusan itu diambil, tidak akan berubah lagi. Gaya
kepemimpinan seperti bukanlah suatu kelemahan. Seperti dikatakan
oleh Frans Seda: " Dia punya intuisi tajam. Sering kita
berpikir, secara logika, menganalisa fakta-fakta, menyodorkan bukti-bukti, tapi
tetap saja belum pas. Di saat itulah Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri bertindak berdasarkan intuisinya, yang oleh
orang-orang lain tidak terpikirkan sebelumnya." Cukup
demokratis, tapi pribadi Mantan Presiden Dr.
Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri dinilai tertutup dan cepat emosional. Ia
alergi pada kritik. Komunikasinya didominasi oleh keluhan dan uneg-uneg, nyaris
tidak pernah menyentuh visi misi pemerintahannya
6. Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang
Yudhoyono Beliau ini
presiden pertama yang dipilih oleh rakyat. Orangnya mampu dan bisa menjadi
presiden. Juga cukup bersih, kemajuan ekonomi dan stabilitas negara terlihat
membaik. Sayang tidak mendapat dukungan yang kuat di Parlemen. Membuat beliau
tidak leluasa mengambil keputusan karena harus mempertimbangkan dukungannya di
parlemen. Apalagi untuk mengangkat kasus korupsi dari orang dengan back ground
parpol besar, beliau keliahatan kesulitan. Sayang sekali saat Indonesia punya
orang yang tepat
untuk memimpin, parlemennya dipenuhi oleh begundal-begundal oportunis yang haus
uang sogokan. Pembawaan Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang
Yudhoyono, karena
dibesarkan dalam lingkungan tentara dan ia juga berlatar belakang tentara
karir, tampak agak formal. Kaum ibu tertarik kepada SBY karena ia santun dalam
setiap penampilan dan apik pula berbusana. Penampilan semacam ini meningkatkan
citra Mantan Presiden Jenderal TNI
Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
di
mata masyarakat.
Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang
Yudhoyono sebagai pemimpin
yang mampu mengambil keputusan kapanpun, di manapun, dan dalam kondisi apapun.
Sangat jauh dari anggapan sementara kalangan yang menyebut Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang
Yudhoyono sebagai figur peragu, lambat, dan tidak
"decisive" (tegas). Sosok yang demokratis, menghargai perbedaan
pendapat, tetapi selalu defensif terhadap kritik. Hanya sayang, konsistensi
Yudhoyono dinilai buruk. Ia dipandang sering berubah-ubah dan membingungkan
publik.
1.
Karakter
Kepemimpinan Presiden Ir. H. Joko
Widodo Berikut Sifat-sifat atau
karakter Presiden Ir. H. Joko Widodo
yang disukai jutaan orang Indonesia.
Rendah
Hati
Dari seluruh sifat Presiden Ir. H. Joko Widodo yang paling disenangi adalah
sikapnya yang rendah hati, ia terlihat tidak pernah bicara sinis, ia selalu
membungkuk bila bertemu orang, ia menyalami siapa saja, dan ia ‘ngajeni’ (bhs
jawa = menghormati)
siapapun. Banyak kawan saya di Solo berkata pada saya dan memberikan kesaksian
bahwa memang karakter dia begitu, siapa saja dia sapa, dan bertanya kabarnya,
ini adalah karakter orang Jawa dari sisi rakyat jelata yang guyub dan tidak
memandang jabatan, ia lebih memandang jabatan sebagai ‘Kerja’ bukan status sosial,
jadi ia tidak merasa lebih dari orang lain.
Presiden Ir.
H. Joko Widodo tidak
suka merendahkan orang lain, ia selalu memuji tapi juga tegas, tampaknya Presiden Ir.
