GENERASI MILENIAL
1.
Apa dan Siapa Generasi Mllenial itu ?
Dengan terus berjalannya perputaran waktu, seluruh aspek di dunia global
ini menjalani banyak sekali perubahan. Demikian juga dengan pola pemikiran dan
sudaut perspektif para pemimpin yang tengah akan memimpin Indonesia. Dan
sekarang tahun 2018-2025 dapat dikatakan
sebagai era para generasi milenial yang mana kelak para generasi milenial
inilah yang akan maju pada panggung politik Indonesia. Saat ini, generasi millennials menjadi
subjek yang lumayan hangat dikelompok masyarakat, mulai dari sisi pendidikan,
teknologi ataupun moral dan budaya.
Namun
sesungguhnya, siapakah generasi milenials itu dan apakah masyarakat
sungguh-sungguh paham akan sebutan itu? Millennials atau sesekali juga disebut
dengan generasi Y merupakan sekelompok orang yang lahir sesudah
Generasi
X, yakni orang yang lahir pada kira-kira tahun 1980- 2000an. Maka ini disebut
millenials merupakan generasi muda yang berusia 17- 37 pada tahun ini.
Milenials
sendiri dinilai spesial sebab generasi ini sangat berbeda dengan generasi
sebelumnya, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan teknologi. Generasi
millennials mempunyai ciri khas tersendiri yakni, mereka lahir pada saat TV
berwarna,handphone juga internet telah diperkenalkan. Sehingga generasi ini
sangat ahli dalam teknologi.
Generasi Millenial
mempunyai keistimewaan yang khas, kita lahir di zaman TV sudah berwarna dan
menggunakan remote, sejak masa sekolah sudah memakai handphone,
saat ini setiap tahun ganti smartphonedan internet
menjadi kebutuhan pokok, berusaha untuk senantiasa terkoneksi di manapun,
keberadaan sosial ditentukan dari jumlah follower dan like,memiliki
tokoh idola, afeksi pada genre musik dan budaya pop yang sedang tren, turut
latah #hashstag ini #hashtag anu, pray for ini dan anu,
dan seluruh gejala-gejala kekinian
yang tak habis-habisnya menyebabkan generasi orangtua kita kebingungan
mengikutinya.
Di
Indonesia sendiri dari jumlah 255 juta penduduk yang sudah tercatat, ada 81
juta merupakan generasi millenials atau berusia 17- 37 tahun. Hal ini
menandakan Indonesia mempunyai banyak kesempatan untuk membangun negaranya.
Namun, kemanakah mereka pergi? Apakah mereka bersembunyi? Sebenarnya tidak, bila kita memeriksa ke dunia sosial
media, generasi millennials sangat mendominasi jika dibandingkan dengan
generasi X.
Dengan
keahliannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi millenials belum
banyak yang mengetahui akan kesempatan dan peluang di depan mereka. Generasi
millennials condong lebih tidak peduli terhadap kondisi sosial di sekitar mereka seperti dunia
politik maupun kemajuan ekonomi Indonesia. Memiliki Suara 40
Persen, Generasi Milenial Jadi Penentu pada Pemilihan Presiden 2019
Suara generasi milenial atau pemilih
pemula dipercaya sangat menentukan dalam Pemilihan Legislatif ataupun Pemilihan
Presiden dan Wakil Presiden 2019. Pengamat
Politik Voxpop Center Pangi S Chaniago
menjelaskan, jumlah pemilih Pemilu 2019 dari golongan milenial sekitar 40
persen. Artinya, pemilih pemula yang berusia 17-21 tahun. Jumlah
generasi milenial di Indonesia memang
sangat banyak. Lebih dari 34% dari total populasi penduduk Indonesia termasuk
dalam kategori generasi milineal.
Berdasarkan
sebuah riset nasional yang dilakukan oleh Alvara Research Center di awal tahun
2018 ini, inilah lima tipe generasi milenial.
Nerd
Millenial sebanyak 7,4 %
Nerd milenial adalah mereka yang termasuk dalam golongan milenial
secara fisik dan umur, tapi kurang gaul. Mereka memang aktif terlibat dalam
dunia kretif dan teknologi, tapi lebih suka menyendiri dan bertingkah sesuai
keinginan mereka sendiri.
2.
Alay Millenial sebanyak 9,3%
Nah, milenial
yang begini memang melek teknologi dan sangat terikat dengan kehidupan media
sosial mereka. Biasanya mereka selalu berbagi status atau story di Instagram
tentang semua hal yang mereka lalui hari itu. Buruknya, mereka juga suka
membagikan berita-berita hoax di grup Whatsapp tanpa mempelajari kebenarannya
lebih dulu.
3.
Anti-Millenial sebanyak 18,9%
Hanya fisik
dan umurnya saja yang masuk ke dalam golongan milenial. Tingkah laku dan pola
pikir mereka justru old-school alias kekunoan bukan kekinian. Mereka tidak gaul
dan tidak suka berinteraksi dengan media sosial maupun internet.
4.
True Millenial sebanyak 22,7%
Kalau ini
adalah milenial sebenar-benarnya milenial dengan gayanya yang selalu kekinian
dan gadget yang lengkap. Milenial jenis ini paham semua jenis kamera mirrorless
terbaru dan fitur-fitur Samsung Galaxy maupun iPhone yang mahal itu.
Mereka juga
sangat inovatif, melek teknologi, serta selalu siap dalam menghadapi perubahan.
5.
Mass Millenial sebanyak 41,8%
Walaupun
millenial, namun mereka sangat "nanggung", meski begitu merupakan
tipe milenial paling banyak di Indonesia. Serba nanggung karena mereka secara
umum bisa menggunakan internet, cukup mengikuti perkembangan gadget, namun aktif
di media sosial tidak seintens True Millenial. Survey ini dilakukan pada 2.200
responden di seluruh Indonesia dengan rentang usia antara 15-39 tahun.
Generasi milenial mempunyai sifat
kreatif, percaya diri, tidak loyal dan tidak ingin menjadi objek politik.
Generasi milenial bukan tipe yang ingin diatur. Mereka sangat erat kaitannya
dengan media sosial. Generasi Millenial di Indonesia mempunyai semangat
inklusif yang lebih tinggi dibanding generasi sebelummnya.
Yaitu,
semangat merangkul semua jenis latar belakang, ras, suku, agama. Politik inklusif menjadi cara atau metode
strategis guna berpatisipasi dalam berpolitik, demokrasi, dan pemilu. Karena
dengan begitu akan banyak kawan, dengan banyak kawan maka banyak pula sumber
daya, sehingga ketika memainkan peran politik di level masyarakat politik,
langkah-langkahnya akan menjadi lebih ringan
2. Enam Karakter Kepemimpinan Milenial
Millenial
Leader
Zaman kian berubah, manusia pun
didesak untuk mengikuti segala perubahannya. Ramainya teknologi yang merekomendasikan
artificial intelligent, seperti robot pintar dan sejumlah aplikasi di smartphone,
malahan mengancam keberadaan manusia itu sendiri. Sikap malas, manja, egois,
dan perilaku serba instant adalah sejumlah sikap negatif yang terdapat
pada mayoritas manusia milenial. Dengan maraknya perusahaan yang sekarang ini
para pekerjanya berasal dari generasi milenial, tak heran bila banyak
perusahaan yang mulai berfokus terhadap kinerja generasi milenial.
Oleh sebab itu, diperlukan karakter
kepemimpinan yang sanggup mengurangi sikap negatif di atas dan dapat
mengeluarkan seluruh potensi positif dari kaum milenial seperti melek
teknologi, cepat, haus ilmu pengetahuan, dan publikasi. Di bawah ini terdapat 6
(enam) karakter kepemimpinan yang diperlukan di masa milenial.
Digital Mindset
Dengan kian maraknya orang yang
memakaismartphone, maka akses komunikasi antar individu pun sudah tidak
bersendat lagi. Ruang pertemuan fisik beralih ke ruang pertemuan digital. Kini
sudah menjadi kelaziman bila seseorang mempunyai lebih dari 1 (satu) group di
aplikasi WA maupun Telegram mereka. Pemimpin di era milenial mesti dapat
menggunakan kemajuan teknologi ini guna melahirkan proses kerja yang efisien
dan efektif di lingkungan kerjanya. Contohnya dengan melangsungkan rapat via WA
maupun Anywhere Pad, merubah surat undangan tertulis dengan undangan via email
maupun Telegram, dan membagi product knowledge ke klien via WA. Bila
seorang pemimpin tidak berusaha mendigitalisasi pekerjaannya di era sekarang
ini, maka dia akan dinilai tidak adaptif oleh kliennya dan bahkan rekan
kerjanya sendiri.
Seperti yang dimuat oleh DDI (Development
Dimensions International) dalam penelitiannya di tahun 2016, mayoritas millenial
leader menyukai sebuah perusahaan yang fleksibel terhadap jam kerja dan
tempat mereka bekerja.
Hal ini tentu saja dikarenakan oleh
kecanggihan teknologi yang menyebabkan orang dapat bekerja dimana saja dan kapan saja. Bisa
dilihat bahwa hari ini banyak sekali coffeeshop yang berfungsi sebagai co-working
space tersebar di tempat kita dan sebagian besar konsumennya merupakan millenials.
Observer dan
Active Listener
Pemimpin di era milenial mesti bisa
menjadi observer dan pendengar aktif yang baik untuk anggota timnya. Apalagi
bila kebanyakan timnya merupakan kaum milenial. Hal ini disebabkan kaum
milenial tumbuh beriringan dengan munculnya media sosial yang menyebabkan
mereka kecanduan untuk diperhatikan.
Mereka akan sangat menghargai dan
termotivasi bila dikasih kesempatan untuk berbicara, berekspresi, dan
diakomodasi gagasan-gagasannya oleh perusahaan. Mereka haus akan ilmu
pengetahuan, pengembangan diri dan menyukai untuk berbagi pengalaman.Untuk
menjadi observer dan active listener yang baik, tidak ada
salahnya jika pendekatan dilakukan via medi Manajemen
perusahaan, atau ketidakjelasan manual produk yang dikeluar perusahaan. Oleh
sebab itu pemimpin yang agile, hal ini kelak akan disederhanakan,
diperbaiki, dan disempurnakan. Pemimpin yang agile sanggup membawa
organisasinya untuk dengan cepat mengakomodasi perubahan. Seperti Pep Guardiola
yang menyempurnakan Total Football dengan Tiki Taka-nya. Cara untuk menjadi
pemimpin yang agile diantaranya yaitu memperbanyak membaca buku,
mengobservasi peristiwa dan silaturrahim.
Inclusive
Di dalam bahasa Inggris, inclusive
diartikan "termasuk di dalamnya". Secara istilah, inclusive
diartikan sebagai memasuki cara berpikir orang lain dalam memandang suatu isu.
Pemimpin yang inclusive diperlukan di era milenial disebabkan perbedaan
perspektif antar individu yang semakin canggih.
Hal ini disebabkan oleh maraknya
informasi yang kian gampang diakses oleh siapapun, dimanapun, dan kapapnpun
sehingga membangun pola pikir yang berbeda antar individunya. Pemimpin yang inclusive
diharapkan bisa menghargai setiap pemikiran yang ada dan memanfaatkannya untuk
meraih tujuan organisasi. Pemimpin
juga mesti memberikan pemahaman akan
pentingnya nilai, budaya, dan visi organisasi kepada anggota timnya secara
lengkap sebab kalangan milenial akan berlaku secara antusias bila perbuatannya
mempunyai meaning.
Supaya menjadi pemimpin yang inclusive,
pemimpin juga tidak dapat lagi berlaku sebagai boss, melainkan leader,
mentor, dan sahabat untuk anggota timnya. Hal ini dikarenakan sebagian besar
kalangan milenial menganut nilai-nilai seperti transparansi dan kolaborasi pada
hidup mereka. DDI dalam kajiannya di tahun 2016, memberikan bahwa millenials
menyukai perusahaan yang memberikan frekuensi lebih banyak guna memperoleh mentoring
dan training dari para manajer di atasnya atau para expert.
Brave to be
Different
Lain dan menginspirasi di era
sekarang, ternyata masih banyak orang yang tidak percaya diri untuk menentukan
sebuah langkah atau keputusan penting dalam peraihan cita-citanya sebab hal
tersebut bertolak belakang dengan kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Masalah
sejenis ini bila didiamkan, akan menjadi halangan seseorang bahkan sebuah
perusahaan untuk lebih maju. Seringkali kebiasaan di sebuah perusahaan menyebabkan orang lebih suka
membenarkan yang biasa dibandingkan membiasakan yang benar. Ini merupakan
tantangan untuk para pemimpin milenial dalam mengubah keadaan tersebut dan
menegakkan nilai bahwa berbeda itu boleh asalkan dengan perencanaan dan maksud
yang jelas.
Oleh sebab itu, untuk memberi contoh,
pemimpin mesti berani berbeda, baik dari cara berpikir, kebijakan, ataupun
penampilannya. Tentu berbedanya untuk kebaikan tim dan perusahaan, contohnya
membebaskan pakaian kerja tim yang awalnya berseragam menjadi pakaian semi
formal supaya meningkatkan semangat bekerja mereka sebab tampak keren di depam
teman kantornya.
Hal ini menegaskan kepada tim bahwa
setiap orang mempunyai keistimewaan masing-masing dan disalurkan untuk
kepentingan organisasi juga salah satu tugas dari pemimpin. Unbeatable (pantang menyerah) Mindset
pantang menyerah tentu mesti dimiliki
oleh seluruh pemimpin. Apalagi memimpin anak-anak di era milenial yang kental
dengan sikap malas, manja, dan merasa paling benar sendiri. Pemimpin milenial
harus mempunyai sikap positive thinking dan semangat tinggi dalam
mengejar goals-nya.
Halangan yang timbul seperti kurangnya
respect dari pegawai senior ataupun junior mesti dapat diselesaikan
dengan sikap ulet dan memperlihatkan kualitas diri. Situasi kompetisi kerja di
era globalisasi mesti memicu pemimpin untuk meningkatkan soft skills
contohnya keahlian bernegosiasi, menginspirasi, dan critical thinking,
dan hardskills-nya seperti menggarap desain
grafis dan berbahasa asing.
Maka dari itu, wajib untuk pemimpin
untuk menjadi sosok yang unbeatable yang mempunyai keahlian bangun dari
kegagalan dengan cepat dan pantang menyerah dalam menggapai tujuannya.
3. Pemilu
2019 dan Pemilih Milenial
Perubahan politik di tingkat lokal tersebut mesti
dibaca partai politik di tingkat nasional. Perubahan kepemimpinan nasional
belum terjadi dengan baik. Sejumlah pimpinan partai politik ada yang tidak
pernah dirubah atau menjabat secara berturut-turut lebih dari dua periode
kepengurusan. Keadaan tersebut jelas tidak baik untuk sirkulasi dan regenerasi
kepemimpinan di tingkat nasional.
Terhambatnya regenerasi dan sirkulasi ini akan
mengacaukan suksesi politik di internal partai pada masa akan datang.
Demi menyiapkan regenerasi politik, saya kira partai politik harus merancang
perubahan desain kelembagaan dengan meyediakan ruang untuk pemilih muda atau
milenial. Partai mesti memberikan kepastian jenjang karier untuk anak-anak muda
dan milenial saat berkarir di partai politik.
Partai
politik juga mesti menyediakan cara guna memberikan ruang untuk generasi
muda/milenial guna berpatisipasi pada kegiatan-kegiatan politik. Jauhnya jarak
antara milenial dengan partai mengakibatkan tidak terjadi hubungan antara
pemilih milenial dengan partai politik.
Berebut Milenial
Pemilih milenial (berusia 17-29 tahun) yang
berjumlah kurang lebih 15-20% dari jumlah pemilih secara nasional,
mengakibatkan partai politik saling berebut suara di bagian ini. Tetapi
tantangannya tidak gampang. Selain karakteristik pemilih milenial yang sulit
ditebak, mereka juga mudah berubah dari satu tokoh ke tokoh lainnya, atau dari
satu partai ke partai lainnya.
Salah satu yang melainkan generasi milenial dengan
generasi lainnya yaitu akses mereka ke akun sosial media. Sebanyak 81,7 persen
pemilih milenial menyatakan mempunyai akun Facebook, sementara hanya 23,4
persen dari pemilih non milenial (berusia di atas 30 tahun) yang mempunyai akun
Facebook. Dari segi akses
terhadap media online, 54 persen milenial
menyatakan mengakses media online setiap hari. Sementara hanya 11,9 persen dari
pemilih non milenial yang mengakses media online setiap hari. Perbedaan akses
terhadap sosial media dan media online jelas berdampak pada cara milenial
melihat politik dan memengaruhi cara mereka saat memilih dalam pemilu.
Perkembangan platform digital dan media sosial yang
berkembang pesat mengakibatkan partai politik mulai mengambil cara-cara terbaru
guna mendapatkan simpati pemilih milenial. Partai mulai memakai platform-platform
digital seperti Faceboook, Twitter, YouTube, dan Instagram. Bahkan sejumlah
partai politik sudah ada yang menyewa jasa konsultan profesional untuk mengurus
akun media sosial partai.
Mendekati pemilu nasional (legislatif dan presiden)
serentak kelak, beberapa partai politik juga telah menyedia pasukan cyber (cyber troops) demi
meraih simpati pemilih. Asumsi saya, perang cyber (cyber war) antar partai
politik akan mengalami tren peningkatan dari pada pemilu sebelumnya.
Menarik dukungan milenial, tentu tidak cukup semata-mata mengandalkan gadget
memanfaatkan sosial media di ruang-ruang berpendingin udara. Pemilih tentu
memerlukan interaksi langsung dengan partai politik di lapangan. Tidak heran
jika persaingan antar partai di ‘darat’ juga diprediksi akan lebih sengit.
Partai-partai baru akan berhadapan secara langsung
dengan partai-partai yang telah mempunyai infrastruktur dan pengalaman politik
yang kuat dan solid. Bagaimana pun, relasi dan jam terbang politik akan menjadi
variabel penting dalam pertarungan politik di ‘darat’.
Sejumlah partai politik yang telah memiliki
infrastruktur politik milenial (kepemudaan) tentu tidak terlalu kaget dengan
persaingan politik di lapangan. Sebab, beberapa aktivis sayap pemuda partai
tersebut sudah menlaksanakan kompetisi di internal organisasi yang meletihkan
dan persaingan di Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP), seperti di Komite
Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) atau di organisasi ekstra kampus, seperti
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII),
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
(KAMMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Nasional
Indonesia (GMNI) atau Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI),
dll. Partai-partai yang sudah memiliki jaringan dan sayap kepemudaan yang
solid diprediksi akan memudahkan persaingan di darat.
Tiga partai besar contohnya sudah mempunyai
jaringan kepemudaan yang cukup kuat. PDIP contonya mempunyai Taruna Merah Putih
dan Banteng Muda Indonesia. Partai Golkar mempunyai Angkatan Muda Pembaruan
Indonesia (AMPI), Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG). Sementara Partai Gerindra
mempunyai Tunas Indonesia Raya (Tidar) dan Satuan Relawan Indonesia Raya
(Satria).
Dengan keadaan tersebut, tentu tidak gampang untuk
partai baru untuk dapat merebut segmen pemilih milenial. Selain variabel
jaringan dan pengalaman politik, pertimbangan pilihan milenial juga dipengaruhi
oleh ketokohan aktor politik serta kecondongan yang mudah berubah. Ditunjukya
pengusaha sukses yang juga mantan ketua panitia Asian Games, Erick Thohir
selaku ketua tim sukses, menandakan Presiden Ir. H. Joko Widodo sebagai
petahana sangat memandang penting keberadaan pemilih milenial. Erick Thohir,
dinilai orang yang cocok untuk dapat menarik pemilih milenial yang jumlahnya
besar tersebut.
Upaya Presiden Joko Widodo untuk meraih dukungan pemilih milenial (17-29 tahun) nampaknya tidak
gampang. Tinjauan CSIS Agustus 2017 mendapatkan selisih suara Presiden Ir. H. Joko Widodo dan Prabowo Subianto hanya
berjarak sebesar 8 persen. Sebesar 33,3 persen pemilih milenial mengaku akan
memilih Presiden Ir. H. Joko Widodo ketika survei dilaksanakan dan
25 persen mengaku akan memilih Prabowo Subianto.
Kurang lebih 39 persen suara pemilih milenial
tersebar ke banyak tokoh. Kemudian sisanya menyatakan belum memiliki pilihan
dan tidak menjawab. Sedangkan pada pemilih non-milenial (berusia di atas 30
tahun), selisih suara Presiden Ir. H. Joko Widodo dan Prabowo sekitar 30
persen suara. Tidak optimalnya suara Presiden Ir. H. Joko Widodo di pemilih milenial jelas
mengejutkan. Padahal beberapa cara telah
dijalankan untuk memperoleh dukungan milenial.
Mulai dari mengajak para blogger dan pegiat media
sosial pada jamuan makan di Istana Negara, sampai membuat vlog dan eksis di
YouTube. Pemilih milenial benar-benar sulit ditebak. Mereka mewakili
genre baru pemilih Indonesia yang memiliki pandangan unik daripada pemilih
lainnya. Mereka juga gampang berubah ke lain hati, apalagi jika mendapatkan
idola baru.
Opsi pemilih milenial terhadap partai politik juga
berbeda. PDIP sebagai partai pemenang pemilu tidak seputuhnya dapat optimal
meraih suara milenial. Ketika survei dilaksanakan, 26,5 persen milenial mengaku
akan memilih PDIP, Gerindra (17,8 persen), Demokrat (13,7), Golkar (10,7), dan
Perindo (4,5) sebagai lima partai teratas dipilih oleh milenial.
Tren lain yang terjadi yaitu fenomena menarik di
level daerah. Sensus Nasional CSIS pada tahun 2015 terhadap pimpinan Partai
Golkar, Gerindra, PDIP, dan PAN di segala provinsi dan kabupaten/kota
se-Indonesia, mendapatkan adanya regenerasi politik di tingkat lokal. Para
pimpinan partai di daerah rata-rata berusia pada kisaran 40-45 tahun. Perubahan
politik lainnya yang didapatkan yakni pimpinan elite di tingkat lokal mulai
berganti dari yang berlatar aktivis politik (partai, LSM, media massa, dosen)
menjadi pengusaha. Sebagian besar pimpinan partai di daerah kini mempunyai
latar belakang sebagai pengusaha.
Perubahan politik di tingkat lokal tersebut mesti
dibaca partai politik di tingkat nasional. Perubahan kepemimpinan nasional
belum terjadi dengan baik. Sejumlah pimpinan partai politik ada yang tidak
pernah dirubah atau menjabat secara berturut-turut lebih dari dua periode
kepengurusan. Keadaan tersebut jelas tidak baik untuk sirkulasi dan regenerasi
kepemimpinan di tingkat nasional.
Terhambatnya regenerasi dan sirkulasi ini akan
mengacaukan suksesi politik di internal partai pada masa akan datang.
Demi menyiapkan regenerasi politik, saya kira partai politik harus merancang
perubahan desain kelembagaan dengan meyediakan ruang untuk pemilih muda atau
milenial. Partai mesti memberikan kepastian jenjang karier untuk anak-anak muda
dan milenial saat berkarir di partai politik.
Jika tidak ada mekanisme yang jelas mengenai karir
politik dan proses penentuan jabatan-jabatan strategis di internal partai
dilaksanakan secara tertutup, saya takut kondisi tersebut akan mengakibatkan
anak-anak muda tidak tertarik menjadi aktivis politik.
Partai
politik juga mesti menyediakan cara guna memberikan ruang untuk generasi
muda/milenial guna berpatisipasi pada kegiatan-kegiatan politik. Jauhnya jarak
antara milenial dengan partai mengakibatkan tidak terjadi hubungan antara
pemilih milenial dengan partai politik.
Berebut Milenial
Pemilih milenial (berusia 17-29 tahun) yang
berjumlah kurang lebih 15-20% dari jumlah pemilih secara nasional,
mengakibatkan partai politik saling berebut suara di bagian ini. Tetapi
tantangannya tidak gampang. Selain karakteristik pemilih milenial yang sulit
ditebak, mereka juga mudah berubah dari satu tokoh ke tokoh lainnya, atau dari
satu partai ke partai lainnya. Salah satu yang melainkan generasi
milenial dengan generasi lainnya yaitu akses mereka ke akun sosial media.
Sebanyak 81,7 persen pemilih milenial menyatakan
mempunyai akun Facebook, sementara hanya 23,4 persen dari pemilih non milenial
(berusia di atas 30 tahun) yang mempunyai akun Facebook. Dari segi akses terhadap media online, 54 persen milenial
menyatakan mengakses media online setiap hari. Sementara hanya 11,9 persen dari
pemilih non milenial yang mengakses media online setiap hari. Perbedaan akses
terhadap sosial media dan media online jelas berdampak pada cara milenial
melihat politik dan memengaruhi cara mereka saat memilih dalam pemilu.
Perkembangan platform digital dan media sosial yang
berkembang pesat mengakibatkan partai politik mulai mengambil cara-cara terbaru
guna mendapatkan simpati pemilih milenial. Partai mulai memakai
platform-platform digital seperti Faceboook, Twitter, YouTube, dan Instagram.