H. Joko Widodo menggunakan
bahasa yang menyenangkan lawan bicaranya, ia tidak merasa dirinya harus dilayani, ia bahkan sering merasa harus melayani orang. Karakter
melayani ini mungkin sudah terbentuk sejak masa ia kecil, masa ia tumbuh, ia
lahir dalam kondisi miskin dan satu-satunya bertahan hidup adalah dengan
melayani orang lain, ia bekerja untuk membiayai sekolahnya, ia bertanggung
jawab pada dirinya dan mungkin ia tau betapa susahnya menjadi orang miskin,
betapa nggak enaknya ‘dadi wong ra nduwe’ (jadi orang nggak
punya)yang mungkin dihina orang, dianggap sebelah mata, maka ketika hidupnya
makmur ia takut untuk menghina orang, lalu ia tidak dendampada masa
lalunya yang miskin, justru menghargai orang miskin, status manusia tidak
dilihat dari hartanya, tapi apakah ia berguna bagi orang banyak, apakah
kerjanya bermanfaat bagi orang banyak, ia mungkin tau rasanya disakiti oleh
sikap sombong, sebab itu ia rendah hati, andap asor, ia memanusiakan manusia,
senang bicara secara bersahabat. Di titik ini ia tidak pernah merasa lebih dari
orang lain, kelihatan sekali dari cara bicara dan tindakannya.
Tulus
Sikap yang tulus dari seseorang adalah dilihat saja dari caranya bicara,
caranya bekerja, biasanya orang yang tulus bekerja tanpa beban dan tidak
direpotkan pada hal-hal yang artifisial, orang yang tulus tidak pernah berpikir
macam-macam ‘kerja ya kerja’ ndak usah ada hidden agenda, trik-trik dan segala
apapun yang membuat dirinya diuntungkan dan merugikan banyak orang. Karakter
dasar Tulus Presiden Ir. H. Joko Widodo ini dilihat dari
cara ia bekerja untuk rakyat banyak, hal paling menonjol adalah ketika ia tidak
mengambil gajinya. Disaat pejabat Negara habis-habisa menggarong dana APBN atau
APBD lewat proyek-proyek tender yang di mark up, Jokowi tidak mengambil
gajinya, ini mungkin kelihatan sepele, tapi coba anda ingat-ingat kembali, bukankah
Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang
Yudhoyono sendiri
pernah mengeluh gajinya tidak dinaikkan. Presiden Ir. H. Joko Widodo tidak pernah
meributkan gaji, bahkan ia melupakannya, dari sisi ini untuk pembelajaran
publik bahwa ia bekerja dengan tulus. ‘Boro-boro memperkaya diri dari mark up
proyek dari gaji saja dia tidak mau ambil.
Ketulusan dia bekerja ini kemudian
membawa prestasi yang luar biasa bagi Kota Solo, ia dengan cepat mengubah
keadaan dan membangun landasan perubahan revolusioner menjadikan kota Solo yang
tadinya dianggap kota kecil dan hanya dibawah bayang-bayang kota Semarang dan
Yogya, kini sebagai kota modern tapi berkebudayaan, bahkan Solo sekarang lebih
dikenal daripada Semarang dan Yogyakarta.
Sederhana
Dalam Tingkah dan Bicara
Karakter yang paling disukai dari Presiden Ir. H. Joko Widodo bagi jutaan
rakyat Indonesia adalah sikapnya yang ‘sederhana dalam tingkah dan bicara’. Ia
tidak berlebihan, ia tidak sok
Nginggris (sok ngomong Inggris separuh-separuh) seperti SBY, tidak memakai baju
yang amat mahal, ia pakai pakaian sederhana, sepatunya sederhana, tidak pernah
pamer kekayaan. Kita sering miris bahwa ditengah rakyat banyak yang lapar
banyak pejabat tak tau malu pamer pesta pernikahan besar-besaran, bagaimana
perasaan kita bila melihat ada seorang anak kelaparan, ada seorang anak memikul
dagangan bakso, atau anak mencari rejeki dengan mengais-ngais sampah, sementara
pemimpinnya menikahkan anaknya
dengan Pancuran coklat setinggi 5 meter? Dan anak yang lapar itu melihat dari
tontonan di teve hanya makan ikan asin dan tahu?, Bagaimana perasaan
kepemimpinan model beginian? Presiden Ir. H. Joko Widodo paham bahwa
dengan bersikap sederhana ia mengajarkan tidak hidup dalam bui rasa gengsi,
rasa gengsi-lah yang membuat hidup jadi mahal, hidup apa adanya, tak usah
pamer, mobil dinasnya pun mobil Camry lama, ia tak rewel, kemudian ia pakai
mobil Esemka, kalau ke Jakarta untuk keperluan dinas ia hanya naik taksi
Ekspress tak pakai mobil mewah. Disini iamemang melakukan pencitraan, karena dengan kekayaannya ia bisa saja
membeli mobil sedan teranyar berharga diatas 1 milyar, tapi untuk apa beli
kalau kemudian di dalam mobil ia melihat bangsanya masih banyak yang lapar dan
susah, dalam kesederhanan ia bersatu dalam lumpur kesengsaraan masyarakat
banyak.
Tidak Pendendam
Karakter yang disukai Presiden Ir. H. Joko Widodo banyak orang
adalah ‘Tidak Pendendam’. Ia tidak pernah membalas ucapan-ucapan yang
merendahkan dirinya bahkan ia merasa setiap ucapan yang merendahkan adalah
berkah Tuhan yang ‘harus’ ia terima saja. Mungkin
publik masih banyak ingat tentang ucapan Gubernur Jawa Tengah saat ribut-ribut
eks Gudang Es Sari Petodjo di Kota Solo yang mau dibangunken mall tapi Jokowi
menolak, lalu Presiden Ir. H. Joko Widodo dibilang
“Walikota Goblok” oleh Gubernur Semarang, Presiden Ir. H. Joko Widodo tidak membalas
dengan ucapan pedas tapi dengan ucapan yang santai namun tak dimasukkan ke
hati “Lha, memang saya orang Goblok” kata Presiden Ir. H. Joko
Widodo sambil ketawa-ketawa. Dan
Presiden Ir.
H. Joko Widodo jalan terus dengan
keyakinannya, ia tidak mendendam tapi sekaligus tak plin plan. Karakter ini tak banyak dipunyai pejabat
sekarang yang arogan, banyak dari pejabat publik atau wakil rakyat yang
ditonton banyak orang seperti di Indonesian Lawyer Club asuhan Karni Ilyas di
TV One, memamerkan arogansinya, disenggol sedikit marah, kelihatan maen bener
sendiri, pinter bicara tapi tanpa tindakan dan selalu menyimpan dendam sampai
dendam itu dibawa main hantam pukul-pukulan ditonton rakyat banyak.
Sekarang saat menjelang Putaran II, Presiden Ir. H. Joko Widodo dijelek-jelekkan
terus asal usulnya difitnah ini itu, tuduhan yang nggak ada hubungannya dengan
prestasi kerja, dan sebagainya terus dihembus-hembuskan untuk menyampaikan
kebencian kepada kelompok yang belum menerima informasi siapa Presiden Ir.
H. Joko Widodo1. Tapi Presiden Ir. H. Joko Widodo tidak dendam tidak
membalas dengan cara jahat tapi ia membalasnya dengan sikap diam saja, ia sabar
dalam menerima cobaan, mungkin ia paham prinsip keberhasilan hidup seseorang
: ‘Ketika seseorang diuji kesabarannya maka ia sedang diangkat
derajatnya oleh Tuhan, orang yang direndahkan adalah orang yang ketika diuji
kesabarannya tapi malah menyimpan dendam” dan Presiden Ir. H. Joko
Widodo tak pernah menyimpan dendam, kejadian yang sudah ya sudah,
cukup jadi pelajaran tapi tak boleh membalas dengan kejahatan baru, balas dengan
kebaikan. Buktinya setelah dikata-katain Goblok oleh boss-nya di Semarang, ia
malah ke DKI dan menjadi walikota paling terkenal sepanjang sejarah Republik
Indonesia. Tuhan sudah mengangkat derajatnya.
Pekerja Keras
Karakter yang paling menonjol dari Presiden Ir.
H. Joko Widodo adalah pekerja
keras, ia cepat mematerialkan sesuatu dari nggak ada jadi ada dengan kerja
kerasnya,cara kerja Presiden Ir. H. Joko Widodo amat mirip
dengan Obama dalam soal pemecahan masalah, ‘Selesaikan mulai dari inti persoalannya’ –
Presiden Ir.