Bahkan sejumlah partai politik sudah ada yang menyewa jasa konsultan
profesional untuk mengurus akun media sosial partai.
Mendekati pemilu nasional (legislatif dan presiden)
serentak kelak, beberapa partai politik juga telah menyedia pasukan cyber (cyber troops) demi
meraih simpati pemilih. Asumsi saya, perang cyber (cyber war) antar partai
politik akan mengalami tren peningkatan dari pada pemilu sebelumnya.
Menarik dukungan milenial, tentu tidak cukup semata-mata mengandalkan gadget
memanfaatkan sosial media di ruang-ruang berpendingin udara. Pemilih tentu
memerlukan interaksi langsung dengan partai politik di lapangan. Tidak heran
jika persaingan antar partai di ‘darat’ juga diprediksi akan lebih sengit.
Partai-partai baru akan berhadapan secara langsung
dengan partai-partai yang telah mempunyai infrastruktur dan pengalaman politik
yang kuat dan solid. Bagaimana pun, relasi dan jam terbang politik akan menjadi
variabel penting dalam pertarungan politik di ‘darat’. Sejumlah partai
politik yang telah memiliki infrastruktur politik milenial (kepemudaan) tentu
tidak terlalu kaget dengan persaingan politik di lapangan.
Partai-partai yang sudah memiliki jaringan dan
sayap kepemudaan yang solid diprediksi akan memudahkan persaingan di darat.
Tiga partai besar contohnya sudah mempunyai jaringan kepemudaan yang cukup
kuat. PDIP contonya mempunyai Taruna Merah Putih dan Banteng Muda Indonesia.
Partai Golkar mempunyai Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI), Angkatan Muda
Partai Golkar (AMPG). Sementara Partai Gerindra mempunyai Tunas Indonesia Raya
(Tidar) dan Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria).
Dengan keadaan tersebut, tentu tidak gampang untuk
partai baru untuk dapat merebut segmen pemilih milenial. Selain variabel jaringan
dan pengalaman politik, pertimbangan pilihan milenial juga dipengaruhi oleh
ketokohan aktor politik serta kecondongan yang mudah berubah.
Seorang
Pemimpin besar dengan jeans belel, penuh bordiran mengutak- atik sepeda motor
rakitan. Lalu mengendarainya dengan gaya cassual ala Dillan. Itulah Jokowi
dalam video ini. Ia mampu bergaya lintas jaman. Hari ini ia tampil sebagai
santri yang patuh ikut mengawal Kyai, besoknya ia tampil d hadapan CEO kelas
dunia dengan presentasi mengundang decak kagum, besoknya lagi ia tampil sebagai
kakek yang momong cucunya. Lain kali ia tampil sebagai kepala negara
mengatur birokrasi menggenjot ekonomi membangun harapan. Ia hadir dilintas
jaman.Banyak anak muda percaya Jokowi adalah jawaban doa kaum muda yang ingin negeri ini jauh lebih
baik lagi.
Hasil
survei lembaga kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS)
menunjukkan mayoritas generasi milenial berusia 17-29 tahun optimistis terhadap
pemerintahan Presiden Jokowi Widodo. Dari survei terhadap 1.000 responden yang
terdiri atas generasi milenial (17-29 tahun) dan generasi non-milenial (30
tahun ke atas) di 34 provinsi diketahui sebanyak 75,3 persen generasi milenial
optimistis terhadap pemerintahan.
Sejalan
dengan optimisme tersebut, tingkat kebahagiaan generasi milenial saat ini juga
sangat tinggi mencapai 91,2 persen atau lebih tinggi dibandingkan generasi
non-milenial sebesar 89,3 persen. Generasi berusia 17-29 tahun umumnya jauh
lebih melek teknologi dibandingkan generasi usia 30 tahun ke atas. Selain itu
generasi milenial juga lebih banyak mengakses ke media sosial ketimbang surat
kabar.
Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun lalu menyebutkan total
pengguna internet di Indonesia berjumlah 132,7 juta orang. Sementara 18,4 persennya
adalah akun yang dikelola remaja berusia 10-24 tahun.
Kaum millenial
mudah sekali mengubah pilihannya dan mudah terbawa pengaruh seperti keluarga,
teman bahkan media-media. Apalagi, masih banyak pandangan pemuda yang
berpandangan bahwa politik itu kotor. Tapi Presiden Jokowi sukses menggaet
mereka.
Presiden
Joko Widodo berhasil masuk kedalam segmen kaum millenial, terutama masuk
kedalam musik, hobi atau olahraga, bahkan film sekalipun. Presiden Jokowi
sangat tau apa yang menjadi hobi dan kebiasaan mereka, yang belum dilakukan
oleh kompetitornya.
Meskipun
beliau belum mengetahui apa saja keinginan dari kaum millenial, akan tetapi
dengan memasuki wilayah kesuakaan dan membuat Presiden Jokowi mudah terkoneksi
dengan generasi millennial. Terbukti yang dilakukan Presiden Jokowi cukup berhasil dalam mengambil empati
dari dari kaum millennial.
Presiden
Jokowi adalah rajikan dua generasi. Ia sukses memadukan etos kerja Millenial
dan sikap ngemong kebapakan. Lebih dari itu ia mampu
menerjemahkan satu kata "Harapan"
kata ampuh, mantra sihir perubahan.
4.
ERICK THOHIR IKON MILLENIAL
Ditunjukya pengusaha sukses yang
juga mantan ketua panitia Asian Games, Erick Thohir selaku ketua tim sukses,
menandakan Presiden Ir. H. Joko Widodo sebagai petahana sangat memandang penting
keberadaan pemilih milenial. Erick Thohir, dinilai orang yang cocok untuk dapat
menarik pemilih milenial yang jumlahnya besar tersebut.
Dan betul saja figur Erick Thohir
akhirnya yang ditunjuk Presiden Ir. H. Joko Widodo sebagai ketua
tim suksesnya. Memilih Erick Thohir tidaklah salah . Walau bos Mahaka Grup itu,
bukanlah orang politik, tetapi Erick Thohir adalah figur pengusaha muda yang
sukses. Ditunjuknya Erick Thohir salah satu pertimbangannya yaitu untuk menarik
para pemilih milenial. Erick dinilai berhasil menangani Asian Games dimana
pesta olahraga itu juga menarik antusiasme anak muda.
Salah satu daya tarik Erick
Thohir yang menyebabkan Jokowi yakin menunjuknya, yaitu keberhasilan saat
menyelenggarakan Asian Games. Presiden Jokowi tentu ingin menggaet suara
millenial, karena ErickThohir bisa menjadi panutan kesuksesan bagi anak-anak
muda Indonesia. Nilai lebih lainnya dari Erick Thohir, ucap dia, statusnya
sebagai Pengusaha besar.
Tentu Preisden
Jokowi lebih gampang menghimpun logistik dari para pengusaha untuk persiapan
biaya politik. Ketika ditanya, kelebihan Erick Thohir dibanding Djoko Santoso yang ramai bakal jadi
ketua tim sukses kubu Prabowo.
Erick Thohir dan Djoko Santoso
mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun jika head to head
diantara keduanya bisa seimbang. Djoko Santoso sukses di karir ketentaraannya.
Sedangkan Erick Thohir sukses di dunia bisnis. Dan pengusaha terkadang menjadi
salah satu faktor kemenangan para capres dan cawapres karena mampu mengumpulkan
pendanaan politik untuk pemenangan.
Saat tugas pertama yang penting
segara dijalankan Erick Thohir selaku ketua tim sukses Jokowi-Ma’ruf Amin yaitu
secepatnya mengkoordinasikan tim pemenangan. Baik dari koalisi partai ataupun
dari kalangan relawan. Jokowi menganggap Erick Thohir telah sukses
menyelenggarakan event Asian Games secara sukses.
Dengan pengalaman tersebut, bisa
saja menjadi pengalaman yang berharga bagi pemenangan nanti. Sebenarnyanya pemilihan Erick selaku ketua tim
pemenangan bukan sesuatu yang mengagetkan, sebab namanya telah ramai
diperbincangkan dan berada di top daftar PresidenIr. H. Joko Widodo. Nama Erick kembali
disorot saat ia berhasil menjadi panitia Asian Games ke-18 di Jakarta dan
Palembang.
Dunia internasional memuji kesuksesan Indonesia
menjadi tuan rumah. Salah satu yang menjadi sorotan yaitu upacara pembukaan dan
penutupan Asian Games yang dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno
kemarin. Tetapi, siapa sebenarnya Erick? Bagaimana awal mula Erick dapat
berkenalan dengan Presiden Ir. H. Joko Widodo?
Belajar
menjadi pengusaha dari sang ayah
Teddy
Thohir
Nama Erick dan Boy Thohir pasti familiar atau minimal pernah kamu dengar.
Tapi kamu tahu siapa itu Mochamad Teddy Thohir? Nah, soal ini sih gak ada yang
jamin.
Padahal nih ya, Teddy itu ya ayah dari kakak-beradik miliarder
Indonesia tersebut. Dia juga punya satu anak perempuan yaitu Rika Thohir.
Teddy Thohir wafat pada 1 November
2016 lalu. Buat penghormatan, keluarga Thohir membangun sebuah masjid di
kawasan Depok yang dinamakan At-Thohir. Seperti
anaknya, pria asal Lampung kelahiran 1935 silam ini adalah seorang pengusaha
top. Beliau pun kerap jadi inspirasi oleh banyak pengusaha-pengusaha Tanah Air.
Meski begitu masa kecilnya justru jauh dari kemewahan, malahan sebaliknya. Pengin tahu seperti apa kisah perjalanan
Mochamad alias Teddy Thohir membangun kerajaan bisnis? Mari simak ulasannya di
bawah ini.
Hidup miskin di masa kecil
Ayah dari Presiden Inter Milan dan
Presiden Direktur Adaro Energy ini ternyata lahir di Gunung Sugih, Lampung.
Dalam bahasa Jawa, sugih itu artinya kaya. Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Pada masa
kecil Teddy hidup miskin. Menurut obituari yang dirilis Republika,
tempat tinggal Teddy Thohir saat itu cuma rumah bilik yang beralaskan tanah.
Sementara ayahnya, Abdul Halik, udah meninggal dunia saat dia masih kecil. Meski
demikian, hal itu gak lantas bikin Teddy kecil jadi minder. Teddy malah punya
cita-cita yang tinggi banget.
Setelah lulus
SMP, dia merantau ke Solo dengan menggunakan kereta demi melanjutkan studinya
di SMEA. Modal sekolahnya di Solo didapat lewat bantuan seorang pedagang di
Metro. Di Solo pun dia kerja sambil sekolah, hingga akhirnya bertemu dengan
seorang gadis keturunan Tionghoa yang kelak menjadi istrinya, Edna.
Pak
Teddy wafat dalam usia 81 tahun. Presiden Joko Widodo dan Susilo Bambang
Yudhoyono datang melayat. Ketua MPR Zulkifli Hasan ikut mengantar di
penguburannya. Kisah pria kelahiran 5 Maret 1935 ini layak menjadi inspirasi
bagi seluruh anak negeri. Ia lahir dan tumbuh di Gunung Sugih, Lampung Tengah.
Ayahnya, Abdul Halik, wafat ketika ia masih kecil. Bersama adik dan ibunya,
Teddy kecil hidup dalam keadaan yang miskin. Tinggal di rumah bilik dan
beralaskan tanah. Namun sejak kecil ia anak yang teguh hati dengan tekad kuat.
Diam-diam, di subuh hari, ia pergi meninggalkan ibunya dan menemui pamannya
yang seorang pedagang di Metro, Bandar Lampung. Sekecil itu. Ia ingin sekolah.
Di sini ia menempuh pendidikan SMP.
Tak
berhenti di situ, dilepas pamannya, usai tamat SMP ia merantau sendirian ke
Jawa. Ia ke Solo dengan naik kereta. Ia menempuh pendidikan SMEA I di kota ini
atas saran gurunya di SMP yang mempunyai rekan yang menjadi guru di SMEA itu.
Teddy lulus SMEA tahun 1956. Ia bisa berangkat ke Solo berkat bantuan pedagang
kaya di Metro, tempat ia bekerja sambil sekolah.
Di
Solo ia juga sekolah sambil bekerja. Simpati orang-orang lahir karena
kecerdasannya dan kegigihannya. Setelah itu ia bekerja di Jakarta. Hidup
sebatang kara dan kemudian jatuh cinta pada gadis Tionghoa, rekan kerjanya di
sebuah rumah sakit di Jakarta. Edna, nama gadis itu. Ia seorang perawat.
Jalinan cinta itu tak direstui kedua orangtua Edna, yang berasal dari
Kadipaten, Majalengka. Teddy pun pulang kampung untuk menata hati. Diam-diam
Edna menyusul dan mereka menikah secara Islam. Setelah itu mereka kembali ke
Jakarta dan meniti hidup dari bawah, hingga memiliki satu anak, Rika. Saat
itulah kedua orangtua Edna datang. Tentu suasananya haru biru, tangis yang
bahagia.
Teddy
memiliki rahang yang menonjol. Suaranya agak berat. Intonasinya tegas. Ia murah
senyum, namun wajahnya yang agak persegi membuat dirinya memiliki kharisma.
Kariernya di perusahaan asing yang bergerak di bidang industri kimia, Union
Carbide, sangat baik hingga ia menjadi kepala administrasi.
Namun
jabatan yang baik itu ia tinggalkan ketika mendapat tantangan yang menarik saat
istri TP Rachmat, yang punya hubungan dekat dengan Edna, mengajak Teddy
bergabung dengan Astra. Orangtua Edna juga akrab dengan William Soeryadjaya,
pemilik Astra. Astra kemudian menjadi perusahaan raksasa dan dikenal sebagai
raksasa otomotif serta perkebunan. Teddy di Astra sejak perusahaan ini
benar-benar mulai dari awal sekali, hingga Teddy menjadi salah satu
direkturnya. Namanya cukup dikenang. Suharto, kini sudah almarhum dan pernah
bekerja di Astra namun kemudian bergabung dengan Tommy Soeharto untuk
mendirikan perusahaan mobil Timor, bercerita tentang keluwesan Teddy. “Suatu
saat saya diajak beliau ke suatu kampung. Sesepuh kampung itu mencium
tangannya. Eh, ternyata beliau menjadi khotib di masjid di kampung itu,”
katanya. Suharto bercerita bahwa Teddy sangat persuasif. Saat itu Astra akan
membeli lahan di kampung itu.
Peter
Gontha, kini duta besar di Polandia, menyebut Teddy Thohir dengan singkat.
“Luwes dan tidak punya musuh,” katanya. Gontha mengaku berteman akrab dengan
Teddy. Ia dan Teddy beserta sekitar sembilan orang taipan sering berjalan
bersama. Kelenturan, tekad, keberanian, dan keteguhan membuat Teddy telah
berevolusi dari anak miskin menjadi profesional hingga menjadi seorang
pengusaha. Ia merintis bisnis di bawah naungan TNT.
Tak
hanya itu, ia juga mampu mendidik anak-anaknya agar bisa terbang namun tetap
berpijak di bumi. Boy dan Erick disekolahkan di Amerika Serikat. Tentang
anak-anaknya, suatu saat Teddy bercerita bahwa ia sengaja menyekolahkan
anak-anaknya hingga SMA tetap di Indonesia. “Agar mereka memiliki jaringan yang
baik,” katanya. Bahkan sengaja menyekolahkan di sekolah negeri dengan risiko
terkena bully. “Agar mereka bisa survive dan mampu mengatasi
masalah karena nantinya mereka akan berada di tengah-tengah bangsanya sendiri,”
katanya.
Tak
hanya itu, ia juga mengajarkan anak-anaknya agar berpijak pada agama Islam
secara baik, bahkan memiliki prinsip-prinsip keluarga yang harus terpatri
dengan kuat.
Teddy adalah
fenomena berkah kemerdekaan Indonesia.
Robert
van Niel, dalam buku Munculnya Elit Modern Indonesia, menulis bahwa elite tradisional
Indonesia berorientasi kosmologis. Sedangkan elite modern berorientasi
kemakmuran, karena pengaruh pendidikan. Elite modern pertama lahir berkat
politik etis pemerintah kolonial Belanda. Namun yang bisa sekolah hanya kaum
ningrat saja. Kemerdekaan Indonesia mengubah segalanya.
Semua
rakyat Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah. Sehingga elite
modern yang muncul setelah kemerdekaan lebih beragam latar belakangnya. Namun
Teddy memang istimewa. Jika umumnya berorientasi menjadi pegawai negeri, ia
justru bekerja di perusahaan swasta yang belum menjadi pilihan menarik saat
itu. Pilihan itu membawanya menjadi seorang pengusaha dan kini diteruskan
anak-anaknya sehingga mereka menjadi konglomerat Indonesia. Erick selalu ingat
pesan ayahnya: “Jaga nama baik, karena itu yang utama.”
Kesempatan
bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Bergiat dan beranilah menjemput
masa depan dengan modal di badan kita sendiri. Teddy Thohir sudah
membuktikannya. Dia dan keturunannya menjadi gelombang baru anak negeri yang
masih harus memperbesar lapis entrepreneurshipnya, terutama dari generasi
Muslim
Berkarier di perusahaan asing hingga berlabuh di
Astra
Setelah menyelesaikan
pendidikannya, Teddy Thohir lantas berkarier di sebuah perusahaan asing yang
bergerak di bidang kimia, Union Carbide. Performanya sebagai karyawan cukup
baik. Teddy pun dipromosi menjadi salah satu kepala bagian administrasi. Teddy
memutuskan mundur dari perusahaan itu karena tawaran kerja yang jauh lebih baik
yang ditawarkan oleh istri dari Theodore Permadi Rachmat. Istri Theodore ini kenal dengan Edna. Teddy Thohir pun bergabung
dengan Astra yang pada saat itu dipimpin oleh William Soeryadjaya. Bisa dibilang, karier Teddy di Astra dirintis
dari nol. Dari staf hingga akhirnya berhasil jadi salah satu direktur dan
pemegang saham perusahaan itu.
Mendirikan TNT Group
Buku M
Teddy Thohir
Perusahaan ini memiliki anak
perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam, properti, otomotif, media,
hingga restoran. Beberapa di antaranya adalah PT Adaro Energy, PT Surya Essa
Perkasa, PT Wahanaartha Harsaka, Restoran Hanamasa, Pronto, dan Yakun Kaya
Toast.
Buat properti, TNT dikabarkan memiliki Taman Laguna, Cibubur
Residence, Permata Kranggan, Taman Arcadia Mediterania, Permata Arcadia Cimanggis,
dan Hotel Amaris Bogor. Sementara itu di bidang media, ada PT Mahaka Media.
Banyak banget ya.
Sempat jadi orang terkaya di Indonesia
Berkat kesuksesannya di dunia
bisnis, Teddy Thohir pun sempat merasakan duduk di jajaran orang terkaya di
Indonesia. Setelah mangkat, titel orang terkaya di dunia tetap disandang oleh
salah satu anggota keluarga Thohir yaitu Garibaldi. Pada tahun 2017, Garibaldi
atau yang akrab disapa Boy menduduki posisi ke 23 sebagai orang terkaya di
Indonesia versi Forbes.
Boy sendiri pernah bilang bahwa
sebagai ayah, Teddy udah mendorong anaknya buat jadi entrepreneur lho.Boy
sempat meminta bekerja di Astra, tapi ayahnya bilang bahwa kalau pengin kerja
di sini ya mulai dari bawah. Keputusan
Teddy Thohir itu yang akhirnya bikin Boy memutuskan jadi pengusaha aja.
Berikut potret romantis Erick Thohir bersama keluarganya yang jarang terekspos media.
1. Potret keluarga Erick Thohir sedang makan bersama. Walau
memiliki banyak bisnis, Erick Thohir tetap datang untuk makan bersama keluarga.
Potret romantis Erick Thohir bersama keluarganya
2. Tak ada perayaan meriah ketika Mahendra Agakhan Thohir atau
yang akrab disapa Aga berulang tahun. Perayaan dilakukan hanya dengan acara
potong kue dan foto bersama.
Potret keluarga Erick Thohir ketika sang anak ulang tahun.
3. Bersama dengan dua anaknya dan keponakannya (kanan foto), Erick
Thohir menggunakan pakaian adat khas Jawa. Sepertinya, Erick Thohir sedang
hadir ke acara pernikahan kerabatnya.
Potret keluarga Erick Thohir ketika memakai baju adat Jawa.
4. Dalam akun instagram Mahendra Agakhan Thohir, ia mengunggah
salah satu foto masa kecil mereka dengan sang ayah, Erick Thohir. Terlihat,
Erick Thohir tersenyum bahagia bermain dengan anak-anaknya.
Potret keluarga Erick Thohir ketika sang anak masih kecil.
Wah, dengan banyak aktivitas yang dilakukan oleh Erick Thohir, Ia
tetap meluangkan waktu bersama keluarganya
Pria berusia 48 tahun itu diketahui sebagai salah
satu pendiri perusahaan media, Mahaka Group. Perusahaan tersebut membawahi
beberapa media, seperti Jak TV, Jak FM, Prambors FM, Republika, Delta FM dan
Female FM. Kini, Erick menjabat sebagai
Komisioner PT Mahaka Media, Tbk. Bakat berbisnis Erick nampaknya menurun dari sang
ayah, (alm.) Erick memiliki saham beberapa klub olah raga terkenal di Indonesia dan
luar negeri. Nama Erick semakin meroket saat ia membeli saham
klub olahraga besar di dunia, di antaranya yaitu Philadelphia 76ers,
DC United dan Inter Milan. Walau telah melepas
sejumlah sahamnya, kini ia masih mempunyai 30 persen saham di Inter Milan,
salah satu klub sepak bola besar Italia. Erick juga mempunyai klub olahraga dalam negeri. Ia
membentuk klub bola basket Mahaka Satria Muda Jakarta dan Mahaputri Jakarta
yang saat ini dikenal dengan nama Satria Muda Pertamina.
Kegemarannya di bidang olahraga juga direalisasikan
dengan keterlibatannya sebagai Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh
Indonesia (Perbasi) periode 2006-2010. Kemudian, ia menjabat selama dua periode
sebagai Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA), dari periode
2006-2010 dan 2010-2014. Erick Thohir juga pernah dipercaya sebagai Komandan
Kontingen Indonesia pada Olimpiade
London 2012 dan kini ia menjabat selaku Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia
periode 2015-2019. Erick
Thohir terlibat menjadi ketua panitia Asian Games 2018
Membicarakan perhelatan akbar Asian Games 2018
tidak dapat tidak membicarakan nama Erick Thohir. Karena, ia adalah ketua
panitia pelaksana Asian Games (INASGOC). Walau waktu persiapan termasuk
singkat, yakni sejak 2015 silam nyatanya Erick dan tim sukses menjalankan tugas
dengan baik. Bahkan, rencana sawal Asian Games yang digelar pada 2019, malah
dimajukan menjadi tahun 2018. Indonesia tidak ingin penyelenggaran Asian Games
bersamaan dengan pemilihan presiden.
Pemilihan Erick Thohir diyakini
bisa menggaet suara millenials, walau sejumlah pihak
menilai Erick tidak pantas menjadi ketua pemenangan disebabkan minim pengalaman
di bidang politik, namun anggapan berbeda justru dikemukakan oleh Ketua Umum
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy. Baginya, adanya nama-nama
pengusaha pada daftar tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin salah satunya untuk
mencegah perselisihan kepentingan antara partai politik dalam koalisi.
Sementara pemikiran berbeda diungkapkan Ma'ruf
Amin, Menurutnya, Erick merupakan figur yang mewakili generasi millennial.
“Menurut saya bagus sekali, dia bisa merepresentasikan millennialsImage
Erick Thohir yang masih fresh mewakili millenial, pengusaha sukses dan jadi
tokoh kunci Asian Games yang menuai pujian internasional, akan menjadi pemikat
kuat di media dan di kalangan generasi millenial.
Skuat Presiden
Ir. H. Joko Widodo saat ini
unggul dalam pertempuran 'udara' karena bergabungnya raja-raja media di kubu
petahana.
Sebelumnya di pihak PresidenIr. H. Joko Widodo telah eksis
bos dan dedengkot media seperti Surya Paloh (Ketum NasDem) dan Hary Tanoe
(Ketum Perindo). Dengan bergabungnya Erick Thohir akan semakin kuat penguasaan
serangan udara di tim Presiden Joko Widodo.
Presiden Joko Widodo menang beberapa langkah sebab pandai
memadukan tim yang di darat yang semakin kuat dan besar yakni dukungan para
Gubernur di Indonesia. Di pulau Jawa Presiden
Joko Widodo memperoleh
dukungan kuat mulai dari 3 daerah terbesar, Jabar, Jateng, Jatim telah bulat
dan terang mendukung Presiden Ir. H. Joko Widodo plus Gubernur
Banten. Dari timur ada Papua, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Kalbar, Sultra,
sampai ke barat yakni Sumsel, dan lain-lain.