H. Joko Widodo amat efektif soal
waktu, ia sedari kecil harus menyelesaikan persoalan dengan cepat, karena
setiap persoalan yang ditunda-tunda akan menghabiskan biaya dan energi,
sementara ia tau dirinya orang miskin, jadi harus irit, demikian juga soal
kerja.
Dalam bekerja Presiden Ir. H. Joko Widodo
tampaknya menganut ilmu menanam Padi. “Barangsiapa menanam padi, pasti
ada rumput yang mengikuti, tapi barang siapa menanam rumput tak mungkin ada
padi yang mengikuti”. Artinya : Orang yang menanam kebaikan, pasti ada
keburukan-keburukan baik sengaja atau tak sengaja, tapi orang yang menanamkan
keburukan sudah pasti tak ada hal baik yang mengikuti”. Baginya kerja adalah
menanam perbuatan, dan perbuatan pasti ada imbal hasilnya dari apa yang kita
lakukan. Kerja Presiden Ir. H. Joko
Widodo dilandasi nilai-nilai baik, ia jujur dan dipercaya, ia juga
bekerja keras, bila ia tak jujur mana ada orang Jerman percaya untuk ekspor
meubel, di kalangan eksportir paling mengerti kalo orang Jerman itu amat keras
soal kepercayaan.
Presiden Ir.
H. Joko Widodo mau terjun langsung ke wilayah-wilayah, ia ngider
tanpa capek, ia tenggelam dalam kerjanya rakyat, ingin tau rakyat kerjanya apa.
Dari sini ia mempelajari bagaimana karakter orang dalam melihat masyarakatnya,
lalu dengan kerja kerasnya ia bentuk sistem terpadu dimana akses-akses
kesejahteraan bisa dibentuk. Presiden Ir.
H. Joko Widodo tidak sekedar bekerja keras saja, tapi ia kerja
cerdas. Pembagian kartu kesehatan adalah contoh bagaimana ia secara sederhana
menerapkan kerja cerdas. Ia memotong jalur birokrasi, bila dulu anggaran
diendapkan sampai ada klaim asuransi
Pemerintah dan jalur birokrasi yang panjang sehingga berpotensi disalahgunakan.
Maka dengan membuat
kartu kesehatan ia penyelenggarakan
asuransi publik dimana kaum miskin tidak usah mengeluarkan surat miskin tapi
sudah memiliki jaminan kesehatan
langsung tanpa birokrasi yang berbelit-belit. Ia bekerja cepat, tanggap dan efisien, persoalan KTP yang berjangka
waktu 2 minggu ia efektifkan jadi dua jam, gratis berarti disini Presiden Ir.
H. Joko Widodo tidak melakukan intervensi pemerintah atas jam kerja
masyarakat.
Presiden Ir.
H. Joko Widodo bekerja keras soal efisiensi angkutan-angkutan pasar, efisiensi
ketersediaan barang dan memastikan jangan ada hambatan komoditas masuk ke
pasar-pasar, efektifitas ini menghasilkan tingkat inflasi yang rendah, bahkan
rendahnya tingkat inflasi ini mendapatkan penghargaan dari Hatta Rajasa, dan
mendapatkan pengakuan resmi dari Mantan Presiden Jenderal
TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Prinsip kerja Presiden Ir. H. Joko Widodo yang membuat dia berhasil seperti ini adalah :
-Kerjalah dari hal sederhana dulu, selesaikan persoalan-persoalan sederhana,
tidak usah berpikir muluk-muluk yang penting kerja dan hasilkan yang riil-. Presiden Ir.
H. Joko Widodo benar sekali karena ada adagium dalam soal kerja
:
“Sesuatu yang rumit biasanya dimulai dari persoalan-persoalan yang
amat sederhana”. Jadi bila menunda-nunda pekerjaan yang sederhana
sampai terbengkalai maka persoalan rumit akan timbul. Presiden Ir. H. Joko
Widodo tak suka itu, ia juga tak terlalu
mengawang-awang, apa persoalan depan mata selesaikan dengan cepat, soal lain
muncul nanti dipikirkan.
Komunikatif
Presiden Ir.
H. Joko Widodo rupanya sangat memahami
ilmu komunikasi, dari sisi ini ketrampilannya yang terbesar adalah cara
berdialog dan bernegosiasi. Kalau dilihat dari cara bahasanya, ia memang amat
khas Solo, cara bicaranya ‘Ngglenik’ atau akrab tanpa batas
kepada lawan bicaranya, ini cara khas rakyat jelata bila sedang kongkow. Presiden Ir.
H. Joko Widodo tidak mengasingkan
dirinya seperti seorang bangsawan yang sakral ketika bicara dengan masyarakat
yang dipimpinnya, ia masuk ke dalam alam pemikiran lawan bicaranya
dengantenggelam dalam alam bawah sadar mereka.
'Jika berbicara dengan orang lain, gunakanlah bahasa orang itu dalam
memahami alam pikir mereka’ itu kata Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno saat memberikan
wejangan kepada wartawan tentang bagaimana berkomunikasi yang baik “Bila kamu
bicara dengan tukang becak, pahami alam pikir tukang becak, pahami bagaimana ia
berbicara soal kesehariannya, cara mereka berbahasa, ukuran-ukuran intelektual
mereka, bila kamu sudah masuk ke dalam gelombang yang sama dengan cara mereka
bicara dari situlah kamu bisa berkomunikasi” Prinsip Mantan Presiden Dr. Ir. H.
Soekarno ini digunakan Presiden Ir. H. Joko Widodo dalam memahami cara berkomunikasi dengan
rakyatnya, ucapannya yang ia lontarkan jelas, padat dan tak perlu dicerna
rumit-rumit.
Bila Donald Trump mengajarkan cara bernegosiasi ‘Win Win
Solution’maka ini diterapkan dengan amat sangat oleh Jokowi, metode ‘Win
Win Solution + rasa kemanusiaan’. Di dalam negosiasi dengan
pekerjaannya Jokowi di satu sisi bisa bersikap tegas, tapi juga bersikap amat
sabar. –Sebagai misal saat ia berhadapang dengan Camat dan Lurah yang masih
bandel soal KTP. Ia dengan tegas mencopot pejabat yang gagal dalam melaksanakan efektifitas pelaksanaan KTP. Tapi disisi lain ia
bisa amat sabar bernegosiasi dengan pihak masyarakat. Presiden Ir. H. Joko
Widodo duduk satu meja dengan para pedagang klitikan,
ia tak bicara apa-apa soal pasar, ia hanya bicara sebagai teman. Berbeda saat
Jokowi berhadapan dengan aparat yang bandel, ia sudah tau posisi “Siapa yang
berkuasa dan apa maunya orang ini” tapi ketika berbicara dengan rakyat ia tidak
bertanya “Siapa yang berkuasa” karena ia paham yang berkuasa jelas rakyat dan
ia pelaksana, maka ia bertindak sebagai seorang bawahan yang sedang memahami
apa maunya atasan. Ia undang makan para boss-nya itu untuk makan bersama, sampai
puluhan kali, di undangan ke 54 barulah Jokowi mengutarakan maksudnya, itupun
masih ada penentangan tapi tak keras, karena selama 53 pertemuan sebelumnya, Presiden Ir.
H. Joko Widodo sudah menangkap
bagaimana karakter masyarakat-nya dalam melihat persoalan pemindahan pasar.
Disini Jokowi menerapkan komunikasi empati plus integratif, artinya : ia masuk
ke dalam penghormatan dan tenggelam dari apa maunya rakyat. Seperti
katanya "Rakyat adalah gudangnya gagasan. Pemimpin jangan sok
pinter. Kita cuma eksekutor,"
Taktis
Satu sikap yang disukai oleh masyarakat kepada Jokowi adalah kemampuannya
dalam berpikir taktis, di satu sisi ia bisa berpikir sosialis yaitu : melakukan
tindakan-tindakan kolektif dimana kekayaan negara bisa diarahkan untuk
kesejahteraan rakyat banyak. Di satu sisi Presiden Ir. H. Joko Widodo sangat taktis dalam berbisnis, ia amat berotak
bisnis, dan otaknya untuk ini amat moncer.