Presiden Joko Widodo memainkan siasat yang penuh dengan banyak kejutan.
guna menarik kelompok millenial yang kini menjadi kelemahannya, Presiden Joko Widodo tepat dan efektif menunjuk Erick Thohir. Pemilihan
ini tak lepas dari gaya Presiden Joko Widodo sendiri. Presiden Joko Widodo berjiwa muda, pekerja keras dan
sama-sama dengan latar belakang pengusaha, mirip dengan yang terdapat dalam
diri si Erick. Erick sendiri sangat terkesan dengan jiwa pekerja keras Presiden Joko Widodo. Sehingga kliklah keduanya saling mendukung dan
menyokong sebab gesit dan pekerja keras. Erick berhasil di Asian Games sebagai
Ketua Inasgoc hingga mendapat pujian internasional yang tidak ada habisnya.
Dampak keberhasilan di Asian Games ini akan menjadi modal untuk Erick guna
membawa kemenangan telak Presiden Ir. H. Joko Widodo.
Tangan emas serta tangan dingin Erick akan menjadi
ancaman untuk Prabowo – Sandi yang memipunyai timses yang sudah senior yakni
Djoko Santoso. Perumpaannya Erick ini rising star akan beradu dengan Djoko
Santoso yang jauh lebih tua. Erick akan menutupi kelemahan Presiden
Ir. H. Joko Widodo dan Pak Ma’aruf yang telah menang di
golongan usia yang lebih dewasa hingga tua.
Sementara di pemilih menengah atas dan muda masih
belum kuat. Mari berharap bahwa Erick sebagai Ketua Timses akan menghadirkan gagasan-gagasan kreatif dan segar apalagi
beliau tidak berlatar belakang politik, ini akan menarik dan memberikan banyak
kejutan dan terobosan. Mari nikmati nanti kreatifitas si Erick memoles timses Presiden
Ir. H. Joko Widodo -Ma’aruf ke depannya sebab ini
yang nantinya sudah ditunggu-tunggu.
Beberapa tahun lalu, hampir seantero Indonesia dibuat terkejut
sekaligus kagum dengan sebuah berita akuisisi klub sepakbola terkenal asal
Italia. Seorang anak bangsa diberitakan berhasil menjadi pemilik saham
tertinggi Internazionale Milan. Nama Indonesia otomatis terangkat dengan pemberitaan tersebut. Wajahnya terpampang di beberapa
halaman depan koran-koran internasional dunia, tanpa terkecuali Indonesia.
Benar, anak bangsa yang Hipwee maksud adalah Erick Thohir. Dia menjadi orang
Indonesia pertama yang berhasil memiliki salah satu klub tenar di jagat
sepakbola. Gelontoran dana sebesar 350 juta Euro (sekitar Rp 5,3 triliun) saat itu berhasil membuatnya menjadi
pemilik saham terbesar klub sebanyak 70 persen. Namun siapa sebenarnya Erick
Thohir? Kali ini Hipwee mau mengajak kenal lebih dekat sambil berharap kamu bisa terinspirasi oleh
kisahnya di dunia usaha.
Erick muda bukanlah tipe anak yang cuma bisa menikmati kekayaan
keluarganya. Dia memanfaatkan hal tersebut untuk menjadi individu yang mandiri
ke depannya
Tepat pada 30 Mei 1970, Erick
Thohir lahir di Jakarta. Erick memang anak dari pengusaha Astra Internasional
Tbk, Teddy Thohir, tapi Erick muda bukanlah tipe orang yang hanya bisa
menikmati kekayaan keluarganya. Dia dan saudara-saudaranya yang lain malah
diwarisi ilmu dan diperkenalkan banyak tentang berjuang di dunia bisnis. Ketika
di sekitar kita ada beberapa anak orang kaya yang memilih berleha-leha –
sekolah atau kuliah nggak genah dan sering foya-foya – karena percaya
kekayaan orangtuanya sudah cukup bisa mencukupi hidupnya. Erick berbeda. Dia
serius berkomitmen melanjutkan pendidikannya. Jurusan periklanan di Glendale
University, Amerika Serikat jadi pilihannya. Tak puas dengan ilmu yang didapat,
dia kemudian melanjutkan kuliahnya ke National University California, dan menyabet
gelar master di jurusan Administrasi Bisnis.
Kembali ke Indonesia, tak lantas
langsung enak-enak menikmati kekayaan keluarga. Ia sempat membantu keluarga di
bidang usaha makanan, Hanamasa dan Pronto. Walaupun sang ayah memiliki banyak
bisnis, tapi siapa sangka kalau sang ayah malah melarang Erick melanjutkan
bisnis keluarga. Ayahnya tersebut ingin anaknya mandiri, mempunyai usaha
sendiri dan menemukan kesuksesannya sendiri.
Erick menerima tantangan tersebut
dan terbukti berhasil mengejawantahkan dirinya sebagai orang mandiri.
Erick berhasil memanfaatkan ‘anugerah’ (kekayaan keluarga)
tersebut bukan untuk menikmatinya saja, tapi sebagai modal berharga untuk
pijakan selanjutnya. Ia menimba ilmu yang tinggi, menjadi individu yang
mandiri, kemudian membuka usaha-usaha lain.
Lepasnya Erick dari bisnis keluarga sempat dihalangi
saudara-saudaranya. Namun, Erick mantap memilih berkiprah secara mandiri tanpa
campur tangan keluarga dan sukses di bisnis media
Menurut beberapa sumber, lepasnya
campur tangan Erick pada bisnis keluarga sempat dihalangi beberapa saudaranya.
Erick dinilai punya potensi besar untuk melanjutkan dan membuat usaha keluarga
menjadi lebih besar. Namun apa daya, Erick telah memilih langkahnya. Selepas
tak mencampuri bisnis keluarga, Erick memulai petualangan baru sebagai
pebisnis. Dia memulai kiprahnya di dunia trading. Erick dan teman-temannya – Wisnu Wardhana,
Harry Zulnardy, dan Muhammad Lutfi – kemudian mendirikan Mahaka Group,
perusahaan dulu hanya bergerak di bidang pertambangan, keuangan dan media.
Mahaka Group makin tenar ketika
membangun Radio One Jakarta pada 1999 dan mengakuisisi harian Republika yang
saat itu hampir bangkrut pada 2000. Sampai tahun 2009, Mahaka Group tercatat
telah berkembang dan menguasai majalah a+, Parents Indonesia, dan Golf Digest. Sedangkan
pada bisnis surat kabar, Mahaka Group menaungi Sin Chew Indonesia dan
Republika.
Selain itu, Mahaka jugalah yang memiliki JakTV, GEN 98.7 FM, Prambors FM, Delta FM, dan FeMale Radio.
Erick menjadi lebih dikenal para
pegiat media ketika berhasil menyelamatkan Harian Republika — media yang
terkenal Islami. Tak hanya menyelamatkan, tapi dia dan kawan-kawan berhasil
menaikan kembali pamor Republika. Sampai sekarang, Republika tetap
bertahan dan menjaga pamornya, serta tak menutup diri untuk ikut merambah dunia
online.
Selain bersama Mahaka, Erick juga digandeng Anindya Bakrie untuk bergabung di
perusahaan media. Meskipun jadi pemegang saham minoritas, tapi posisi yang
diduduki Erick cukup penting. Ia didapuk Direktur Utama PT Visi Media Asia Tbk
(VIVA), induk usaha dari TVOne.
Tampaknya Bakrie paham betul
potensi yang dimiliki Erick dalam rangka membantu kelangsungan dan kesuksesan
perusahaan medianya. Untuk informasi, keluarga Bakrie memiliki saham sekitar 90
persen.
Erick di sambut Moratti (paling
kanan) saat tiba di Inter via gazzetta.it
Namun yang perlu kita sadari dari
langkahnya tersebut adalah kebrilianannya melihat celah dan kesempatan.
Beberapa pakar sepakat kalau langkah Erick membeli saham Inter Milan
adalah kepintarannya dari sudut pandang pemasaran yang tak terbantahkan.
Bahkan belum lama ini, Erick dikabarkan mendapat untung atas penjualan 40
persen sahamnya ke sebuah konsorsium asal Tiongkok.
Kalau dipikir, kenapa bisa seorang pebisnis muda asal negeri
antah berantah membeli sebuah klub pemegang scudetto 18 kali, tiga trofi Liga
Champions dan tiga trofi Europa League?
Seperti kita ketahui, pangsa pasar dan nilai jual klub Italia pada
saat Erick — dan saat ini mungkin masih — mengakuisisi Inter jelas kalah jauh
dibandingkan klub-klub Liga Inggris. Pamor klub-klub Italia anjlok. Jumlah
penonton yang datang ke stadion semakin sedikit. Lalu, makin sering kita
menyaksikan kaos tim-tim Liga Italia menjadi polos tanpa sponsor.
Minimnya prestasi klub-klub Italia
menjadi alasan. Jatah tim Italia yang berlaga di Liga Champions — kompetisi
tertinggi antarklub Eropa — pun dikurangi. Bahkan rangking Liga Italia harus turun
sejak beberapa tahun lalu, dan disalip Liga Jerman yang makin sehat masalah
ekonominya.
Mungkin ada pertanyaan: kenapa
nggak mengakuisisi klub Spanyol saja? Bukankah beberapa klub sedang kepayahan
dalam masalah ekonomi? Erick mungkin sadar kalau membeli klub Spanyol,
seperti Real Madrid, Barcelona, atau Atletico sebagai akan disulitkan dengan
harga dan demand suporter
yang haus gelar dan haus pemain mahal. Kalau pun mengakuisisi klub
medioker lainnya, akan terasa sulitnya menggebrak dominasi tiga klub tersebut
di singgasana klasemen. Kontras dengan yang terjadi di Italia. Persaingan
tergolong terbuka. Hanya Juventus yang ditakuti. Di samping itu, kekuatan
imbang terbagi. Ihwal kekuatan, Inter setara dengan Napoli, AC Milan, AS
Roma, Lazio, dan Fiorentina.
Namun dengan nama besar dan jumlah
fans yang tak sedikit di berbagai belahan dunia, pengakuisisian yang dilakukan
Erick dianggap sebagai sebuah kecerdasan. Kecerdasannya makin tampak ketika ia
menjaga suasana hangat suporter Inter. Dia tak begitu langsung menanggalkan
sosok Massimo Moratti dan menjaganya tetap masuk jajaran petinggi klub. Selain
itu, Javier Zanetti, ikon klub Inter, didapuk oleh Erick menjadi wakil presiden
klub.
Aksi Jokowi
Saat Pembukaan Asian Games 2018 Pukau Kaum Milenial
Aksi
pertunjukan motor terbang Jokowi pada pembukaan Asian Games pada Sabtu (18/8)
malam dinilai akan mampu “mencuri” suara pemilih kalangan milenial pada Pilpres
2019.
Pengamat
Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menilai aksi
tersebut dilakukan untuk menggaet suara pemilih kaum muda atau kaum milenial
pada Pilpres 2019.
Momen itu
merupakan yang terbaik untuk garap kaum milenial agar tidak direbut kubu
sebelah. Kita tahu, pasangan Capres Jokowi sudah tidak muda lagi. Jadi Jokowi
lah yang harus menampilkan sisi millenial itu.
Menurutnya,
atraksi tersebut sudah cukup memukau dalam meraih simpati masyarakat khususnya
kaum millenial. Hal itu bisa mendongkrak citra baik Jokowi di mata kaum
millenial, ujarnya.
Jika
dikaitkan dengan tahun politik saat ini, melalui momen tersebut Jokowi ingin
mengirim pesan bahwa dirinya juga mampu melakukan apa yang dilakukan kaum
milenial.
Secara
politik bagus. Secara politik Jokowi ingin
membuktikan segala hal, keberanian, keramahan, kepedulian, kegagahan dan
lain-lain.
5.
Presiden Jokowi: Kelahiran
Generasi Milenial Dapat Membawa Perubahan
Kemunculan generasi Y (sebutan lain
dari generasi milenial) sebagai agen pembawa perubahan akan sangat mempengaruhi
pasar baik politik maupun ekonomi Indonesia dalam kurun 5-10 tahun ke depan.
Hal ini diutarakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri Rapat Pimpinan
Nasional (Rapimnas) I Partai Hanura Tahun 2017.
"Perlu saya ingatkan kepada kita semuanya bahwa
5-10 tahun yang akan datang, sekarang sudah muncul generasi Y yang 5-10 tahun
lagi akan mempengaruhi pasar, akan mempengaruhi landskap politik dan ekonomi
kita. Akan terjadi perubahan yang sangat besar. Transisi ini yang harus kita
waspadai karena generasi Y ini akan mempengaruhi." ( Presiden Joko Widodo )
Hal itu disampaikan Presiden untuk
menyadarkan kepada semua bahwa perubahan global, betul-betul ada, dan sudah
nyata. Beliau menuturkan, generasi Y itu
nantinya sudah tidak membaca koran, tidak melihat TV lagi, tapi pegangannya
hanya satu yakni kotak kecil yang namanya gadget, gawai, atau smartphone.
Mau lihat berita mereka hanya klik di situ. Ingin film atau TV mereka hanya
klik seperti sekarang, Netflix, nantinya semua akan mengarah ke sana. Perubahan-perubahan
seperti inilah kata Presiden, yang harus disadari hingga nantinya akan ada
landskap ekonomi baru dan landskap politik baru, baik global, nasional, maupun
daerah.
Pada kesempatan itu, belia
kemudian mengajak semua kalangan untuk bersiap menghadapi transisi-transisi
seperti ini karena generasi Y atau generasi milenial itulah yang nanti
mempengaruhi pasar, ekonomi, dan politik. Presiden Jokowi juga mengingatkan
berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah termasuk membangun proyek
infrastruktur.
Lebih lanjut, setelah pembangunan
infrastruktur sudah dimulai dikerjakan, kata Presiden, maka tahapan berikutnya
yang harus dimulai adalah pembangunan sumber daya manusia.

"Ini wajib dan
harus kita lakukan karena persiapan-persiapan dalam menghadapi persaingan
global itu harus betul-betul kita siapkan secara detail dan baik. Tidak bisa
lagi misalnya saya berikan contoh pendidikan vokasional kita dan perguruan
tinggi itu monoton dan rutinitas seperti yang kita hadapi sekarang. Linier
seperti yang kita kerjakan sekarang ini. Kita juga harus berani mengubah
semuanya," ( Presiden
Joko Widodo )
Beliau mencontohkan misalnya
SMK yang sudah puluhan tahun hanya membuka jurusan bangunan, jurusan listrik,
dan jurusan mesin, padahal dunia sudah berubah.
Mestinya jurusan-jurusan ini juga harus diganti dengan
perubahan-perubahan yang ada.
Bisa saja jurusan animasi, jurusan
video, jurusan retail, jurusan mekatronika. Beliau berpendapat, dunia sudah
berubah sehingga perlu sikap yang fleksibel dan tidak linier untuk
mengantisipasinya. Oleh karena itu, Presiden meminta jajarannya agar
menyederhanakan regulasi-regulasi yang menghambat untuk diganti dengan
kebijakan-kebijakan baru sehingga lebih fleksibel.
Masa depan ekonomi Indonesia ada di tangan millennials.
1. Ide-ide millennials yang mengubah dunia
Jokowi memberi apresiasi kepada generasi millennial yang
mendirikan usaha.
"Sekarang banyak sekali anak-anak muda yang ingin menjadi
wirausahawan baru."
( Presiden Joko Widodo )
Uniknya, jenis-jenis usaha baru
yang mereka cetuskan tidak terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Tak hanya itu, Presiden Jokowi juga melihat
banyak anak muda yang memiliki tujuan mulia dengan mendirikan wirausaha sosial.
Jenis usaha ini, imbuhnya, memadukan keahlian berusaha dengan ketulusan hati
membantu sesama manusia.
Itulah yang ditunjukkan oleh para wirausahawan sosial yang
mempekerjakan kelompok difabel, yang mendirikan bank sampah, yang menjaga
kelestarian hayati Indonesia.
Presiden Jokowi menyatakan dukungannya atas apa yang mereka
lakukan telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.
"Maka dari itu, energi serta semangat kemajuan generasi
muda dan rakyat Indonesia harus terus kita dukung. Keinginan luar biasa
masyarakat Indonesia untuk menjadi wirausahawan-wirausahawan baru harus diberi
daya untuk tumbuh dan berkembang," ( Presiden Joko Widodo )
2. Revolusi
Industri 4.0
Ke depan, Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan besar,
seperti Revolusi Industri 4.0. "Kita harus bisa bicara tentang
Artificial Intelligence, Internet of Things, dan berbagai kemajuan teknologi
yang hampir setiap detik selalu muncul yang baru," kata Jokowi.
Presiden Joko Widodo menegaskan, Revolusi Industri 4.0 sudah mulai
mengubah wajah peradaban manusia. Oleh karena itu, Indonesia harus cepat
beradaptasi dan tidak boleh tertinggal dari negara-negara lain yang sedang
berlomba dan adu kecepatan.
"Dalam menghadapi dan menyikapi perubahan peradaban manusia
itu, tidak bisa kita lakukan dengan pesimisme dan kekhawatiran yang berlebih.
Kita justru harus optimis dan yakin bahwa modal sosial dan energi kebangsaan
kita kuat untuk melompat ke depan." ( Presiden Joko Widodo )
3. Santri menangkan kontes Robotic Games
Secara khusus, Presdien Jokowi
menyebut prestasi empat santri. "Mereka memenangkan kontes Robotic Games
tingkat dunia di akhir tahun lalu," kata Presiden Jokowi. Prestasi keempat santri itu,
kata dia, adalah bukti bahwa Indonesia tidak perlu takut dengan Revolusi
Industri 4.0, tidak perlu khawatir terhadap masa depan. Kita justru harus
memanfaatkan perkembangan yang ada untuk membawa Indonesia semakin maju. Kita
harus gesit dan cepat memanfaatkan kesempatan yang ada di depan mata.
Ingat
pidato Bung Karno tentang Pemuda? Seperti kutipannya yang meminta seribu
orang tua untuk mencabut Semeru dari akar-akarnya dan sepuluh pemuda saja untuk
memberikan guncangan pada seluruh dunia. Sejak saat itu dipercayai bahwa ujung
tombak nasib sebuah bangsa dipengaruhi oleh pemudanya, bukan orang tua yang ada
di dalam negara tersebut. Orang tua akan menang dalam kebijaksanaan, tetapi
pemuda akan menang dalam tenaga dan ide-ide segar.
Sepertinya
hal tersebut juga diamini betul oleh Presiden RI, Joko Widodo. Tercatat hingga
hari ini sudah sekian banyak tingkah laku Jokowi yang menyedot perhatian
publik. Bukan karena hal-hal berbau politik yang monoton, tetapi melalui
tingkah laku mengejutkan.
Seperti Jokowi
menggunakan bomber, Jokowi menggunakan sneakers, Jokowi mengendarai motor gede,
Jokowi berpenampilan ala Dilan, dan yang terbaru Jokowi bertemu dengan Boyband
Korea, Super Junior. Wow!
Mau
diakui atau tidak, cara Jokowi yang bisa melebur dengan kalangan anak muda ini
menjadi strategi untuk mendapatkan hati para millenial Indonesia. Jokowi tahu
millenial suka nonton Dilan, tak mau ketinggalan beliau berpenampilan ala
Dilan. Jokowi tahu fans K-Pop di Indonesia sangat banyak, tak mau
menyia-nyiakan kesempatan, beliau agendakan waktu kunjungan ke Korea dengan
menemui Super Junior dan bahkan mendapatkan hadiah dari para personel Boyband
Korea tersebut.
Langkah
nyata Presiden Jokowi juga menggaet anak-anak muda pembuat sepatu lokal asal
Bandung. Jokowi seperti tak henti membuat media menyorot langkah-langkah
nyentriknya. Yang menarik adalah ketika Jokowi memutuskan membeli sepasang
sepatu dari buatan anak bangsa, secara tidak langsung bukan hanya Jokowi yang
diuntungkan dengan keberhasilan menggaet hati anak muda, tetapi juga langkah
Jokowi tersebut memberikan peluang pasar yang lebih terbuka untuk para pembuat
sepatu lokal tersebut.
Katakanlah
Jokowi tidak menutup mata pada perubahan zaman. Setelah berpenampilan ala tokoh
film, mendukung usaha anak bangsa, kemudian yang baru-baru ini terjadi adalah
kunjungan Jokowi ke Korea Selatan sangat menuai perhatian karena beliau
mengagendakan pertemuannya dengan Super Junior. Dipastikan pro dan kontra tentu
ada. Tapi dari perdebatan yang terjadi, terutama di media social tersebut,
justru menegaskan bahwa langkah nyentrik Jokowi memang berhasil menjadi buah
bibir.
Yang
lebih menarik perhatiannya lagi adalah ketika Siwon Super Junior mengungkapkan
“ Tuan
Presiden, merupakan suatu kehormatan besar untuk bertemu dengan Anda. Saya
sangat terinspirasi “ ( Presiden Jokowi )
6. Beberapa tren Presiden Jokowi yang cocok dengan gaya generasi
milenial
1. Seorang Presiden Menggunakan Sepatu Sneaker
Sepatu sneakers menjadi
perbincangan warganet setelah aksi Presdien Jokowi dalam berbagai acara
termasuk belum lama ini di kereta Bandara Soekarno-Hatta. Presiden Joko
Widodo tampil menonjol dengan kaos berlengan panjang merah. Atasan itu tampil
senada dengan sneakers merah Roshe One keluaran Nike yang dikenakannya.
Memperkuat kesan kasual Sang Presiden dalam acara peresmian Kereta Bandara
Soekarno-Hatta. Jokowi juga pernah tertangkap kamera memakai Rebook TwistForm
saat jogging di Istana. Atau Nike Lunarepic Low Flyknit 2 yang sempat
diulas Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi di YouTube.
2. Presiden Memakai Jaket Jeans ala “Dilan”
Jaket jeans yang dikenakan Jokowi bikin salah
fokus. Orang nomor satu tersebut tampil percaya diri mengenakan jaket sangar
ala anak muda. Kalau kata anak zaman now kayak Dilan gitu. Menariknya,
jaket yang digunakan Jokowi di bagian depannya ada corak merah dengan gambar
peta Indonesia berwarna putih.
Sontak karena jaket yang dikenakan Jokowi tersebut langsung
menjadi trend dan viral di media sosial. Banyak dari warganet penasaran dengan
harganya dan ingin membelinya untuk dikenakan.
3. Presiden Kendarai Motor Chooper Dalam Meninjau Proyek
Presiden Joko Widodo touring dengan mengendarai sepeda motor Royal
Enfield Bullet 350 cc yang dimodifikasi bergaya chopper saat
kunjungan ke Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Motor chopper ini merupakan motor hasil modifikasi
Elders Garage dan Kick Ass Chopper yang memakai bahan motor Royal Enfield
Bullet 350 dan dibeli Jokowi dengan harga Rp140 juta pada Januari lalu.
4. Julukan “The Vlogging President” Karena Aktif di Youtube
youtube
resmi Presiden Joko Widodo
Akun YouTube Presiden Jokowi diluncurkan pada hari sabtu 28/5/2017
nama Presiden Joko Widodo https://youtube.com/c/jokowi. Didalam chanel yotube
presiden tersebut berisi tentang kegiatan-kegiatan Presiden Jokowi sehari-hari.
Hal ini didasari salah satu keinginan dari Presiden Jokowi agar rakyat bisa
mengenatahui semua kegiatan yang ia lakukan melalui akun Youtube resminya.
Bahkan Presiden Jokowi sampai mendapat julukan oleh masyarakat sebagai “The Vlogging
President”.
5. Presiden Gemar Selfie
Jokowi terlihat melakukan selfie
bersama Presiden Prancis, Emmanuel Macron.
Selain aktif di media sosial,
Presiden Joko Widodo juga dikenal sebagai sosok yang tak segan untuk
melakukan selfie bersama
dengan orang lain. Beberapa kali, mantan wali kota Solo itu juga tertangkap
gambar tengah melakukan selfie dengan pimpinan negara lain.
Kemeja putih bertuliskan "Bersih, Merakyat, Kerja
Nyata" yang dipakai bakal calon presiden Joko Widodo mencuri perhatian masyarakat
yang mengikuti tes kesehatan di RSPAD Gatot Soebroto, Minggu (12/8/2018). Berbeda
dengan versi pertama yang dikenakan Jokowi saat mendaftar ke KPU, tulisan
"Bersih, Merakyat, Kerja Nyata" kali ini penuh warna warni.
Putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep mengatakan, gaya berpakaian itu
atas inisiatif dan kreativitas ayahnya sendiri. Menurut Kaesang, gaya
berpakaian tersebut bentuk representasi anak muda atau generasi milenial. Kaesang yang tampil kasual
dengan kaos putih, celana jeans, dan sneakers keluar bersamaan dengan putri
bungsu bakal calon wakil presiden Ma'ruf Amin, Siti Haniatunnisa.
Jokowi memang tampil unik dengan
kemeja putih bercorak tulisan yang ada di bagian depan. Tulisan "Bersih,
Merakyat, Kerja Nyata" itu tampak ngejreng dalam aneka warna. Adapun, tes
kesehatan ini merupakan rangkaian yang harus diikuti bakal calon presiden dan
bakal calon wakil presiden pada Pilpres 2019.
Presiden
Joko Widodo
dinilai berhasil mengambil hati
generasi milenial. Tak ada pendekatan khusus yang dilakukan Jokowi yang akan
kembali maju di Pilpres 2019, namun melalui hobi yang kerap dia tunjukkan,
seperti membuat video blog (vlog), olahraga, bermain musik, maupun hobi koleksi
motor berdampak simpati generasi milenial.
Dengan
hobi Jokowi menggunakan motor jenis tertentu misalnya, anak-anak muda yang
memiliki hobi yang sama akan merasa senang. Hal itu bisa dinilai sebagai sebuah
pendekatan yang berhasil. Anak-anak motor senang walaupun enggak bicara capaian
dan program Jokowi. Tapi mereka tahu Jokowi suka motor. Jokowi sering ke mal
dengan sepatu kets biasa dan kaus oblong, anak-anak muda senang.
Jokowi yang kerap terlihat berswafoto
atau selfie
juga menunjukkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu memahami selera atau cita rasa
generasi milenial. Beliau punya pendekatan khusus mengambil ceruk milenial dan belum
berhasil diterapkan calon-calon lainnya.
Selama
masa kepemimpinannya 3 tahun ini, Presiden Jokowi sudah blusukan ke ratusan
daerah di Indonesia. Namun rupanya ada hal lain yang juga menarik
perhatian masyarakat,
terkait rajinya Jokowi blusukan dan kehadiran di peristiwa penting. Salah
satunya gaya berpakaian. Berikut ini brilio.net rangkum dari berbagai sumber, Jumat
(9/6), 5 gaya berpakaian Presiden Jokowi paling menyita perhatian masyarakat.
1. Jaket Bomber Jokowi.
foto: youtube.com
Jaket bomber yang dikenakan
Presiden Jokowi saat jumpa pers menanggapi aksi demo 4 November 2016 pada Sabtu
(5/11) rupanya jadi perhatian banyak masyarakat dan menjadi tren di dunia maya
maupun kalangan masyarakat Indonesia. Presiden Jokowi pun akhirnya buka suara,
bahwa jaket yang dikenakannya dan menjadi viral tersebut merupakan jaket
anaknya. Booming jaket Boomber Jokowi pun dimanfaatkan banyak penjual pakaian
online untuk memasarkan jaket anak muda tersebut.
2. Baju daerah Nias.
foto: twitter.com/jokowi
Tepatnya pada tanggal 19 Agustus
2016, Presiden Jokowi bersama Ibu Negara Iriana mengenakan baju daerah Nias.
Dengan warnanya yang mentereng itu, penampilan presiden pun jadi pembicaraan banyak
pengguna media sosial. Namun sebenarnya Presiden Jokowi bukan kali ini saja
mengenakan pakaian adat. Dalam kunjungannya ke berbagai daerah, Presiden Jokowi
kerap sekali mengenakan pakaian adat khas daerah.
3. Jeans dan baju polos putih.
foto: twitter.com/KemensetnegRI
Presiden Jokowi tidak hanya rajin
mengunjungi rakyat yang dipimpinnya. Jokowi juga diketahui aktif blusukan ke
institusi-instutsi penegak hukum dan keamaan seperi Markas Besar Polri dan TNI.
Gaya penampilan Jokowi juga dianggap nyentrik saat menyaksikan TNI Latihan
Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) Tanjung Datuk, Kepulauan Natuna, Kepulauan
Riau pada 19 Mei 2017 lalu. Meski berpakaian santai, Jokowi mengatakan akan
siap untuk 'menggebuk' ormas-ormas yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.
4. Kenakan sarung dan peci hitam
saat turun dari Pesawat Kepresidenan.
foto: twitter.com/KemensetnegRI
Gaya busana Presiden Jokowi
kembali menjadi sorotan ketika melakukan kunjungan ke Pekalongan, Jawa Tengah,
pada awal tahun 2017. Cara berbusana Jokowi ramai diperbincangkan publik,
terutama kalangan pengguna media sosial usai terlihat mengenakan sarung warna
cokelat muda berpadu jas serta peci hitam dan turun dari pesawat kepresidenan.
Presiden kemudian bertemu dengan tokoh agama ternama di kota batik yaitu Habib
Luthfi bin Yahya dan duduk bersama di acara Maulid Nabi Muhammad.
5. Sepatu Nike Jokowi.
Penampilan Presiden Jokowi pada
Jumat (9/6) kembali jadi sorotan dan perbincangan para netizen. Kali ini
perhatian tertuju pada sneakers Nike yang menemani penampilan dalam Penyerahan
Kartu Indonesia Pintar, Tasikmalaya. Presiden Jokowi tampil kasual dengan
kemeja putih yang dipadu dengan jeans. Belakangan diketahui bahwa sepatu
presiden bermerek Nike tersebut berharga Rp 2 juta.
7.
PRESIDEN JOKOWI SANG TRENDSETTER
Percaya atau tidak, Jokowi itu
seorang pemimpin trendsetter yang efektif. Jika Anda sudah tahu, tentu karena
faktanya banyak menunjukkan demikian. Kepala Anda sudah berisi sekian fakta
yang bisa Anda ceritakan. Jika Anda belum tahu, tentu saja tidak berdosa,
tetapi sebaiknya ketahuilah hal ini, sekalipun terlambat. Sebab, Anda sedang
hidup di lingkungan dan media yang terkena pengaruh Jokowi, Jokowi’s Effect.
Sebelum tahun 2012, siapa yang
mengenal istilah blusukan? Mungkin hanya orang Solo yang sudah akrab dengan
istilah ini? Namun setelah Jokowi terpilih sebagai Gubernur Jakarta 2012 yang
lalu, boleh dikatakan seluruh rakyat Indonesia mengenal kata blusukan. Kata
blusukan sangat populer, dan menginspirasi pemimpin daerah lain melakukan hal
yang sama. Sekalipun ada juga yang menamakannya dengan istilah lokal, semisal
kukurusukan. Maklum, ingin disebut beda, padahal mencontoh orang lain.
Gaya
blusukan, mendatangi dan menemui rakyat, mendengar dan memberi solusi langsung
atau segera, menjadi trend leadership nasional. Diakui atau tidak, gaya
blusukan telah menginspirasi sejumlah kepala daerah yang tidak perlu malu
belajar dari kelebihan orang lain.
Baju
kotak-kotak. Siapa sangka bahwa baju kotak-kotak sekarang menjadi sebuah
identitas politik sekaligus kebudayaan. Sebelum Jokowi mengenalkan baju
kotak-kotak ini, para calon pemimpin daerah dan nasional baru membayangkan
kostum hanya sebatas putih, batik, baju koko, baju etnis, atau baju satu warna.
Namun,
begitu Jokowi masuk persaingan Pilgub DKI 2012, mendadak publik sadar bahwa
identitas politik pakaian bisa dibuat kreatif. Baju kota-kotak adalah kreasi
baru dalam politik busana. Dan Presiden Jokowilah yang mengenalkannya. Tidak
pernah terbayangkan sebelumnya bahwa baju kotak-kotak ala Presiden Jokowi ini
kelak menjadi trend pakaian yang booming. Maka, usai sukses baju kotak Jokowi
yang menenggelamkan seluruh identitas pakaian yang dikenakan para cagub
lainnya, maka arena Pilgub Jabar 2013, juga semarak dengan baju motif kotak-kotak,
yang dikenakan oleh Rieke – Teten.
Dan
belakangan, Pilgub DKI 2017 yang baru lalu juga disemarakkan dengan baju
kotak-kotak yang dikenakan oleh Ahok – Djarot. Tentu saja dengan modifikasi dan
penyegaran masing-masing. Tidak dipungkiri, bahwa tren baju kotak-kotak adalah
efek dari Jokowi Trend.
Saat
kampanye Pilpres 2014, siapa yang akrab dengan frasa Revolusi Mental? Bagi para
pembaca sejarah, mungkin frasa ini pernah mereka baca dan temukan dalam
literatur gerakan dan pemikiran, khususnya di negeri ini. Namun kebanyakan
rakyat tidak familiar dengan frasa ini. Lagi pula, sekalipun sebagai sebuah
istilah mungkin frasa ini pernah ada, akan tetapi sebagai sebuah wacana publik
dan politik, frasa ini menggugah kesadaran orang. Ketika pertama kali
mendengarnya, saya sendiri surprised. Wow, revolusi mental.
Dengan
kata ini Presiden Jokowi mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak
semata-mata fisik (sekalipun kita tahu ini memang menjadi target kejaran
Presiden), namun yang tidak kalah penting adalah pembangunan mental. Dan karena
mental rakyat secara kultural dan struktural perlu perubahan mendasar, maka
jargonnya juga harus menyentak dan mengagetkan. Revolusi Mental sudah tepat
untuk menyentak kesadaran tersebut. Dan terbukti, berikutnya Jokowi
memperlihatkan sejumlah gebrakan yang merevolusi mental publik selama ini.
Sebagai misal, pembangunan yang semula membelakangi laut, kini mulai menghadap
lautan.
Bahkan
“panglima” laut Presiden Jokowi pun tidak tanggung-tanggung, seorang perempuan
yang hanya lulusan SMP. Padahal sebelumnya biasanya seorang menteri minimal
lulusan S1. Dengan dipilihnya Susi Pujiastuti asal Pangandaran Jabar, publik
disadarkan bahwa yang penting adalah kualitas personal, bukan catatan formal.
Gara-gara
ini, maka publik sekarang akrab dengan kosakata laut. Bukan hanya tentang Tol
Laut, tetapi juga tentang berbagai hal yang terjadi di laut, publik banyak
melihat dan menyaksikannya. Lautan kini menjadi “tontonan” yang tidak kalah
menarik ketimbang daratan. Tren laut adalah bagian dari setting Presiden Jokowi, yang berhasil menempatkan
orang yang tepat di tempat yang tepat.
Efek
lain dari Revolusi Mental ala Presiden Jokowi juga sekarang kita merasakan
adanya Saber Pungli, Sapu Bersih Pungutan Liar. Ini bukan gebrakan main-main.
Sekalipun gebrakan ini pernah dinyinyiri oleh wakil ketua DPR (kita tahu siapa
dia) sebagai “mengurusi hal kecil”, namun Presiden Jokowi terus melaju, malah
mematahkan “mindsetting” wakil ketua DPR tadi. Kata Jokowi kurang lebih,
“Bahkan pungli sepuluh ribu pun akan saya kejar.”
Di
sini Presiden Jokowi ingin kembali mensettting pikiran publik bahwa yang
namanya pungli, bahkan seribu rupiah pun adalah penyelewengan yang harus disapu
bersih. Jika pun ini sudah terlanjur membudaya di banyak institusi atau
masyarakat, ya harus diperbaiki. Karena itulah diperlukan Revolusi Mental, baik
bagi para pelayan masyarakat, maupun masyarakat sendiri.
Belum
lagi tentang cara berpakaian Presiden Jokowi, atau segala hal yang berkenaan
dengan apa yang Presiden Jokowi kenakan. Jaket, payung, sandal, kopiah,
kombinasi sarung dan jas, dan lain-lainnya, menjadi tren di masyarakat.
Sehingga, di kalangan bisnis atau ekonomi kreatif, tren ini berpengaruh positif
terhadap peluang-peluang ekonomi dan omset bisnis. “Penciptaan” tren yang Presiden
Jokowi lakukan ini bermanfaat besar bagi sebagian rakyat yang menggeluti bidang
ini. Sehingga jelas kepemimpinannya membawa “berkah” bagi rakyat.
Ada
banyak hal lain yang masih bisa kita sebutkan tentang trendsetting Bapak
Presiden. Dan yang paling mutakhir adalah berkenaan dengan Pancasila.
Sebenarnya menyebut Pancasila bagi kita sudah biasa, terutama bagi kalangan
yang lahir sebelum tahun 1980 an. Karena dulu di sekolah ada pelajaran PMP
(Pendidikan Moral Pancasila) dan sering mendengarkan dan menyanyikan lagu
Pancasila.
Namun,
akhir-akhir ini, menyebut kata Pancasila terasa sangat berbeda, dan memiliki
makna yang lebih mendalam. Dulu kebanyakan kita tidak begitu peduli dengan
Pancasila. Bahkan sebagian kita mungkin ada yang memplesetkannya. Akan tetapi,
ketika belakangan ini ada kekhawatiran kolektif nasional menyangkut
prinsip-prinsip kebangsaan, seperti isu kebhinekaan, intoleransi, radikalisme
yang mengatasnakaman agama, dan lainnya, ditambah dengan fenomena sosial
seperti yang sudah kita ketahui bersama akhir-akhir ini, maka menyebut kata
Pancasila terasa emosional dan lebih bermakna.
Karenanya
ketika Bapak Presiden mengingatkan pentingnya Pancasila, publik menoleh dan
menyimak. Bahkan tergerak untuk meramaikan ucapan Presiden. Seperti kita
ketahui, dalam video pada akun instagramnya, yang diposting Senin 29 Mei 2017,
Presiden menyatakan bahwa Pancasila adalah pemersatu bangsa dan negara.
Dan
Presiden kembali membuat tren baru lagi, bagi rakyat. Sekalipun tidak semua
rakyat mengikutinya (terutama para hater), namun banyak yang mengikuti irama
Presiden dalam menyuarakan Saya Pancasila ini. Tren baru yang dimaksud bukan
sekadar ramai mengupload foto Saya Indonesia Saya Pancasila (SISP), namun yang
lebih penting adalah membangun tren kesadaran kolektif tentang pentingnya
ber-Pancasila, dan bersetia kepadanya demi keutuhan dan kemajuan bangsa.
Hanya
saja, seperti biasa, tentu ada saja kalangan yang mencibir dan nyinyir dengan
tren ini. Misalnya ada yang menyebutnya tindakan latah. Ada juga yang menyebut
rakyat yang memviralkan ungkapan SISP sebagai Muallaf Pancasila. Dengan
menyebut Muallaf Pancasila, seolah-olah rakyat yang merespon SISP ini oleh kaum
nyinyir dianggap baru mengenal Pancasila.
Ya
tidak masalah. Orang bebas merespon apa pun di sekitarnya. Akan tetapi, dengan
massifnya SISP ini terlihat bagaimana sekarang publik kembali menengok dan
memperhatikan Pancasila, membicarakan dan mengingatkan untuk memegangnya
kuat-kuat. Baik kalangan yang pro dan kontra Jokowi, sama-sama jadi diingatkan
untuk kembali memegang teguh Pemersatu Bangsa ini. Dan ini sebagai akibat
positif dari tren yang disetting oleh Presiden Jokowi.
Yang
menarik, mengapa rakyat selalu merespon apa yang diucapkan dan dilakukan oleh
Presiden? Ini jelas menunjukkan kesatuan pikiran dan perasaan antara pemimpin
bangsa dan rakyatnya. Jika pikiran dan perasaan keduanya telah bersatu, maka
Presiden tidak perlu memerintahkan atau sekadar menganjurkan, bahkan
semata-mata ucapannya pun akan direspon dan diterjemahkan oleh rakyat dalam
berbagai tindakan yang sealur dan menguatkan.
Ini
merupakan bagian dari manifestasi kepemimpinan yang efektif. Dan ini juga
menunjukkan tren positif dalam kepemimpinan nasional atau lokal. Jika seorang
pemimpin dekat dengan rakyatnya, dan rakyatnya pun dekat dan sepikiran
dengannya, maka antara keduanya selalu ada persenyawaan yang menghasilkan hal-hal
positif. Sekarang, tipe kepemimpinan seperti ini kita temukan di berbagai
daerah di Indonesia, di mana pemimpin dan rakyat menyatu.
Dengan tren ala Jokowi ini,
semoga kelak terus lahir pemimpin-pemimpin baru dengan kualitas hebat.
Inilah tren positif Jokowi untuk
Indonesia… Dan Indonesia masih membutuhkannya…!
8.
Ini Dia 6 Gaya Zaman Now Presiden
Jokowi Saat Naik Motor, Nomor 3 Dijamin Bikin Generasi Millennials Ngelirik
Popularitas
Presiden Joko Widodo memang tak diragukan lagi. Ia
kerap menyita perhatian publik dengan gaya dan pakaiannya yang tak terduga. Apalagi saat meresmikan
tol dan berkunjung ke daerah-daerah menggunakan motor. Presiden Jokowi kerap mengenakan pakaian model kekinian yang membuatnya
terlihat berjiwa muda.
1.
Jaket Denim dan Motor Chopper
Presiden Jokowi mengendarai motor chopper untuk kunjungan
kerja ke Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (8/4/2018). Aksi Jokowi tersebut menarik
perhatian publik. Tak hanya motornya yang menjadi sorotan, jaket yang ia
kenakan juga menarik perhatian. Presdien Jokowi mengenakan jaket demin ala
Dilan. Dibagian dada terdapat peta Indonesia berwarna merah. Sementara dibagian
belakang bertuliskan Indonesia dengan corak batik, tari pendet, reog dan
berbagai budaya Indonesia. Jaket tersebut dibuat selama satu minggu dengan
harga Rp 4 juta.
2.
Shark Skin Jacket by TAD
Saat menjajal ruas trans Papua Wamena-Mamugu I, Presiden Jokowi mengenadarai
motor trail. Saat itu, Presiden Jokowi tampak mengenakan jaket model TAD Shark
Skin ala militer. Ia juga mengenakan fasilitas keamanan berkendara motor trail,
seperti helm, sarung tangan, pelindung lutut dan siku.
3.
Helm Elders Bendera Merah Putih
Helm Elders Bantam dengan tampilan retro dihias gambar bendera merah putih yang
berkibar. Helm Elders Bantam dengan tampilan retro dihias gambar bendera merah
putih yang berkibar. Tetap terlihat keren kan Presiden kita saat menggunakan
riding gear dari Elders Company. Anak muda zaman now, banyak nih yang lagi hits
pakai helm model begini
4. Helm Airoh TRR-S Wintage
Ini Helm Yang Dipakai Presiden
Joko Widodo
Helm open face atau tipe dengan wajah terbuka ini bukan open face biasa, ini adalah
helm khusus trial bike.
Apa itu trial bike? Ingat trial ya bukan trail. Ini adalah jenis motor khusus
melewati halang rintang, melewati batu hingga pegunungan ekstrim. Yang dipakai
Presiden Jokowi adalah merek Airoh TRR-S Wintage Spesifikasinya, helm ini
terbuat dari material HPC (high performance composite).
Beratnya
cuma 850 gram, enggak bikin pegal leher dan kepala nih. Helm gaya seperti ini
memang sedang jadi tren di kalangan pecinta trail off road, meski secara safety
tidak direkomendasikan untuk off road adventure di medan berat. Kalau cuma
untuk trial bike, atau riding di jalanan masih oke lah. Corak yang dipilih juga
Indonesia banget, lihat dong warnanya, merah putih khas bendera Indonesia. Helm
yang dipakai oleh rider trial bike adalah open face tanpa visor dan memiliki
pet pendek sekali.
5.
Sarung Tangan Elders Gasper
Sarung Tangan Elders Jokowi
Enggak cuma pakai helm dan jaket kece, Presiden Jokowi juga memakai sarung
tangan saat mengendarai motor. Berwarna hitam sarung tangan setengah jari yang
dikenakannya juga menarik perhatian. Untuk sarung tangan yang dipakai adalah
Elders Gasper yang harganya Rp 350 ribu.
6. Sneaker
Vans x
Metallica SK8-Hi
Presiden Jokowi mengenakan sepatu
sneaker layaknya kaum milenial. Ia menggunakan sneaker Vans x Metallica SK8-Hi.
Dikutip dari laman Vans, Minggu (8/4/2018), harga Vans x Metallica SK8-Hi
adalah $95 atau setara dengan Rp 1,3 juta (nilai kurs 1 $US setara Rp 13.700). Sepatu
Vans x Metallica SK8-Hi adalah model terbaru yang baru dirilis pada tanggal 16
Februari 2018 lalu. Logo Metallica tercetak dalam warna putih di atas sepatu
hitam. Pada model Vans Sk8-hi, logo Metallica dicetak pada bagian tumit
(heel-cup).
Uniknya, pada mid-sole yang
berwarna putih terlihat logo serupa yang dicetak dengan teknis semacam
"embos" berwarna sama. Sepatu
Vans x Metallica SK8-Hi adalah produk sepatu kolaborasi ketiga kalinta antara
Vans dan Metallica. Sebelumnya, produk
kolaborasinya adalah “Kill ‘Em All” yang sukses besar.
10 Gaya Hits Kekinian Presiden
Jokowi yang Gak Kalah Sama Dilan
Gak
semua negara diberkati dengan pemimpin yang baik. Tapi lebih sedikit lagi
negara yang punya pemimpin bergaya gaul nan trendi. Sebagian darimu mungkin
sudah kenal dengan sosok Justin Trudeau. Perdana Menteri Kanada ini adalah
salah satu tokoh negara paling hits di era masa kini. Namun jangan salah,
Presiden Jokowi asal Indonesia sebenarnya gak kalah hits juga lho.
Presiden
Jokowi kerap mengenakan baju-baju kekinian dan berjiwa muda. Gayanya kerap jadi
sorotan, apalagi di kalangan millennials. Gak sedikit lho pakaian Jokowi yang
kemudian jadi tren dan laris manis ditiru anak muda. Seperti apa saja sih gaya
hits kekinian Presiden Jokowi yang gak kalah sama selebgram ini?
1. Presiden Jokowi tampil cool dengan jaket denim & motor
chopper gagahnya
Yang
terbaru, Presiden Jokowi touring motor di daerah Sukabumi sembari meninjau
program Padat Karya yang dikerjakan oleh warga setempat. Orang nomor satu
Indonesia ini tampak kekinian dengan jaket denim yang digarap oleh Never Too
Lavish, sebuah usaha fashion karya anak negeri.
Motor yang ditungganginya pun
merupakan Royal Enfield Bullet 350 cc bergaya chopper.
2. 11 Agustus tahun lalu, Presiden Jokowi hadiri "We The Fest"
sambil mengenakan sweatshirt kekinian dari distro hits Monstore
Kemarin Presiden Jokowi
menyempatkan diri menghadiri We The Fest di Jakarta International Expo.
Kehadirannya tentu bikin terkejut dan terkesima banyak pengunjung. Beliau
tampil santai dengan sweatshirt gaul keluaran Monstore dan nonton beberapa
pertunjukan dari para penampil seperti Shura. Hits banget deh.
3. Saat mengunjungi Papua bulan
Mei lalu, Jokowi tampak gagah dengan Shark Skin Jacket by TAD
Gaya army sepertinya jadi salah
satu favorit Papanya Mas Gibran nih. Jaket army dari Triple Aught Design ini
gak hanya kokoh tapi juga kece. Wajar kalau habis itu banyak banget yang jadi
pengen punya juga.
4. Jokowi kembali membuat
heboh dengan sepatu Nike yang dipakai Presiden saat ke Tasikmalaya
"Hey Daniel, back at it
again with the Nike!"
Sempat memicu pro dan kontra,
tapi kita perlu sepakat kalau sepatu casual-sporty dari Nike ini asik banget dilihat. Cocok
dengan gaya Pak Presiden. Harganya juga standar sih untuk sebuah sepatu, bukan
yang sampai puluhan juta.
5. Presiden Jokowi sudah terkenal
hobi nonton konser. Ini sosoknya yang tampak necis dengan jaket kulit di konser
Arkarna
Wih, udah sebelas dua belas lah
penampilannya dengan para member band yang lain. Padahal beliau seorang tokoh
negara yang biasanya akrab dengan citra kaku dan membosankan.
6. Jokowi juga fans Napalm Death
dan Metallica. Nih jaket jeans hitam kelam dipadu kaos metal jadinya kece
banget yeah?
Kesukaannya terhadap musik
tertutama musik cadas gak hanya di bibir saja. Pak Jokowi punya koleksi kaos
band yang bisa bikin metalhead lain pada iri. Dipadukan dengan jaket jeans gini
gayanya udah oke punya.
7. Seragam tim nasional Indonesia
juga dipilih oleh sang bapak negara
Pak Jokowi pernah pamer jersey
tim nasional Indonesia saat nonton Piala Presiden di Stadion Gelora Bung Karno.
Alih-alih memilih pakaian resmi atau kaku, sang presiden lebih suka tampil
santai dan membaur dengan para penonton rupanya.
8. Sporty dengan track jacket merah dan
Yeezy abu-abu, Jokowi jalan bareng Duta Toleransi Muda Indonesia
Saat kunjungan ke Sydney,
Austalia sempat jalan-jalan sebentar bareng para Duta Toleransi Muda Indonesia
yang sedang mengikuti program Outstanding Youth for the World.
Bersanding bareng para generasi
muda, Jokowi gak mau kalah dan tampil sporty dengan track jacket merah dan
sepasang sepatu Adidas Yeezy yang populer itu.
9. Pasti belum pada lupa sama hebohnya ZARA Bomber Jacket
yang bikin Pak Presiden tampak super trendy ini dong!