Ketika Faisal Basri harus menjual rumahnya untuk biaya kampanye, maka Presiden Ir.
H. Joko Widodo mengajarkan berpikir ‘Keluar Kotak’ untuk apa
kita harus menjual asset, nilai lebih kita harus jadi aktiva aktif. Disini
Presiden Ir.
H. Joko Widodo menunjukkan dirinya
bukan orang yang pandai berteori, tapi orang yang langsung aplikatif, ia beli
baju yang bisa merumuskan dirinya pada posisi ingatan masyarakat, lalu baju ini
dijual, ia tingkatkan partisipatif publik, ia tak perlu keluar banyak untuk
kampanye karena cluster-cluster kampanye dengan sendirinya bergerak, ia ajarkan
masyarakat sebagai produsen politik, bukan konsumen politik.
Presiden Ir.
H. Joko Widodo juga orang yang amat
pandai melihat masalah dan anatominya serta dengan cepat menyusun posisi.
Seperti banyak orang meremehkan bahwa kota Solo homogen, kota Solo kecil dan
sebagainya. Jokowi hanya menjawab santai : “Solo kan masih Indonesia, Jakarta
juga masih Indonesia juga kan?” Jawaban Jokowi yang terkesan simpel justru
memperlihatkan sikap taktisnya dalam menghadapi masalah, ia paham Solo kota
kecil tapi orang banyak tak tau Solo adalah kota paling plural dalam soal
ideologis, tempat dimana kejadian-kejadian besar politik di Indonesia bermula,
tempat paling parah bila terjadi pergolakan politik, ini bisa saksikan dan
periksa dalam sejarah kota Solo, artinya : Di Solo tempat orang-orang yang memiliki
karakteristik amat Jakarta, bahkan mungkin lebih ideologis ketimbang orang
Jakarta yang pragmatis.
Seperti ungkapan Soros : “Siapa yang
bisa menaklukkan New York maka ia bisa menaklukkan dunia”. Ini sama saja
dengan ungkapan : “Siapa bisa menaklukkan Solo maka ia bisa menaklukkan
Indonesia”. Perlu diingat dalam sejarah bahwa kota Solo adalah pusat pergolakan
politik, sejak peristiwa Swapradja yang digerakkan Tan Malaka tahun 1946, Peristiwa masuknya tentara Siliwangi ke Solo sehingga menimbulkan
pertempuran di Srambatan dan berujung pada peristiwa Madiun 1948, peristiwa
Gestapu 65 sehingga terjadi pembantaian besar-besaran ketika pasukan RPKAD
masuk ke kota Solo, persoalan rasial tahun 1981, pembakaran besar-besaran
seluruh kota tahun jaman reformasi 1998, Solo adalah kota yang paling pendek
sumbunya untuk meledak dibandingkan kota-kota lain.
Tapi oleh Presiden Ir. H. Joko Widodo dengan langkah yang cerdas, taktis dan
strategis ia menempatkan Solo menjadi kota yang harmoni, nyaman, aman, dan saling
menghargai, apapun bentuk potensi kerusuhan di Kota Solo bisa diatasi dengan
cepat, karena kemampuan taktis Jokowi dalam menempatkan dirinya di tengan
masyarakat.
Berbihinneka
Karakter Berbhinneka Jokowi amat disukai jutaan orang Indonesia, Presiden Ir.
H. Joko Widodo mengajarkan dalam ruang
publik dan tata pemerintahan yang rasional tidak baik mengedepankan sentimen
identitas seperti agama, suku dan status sosial tapi kedepankanlah prestasi, kedepankanlah
nilai-nilai kejujuran dan etika, serta membawa rasionalitas ke dalam tataran
perjuangan politik sehingga rakyat diajari dalam memilih ukuran-ukuran
rasional-lah yang dikedepankan bukan ukuran-ukuran kuasa Tuhan seperti Agama,
Suku dan Status Sosial.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar