Minggu, 08 Desember 2019

Frederikus Gebze : "Masa Kecil, Masa SD dan Masa SMP Presiden Jokowi"





MASA KECIL
PRESIDEN  IR. H. JOKO WIDODO
“ Lupakan diri Sendiri, investasikan berbuat banyak kebaikan kepada orang lain dan masyarakat. Niscya keduanya membuat kita meraup deviden terbesar dalam hidup “
( Williams Griffith Wilson )
1.    MASA KECIL , SD, SMP, SMA
Presiden Joko Widodo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961 Menjabat Presiden ke-7 Indonesia yang mulai menjabat sejak 20 Oktober 2014. Amanah yang luar biasa karena bisa  dibilang “Wong Ndeso Dadi Presiden “ atau Orang desa jadi Presiden, dan berasal dari berasal dari keluarga yang sederhana.



Dikutip dari Wikipedia, Presiden. Joko Widodo lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sudjiatmi, dan merupakan anak sulung serta putra satu-satunya dari empat bersaudara. Ia memiliki tiga orang adik perempuan bernama Iit Sriyantini, Ida Yati, dan Titik Relawati. Ia sebenarnya memiliki seorang adik laki-laki bernama Joko Lukito, namun meninggal saat persalinan.


Tak jauh berbeda kehidupan bantaran kali masa kini dengan kala itu, banyak digusur atau pun diminta pindah oleh pemilik rumah. Kehidupan Joko Widodo Kecil diwarnai oleh suasana nomaden atau sering pindah-pindah karena harga sewa rumah terus naik.  Bantaran sungai Dawung Kidul menjadi tempat hinggapan kedua dengan suasana yang tak jauh berbeda tapi ukuran yang lebih kecil.  

Berpindah lagi ke daerah Munggur yang lagi-lagi dialiri Sungai Pepe, di situlah kebahagiaan keluarga Notomiharjo bertambah dengan kehadiran tiga putri lagi. Ketiga saudara kandungnya merupakan perempuan, yakni Iit Sriyantini, Ida Yati, dan Titik Relawati
.
Presiden Joko Widodo kecil kerap lari terbirit saat orangtua memergokinya mandi di kali. Atau sekadar mencari telur bebek untuk kemudian di masak dengan kaleng bekas.

“Dulu dengan saya dan teman-teman lainnya, Presiden Ir. H. Joko Widodo sering bermain. Kami mandi di sungai dan mencari telur bebek di Kali Anyar,” ujar Bandi, 59, tersenyum menceritakan kenangannya dengan Presiden Ir. H. Joko Widodo.

 Seringkali, Ibunda Presiden Ir. H. Joko Widodo maupun orang tua lainnya mencari mereka ke sungai. Jika sudah seperti itu, ujar Bandi, mereka akan secepatnya mengambil langkah seribu, pulang karena takut dimarahi. Pria yang berprofesi sebagai sopir itu bercerita, selisih umurnya dengan Presiden Ir. H. Joko Widodo sekira tujuh tahun. “Saya dulu manggilnya ‘Le’, dia manggil saya 'Mas'," kata dia.


Sejak Presiden Joko Widodo menjadi orang penting, dia sungkan untuk menggunakan panggilan itu. "Saya tidak berani manggil ‘Le’. Walaupun pernah Presiden Joko Widodo sendiri meminta saya manggil seperti panggilan masa kecil,” ujarnya. Bandi tak ingat pasti kapan Presiden  Joko Widodo dan keluarganya tinggal di Candirejo Lor. Yang Bandi ingat, Presiden Joko Widodo pindah ke wilayah Sumber, Banjarsari, Solo, pada 1971. Sejak itu, mereka jarang bertemu. "Tapi ia masih suka main kemari,” imbuhnya.

Presiden Joko Widodo, kata Bandi, telah memiliki jiwa kepemimpinan sejak kecil. Selain dikenal cerdas dan pendiam, Presiden Joko Widodo juga kerap mendamaikan rekan-rekannya yang berkelahi. Kalau temannya berkelahi, Presiden Joko Widodo memilih untuk tidak memihak. "Dia pilih pergi. Namun hari berikutnya dia beri solusi dan mendamaikan,” jelas Bandi.

Di mata Bandi, tidak banyak berubah dari Presiden Joko Widodo. Terbukti ketika bertemu beberapa tahun lalu di Bandara Adi Soemarmo, Presiden Joko Widodo langsung merangkulnya. “Saya cuma sopir, menjemput penumpang di bandara. Tak tahunya, dia mendatangi dan merangkul saya. Semua orang heran melihatnya,” pria itu menutup kisah dengan senyum. Penghasilan pas-pasan sebagai tukang kayu di desa membuat Notomiharjo harus memutar otak dengan keras.  Tapi dari kayu itulah Notomiharjo bisa menyekolahkan Presiden Joko Widodo kecil dan ketiga putrinya. Bantaran Kali Anyar menjadi persinggahan selanjutnya karena di situ itulah sebuah pasar kayu besar bergeliat.



Kehidupan keluarga Notomiharjo sedikitnya berubah dari riuh rendah perkampungan menjadi ramai-ramai suasana Pasar Gilingan, Surakarta Pertama kali Presiden Joko Widodo kecil bersekolah adalah di SD Negeri 111 Tirtoyoso, Solo, selama 6 tahun sejak 1968. Tak ada biaya untuk membeli sepeda untuk menemani dia sekolah, maka jalan kaki adalah yang paling memungkinkan.



Sering main kelereng dan mandi di kali

Teman  kecil Presiden  Joko Widodo lainnya adalah Sutarti. Dia mengatakan, mantan Gubernur DKI Jakarta ini tipe anak pendiam dan rajin. "Dia itu anaknya rajin dan pinter. Dia kalau malem selalu belajar. Orangnya juga nggak nakal," kata Sutarti.

Rumah Sutarti dulu berdampingan dengan kediaman keluarga Presiden Joko Widodo di Pasar bambu Gilingan, Banjarsari atau tepatnya di sebelah selatan bantaran Kali Anyar, Solo. Sutarti menceritakan masa kecil dari Presiden Joko Widodo tak ubahnya sama dengan anak-anak lainnya. Jokowi kecil sering bermain kelereng, layang-layang, memancing di pinggir kali.  

 " Presiden  Joko Widodo itu juga sering mandi di sungai sama teman-temannya, " tuturnya.


 Lantas dirinya mengaku sewaktu Presiden Joko Widodo kecil sudah seperti keluarganya sendiri.  Sutarti yang lebih tua delapan tahun dibanding Presiden Joko Widodo ini lebih sering ngemong Presiden Joko Widodo dan tiga adik perempuannya. "Kemarin ketemu terakhir pas open house halal bihalal dengan Presiden Joko Widodo di rumahnya. Ya, beliau masih ingat dengan saya, menyapa seperi biasa. Nggak ada yang berbeda dengan sikap Ir. H. Joko Widodo setelah terpilih Presiden," ungkap Sutarti.

Langkah demi langkah Joko Widodo kecil hingga usia 12 tahun rupanya membuat dia melihat-lihat bagaimana cara menggergaji kayu dan memotong bambu. Telur-telur bebek yang tergeletak tak bertuan juga menarik perhatian bocah itu. Tak ingin berlama-lama menjadi beban ayahnya yang hanya tukang kayu, dia juga memulai berpikir bagaimana cara berdagang.

Presiden Joko Widodo mempunyai banyak cerita unik. Penampilannya dengan tubuh yang kurus saat ini, memang sama seperti penampilannya semenjak masih masa kanak-kanak. Bahkan saat masih duduk di bangku SMP N Solo, celana Presiden Joko Widodo kecil sering melorot, lantaran tubuhnya kekurusan.    



Sutarti (62) pengasuh Presiden. Joko Widodo mengatakan, mantan wali kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta  tersebut dari kecil memang susah makan. Sehingga badannya kurus sekali. Rasa ketertarikan Joko Widodo kecil pada dunia dagang berdagang, dituangkan dengan memanggil-manggil pedagang apa pun yang lewat.

"Saking getolnya saya memanggil pedagang, suatu kali saya dengan kencang meneriaki abang yang entah berdagang apa agar mendekat. Ternyata dia pedagang arang. Terlanjur dipanggil, ya terpaksa Ibu membayar arang-arang tersebut, padahal saya tidak butuh," (Presiden Joko Widodo)

"Masa kecil saya adalah pembelajaran pertama tentang bagaimana memahami kehidupan rakyat. Apa yang saya lakoni saat ini tak bisa terlepas dari atmosfer yang menumbuhkan saya. Bantaran sungai kumuh di Surakarta itu mengajarkan saya banyak hal. Hidup manusia dan harapan," (Presiden Joko Widodo)

Sudah terbiasa melangkahkan kaki dari Pasar Gilingan menuju sekolah, rupanya Presiden Ir. H. Joko Widodo kecil harus pindah lagi bersama keluarganya. Notomiharjo yang tak sanggup lagi membayar sewa rumah pun terpaksa mengajak keluarganya menumpang tinggal di rumah kakak dari Sujiatmi yang terletak di wilayah Gondang Meski sudah tidak lagi tinggal di tengah ramainya Pasar Gilingan, suasana di Gondang terasa lebih hangat.

Satu atap dengan keluarga besar membuat Presiden Joko Widodo kecil merasakan kehangatan. Di sisi lain kehidupan menumpang seperti itu sebenarnya tak seharusnya terjadi. Biar bagaimana pun sebuah keluarga harus mampu menjalani kehidupan sendiri. 
Usaha Notomiharjo berjualan kayu juga semakin terpuruk karena tak lagi bisa berjualan di Pasar Gilingan yang ramai. Bertolak dari kondisi tersebut akhirnya membuat Notomiharjo merambah ke jalanan, menjadi sopir.

 Ayah
Presiden Joko Widodo kecil itu menapaki dunia persopiran mulai dari sopir pribadi hingga sopir bus antar provinsi. 


Setiap malam Sujiatmi menunggu suaminya pulang hingga larut. Tapi ternyata usaha gigih itu tak sia-sia, Notomiharjo kemudian mengajak keluarganya pindah dan mengontrak rumah sendiri di wilayah Manahan. Ketika itu Joko Widodo kecil sudah menginjak usia remaja dan melanjutkan jenjang pendidikan ke SMP 1 Solo, sebuah sekolah yang bisa dibilang favorit.

( BERSAMBUNG )

Sabtu, 07 Desember 2019

FREDERIKUS GEBZE : PRESIDEN JOKOWI DAN GENERASI MILENIAL


GENERASI MILENIAL


1.     Apa dan Siapa Generasi Mllenial itu ?
Dengan terus berjalannya perputaran waktu, seluruh aspek di dunia global ini menjalani banyak sekali perubahan. Demikian juga dengan pola pemikiran dan sudaut perspektif para pemimpin yang tengah akan memimpin Indonesia. Dan sekarang  tahun 2018-2025 dapat dikatakan sebagai era para generasi milenial yang mana kelak para generasi milenial inilah yang akan maju pada panggung politik Indonesia. Saat ini, generasi millennials menjadi subjek yang lumayan hangat dikelompok masyarakat, mulai dari sisi pendidikan, teknologi ataupun moral dan budaya.

Namun sesungguhnya, siapakah generasi milenials itu dan apakah masyarakat sungguh-sungguh paham akan sebutan itu? Millennials atau sesekali juga disebut dengan generasi Y merupakan sekelompok orang yang lahir sesudah

Generasi X, yakni orang yang lahir pada kira-kira tahun 1980- 2000an. Maka ini disebut millenials merupakan generasi muda yang berusia 17- 37 pada tahun ini.

Milenials sendiri dinilai spesial sebab generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berhubungan dengan teknologi. Generasi millennials mempunyai ciri khas tersendiri yakni, mereka lahir pada saat TV berwarna,handphone juga internet telah diperkenalkan. Sehingga generasi ini sangat ahli dalam teknologi.

Generasi Millenial mempunyai keistimewaan yang khas, kita lahir di zaman TV sudah berwarna dan menggunakan remote, sejak masa sekolah sudah memakai handphone, saat ini setiap tahun ganti smartphonedan internet menjadi kebutuhan pokok, berusaha untuk senantiasa terkoneksi di manapun, keberadaan sosial ditentukan dari jumlah follower dan like,memiliki tokoh idola, afeksi pada genre musik dan budaya pop yang sedang tren, turut latah #hashstag ini #hashtag anu, pray for ini dan anu, dan seluruh gejala-gejala kekinian yang tak habis-habisnya menyebabkan generasi orangtua kita kebingungan mengikutinya.

Di Indonesia sendiri dari jumlah 255 juta penduduk yang sudah tercatat, ada 81 juta merupakan generasi millenials atau berusia 17- 37 tahun. Hal ini menandakan Indonesia mempunyai banyak kesempatan untuk membangun negaranya. Namun, kemanakah mereka pergi? Apakah mereka bersembunyi? Sebenarnya  tidak, bila kita memeriksa ke dunia sosial media, generasi millennials sangat mendominasi jika dibandingkan dengan generasi X.

Dengan keahliannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi millenials belum banyak yang mengetahui akan kesempatan dan peluang di depan mereka. Generasi millennials condong lebih tidak peduli terhadap kondisi  sosial di sekitar mereka seperti dunia politik maupun kemajuan ekonomi Indonesia. Memiliki Suara 40 Persen, Generasi Milenial Jadi Penentu pada Pemilihan Presiden 2019

           Suara generasi milenial atau pemilih pemula dipercaya sangat menentukan dalam Pemilihan Legislatif ataupun Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019. Pengamat  Politik Voxpop Center Pangi S Chaniago menjelaskan, jumlah pemilih Pemilu 2019 dari golongan milenial sekitar 40 persen. Artinya, pemilih pemula yang berusia 17-21 tahun. Jumlah generasi milenial di Indonesia memang sangat banyak. Lebih dari 34% dari total populasi penduduk Indonesia termasuk dalam kategori generasi milineal.

Berdasarkan sebuah riset nasional yang dilakukan oleh Alvara Research Center di awal tahun 2018 ini, inilah lima tipe generasi milenial.

Nerd Millenial sebanyak 7,4 %
Nerd milenial adalah mereka yang termasuk dalam golongan milenial secara fisik dan umur, tapi kurang gaul. Mereka memang aktif terlibat dalam dunia kretif dan teknologi, tapi lebih suka menyendiri dan bertingkah sesuai keinginan mereka sendiri.

2. Alay Millenial sebanyak 9,3%
Nah, milenial yang begini memang melek teknologi dan sangat terikat dengan kehidupan media sosial mereka. Biasanya mereka selalu berbagi status atau story di Instagram tentang semua hal yang mereka lalui hari itu. Buruknya, mereka juga suka membagikan berita-berita hoax di grup Whatsapp tanpa mempelajari kebenarannya lebih dulu.

3. Anti-Millenial sebanyak 18,9%
Hanya fisik dan umurnya saja yang masuk ke dalam golongan milenial. Tingkah laku dan pola pikir mereka justru old-school alias kekunoan bukan kekinian. Mereka tidak gaul dan tidak suka berinteraksi dengan media sosial maupun internet.

4. True Millenial sebanyak 22,7%
Kalau ini adalah milenial sebenar-benarnya milenial dengan gayanya yang selalu kekinian dan gadget yang lengkap. Milenial jenis ini paham semua jenis kamera mirrorless terbaru dan fitur-fitur Samsung Galaxy maupun iPhone yang mahal itu.
Mereka juga sangat inovatif, melek teknologi, serta selalu siap dalam menghadapi perubahan.

5. Mass Millenial sebanyak 41,8%
Walaupun millenial, namun mereka sangat "nanggung", meski begitu merupakan tipe milenial paling banyak di Indonesia. Serba nanggung karena mereka secara umum bisa menggunakan internet, cukup mengikuti perkembangan gadget, namun aktif di media sosial tidak seintens True Millenial. Survey ini dilakukan pada 2.200 responden di seluruh Indonesia dengan rentang usia antara 15-39 tahun.

Generasi milenial mempunyai sifat kreatif, percaya diri, tidak loyal dan tidak ingin menjadi objek politik. Generasi milenial bukan tipe yang ingin diatur. Mereka sangat erat kaitannya dengan media sosial. Generasi Millenial di Indonesia mempunyai semangat inklusif yang lebih tinggi dibanding generasi sebelummnya.

Yaitu, semangat merangkul semua jenis latar belakang, ras, suku, agama. Politik inklusif menjadi cara atau metode strategis guna berpatisipasi dalam berpolitik, demokrasi, dan pemilu. Karena dengan begitu akan banyak kawan, dengan banyak kawan maka banyak pula sumber daya, sehingga ketika memainkan peran politik di level masyarakat politik, langkah-langkahnya akan menjadi lebih ringan


2.  Enam Karakter Kepemimpinan Milenial

Millenial Leader
Zaman kian berubah, manusia pun didesak untuk mengikuti segala perubahannya. Ramainya teknologi yang merekomendasikan artificial intelligent, seperti robot pintar dan sejumlah aplikasi di smartphone, malahan mengancam keberadaan manusia itu sendiri. Sikap malas, manja, egois, dan perilaku serba instant adalah sejumlah sikap negatif yang terdapat pada mayoritas manusia milenial. Dengan maraknya perusahaan yang sekarang ini para pekerjanya berasal dari generasi milenial, tak heran bila banyak perusahaan yang mulai berfokus terhadap kinerja generasi milenial.

Oleh sebab itu, diperlukan karakter kepemimpinan yang sanggup mengurangi sikap negatif di atas dan dapat mengeluarkan seluruh potensi positif dari kaum milenial seperti melek teknologi, cepat, haus ilmu pengetahuan, dan publikasi. Di bawah ini terdapat 6 (enam) karakter kepemimpinan yang diperlukan di masa milenial.

Digital Mindset
Dengan kian maraknya orang yang memakaismartphone, maka akses komunikasi antar individu pun sudah tidak bersendat lagi. Ruang pertemuan fisik beralih ke ruang pertemuan digital. Kini sudah menjadi kelaziman bila seseorang mempunyai lebih dari 1 (satu) group di aplikasi WA maupun Telegram mereka. Pemimpin di era milenial mesti dapat menggunakan kemajuan teknologi ini guna melahirkan proses kerja yang efisien dan efektif di lingkungan kerjanya. Contohnya dengan melangsungkan rapat via WA maupun Anywhere Pad, merubah surat undangan tertulis dengan undangan via email maupun Telegram, dan membagi product knowledge ke klien via WA. Bila seorang pemimpin tidak berusaha mendigitalisasi pekerjaannya di era sekarang ini, maka dia akan dinilai tidak adaptif oleh kliennya dan bahkan rekan kerjanya sendiri.

Seperti yang dimuat oleh DDI (Development Dimensions International) dalam penelitiannya di tahun 2016, mayoritas millenial leader menyukai sebuah perusahaan yang fleksibel terhadap jam kerja dan tempat mereka bekerja.

Hal ini tentu saja dikarenakan oleh kecanggihan teknologi yang menyebabkan orang dapat  bekerja dimana saja dan kapan saja. Bisa dilihat bahwa hari ini banyak sekali coffeeshop yang berfungsi sebagai co-working space tersebar di tempat kita dan sebagian besar konsumennya merupakan millenials.



Observer dan Active Listener
Pemimpin di era milenial mesti bisa menjadi observer dan pendengar aktif yang baik untuk anggota timnya. Apalagi bila kebanyakan timnya merupakan kaum milenial. Hal ini disebabkan kaum milenial tumbuh beriringan dengan munculnya media sosial yang menyebabkan mereka kecanduan untuk diperhatikan.

Mereka akan sangat menghargai dan termotivasi bila dikasih kesempatan untuk berbicara, berekspresi, dan diakomodasi gagasan-gagasannya oleh perusahaan. Mereka haus akan ilmu pengetahuan, pengembangan diri dan menyukai untuk berbagi pengalaman.Untuk menjadi observer dan active listener yang baik, tidak ada salahnya jika pendekatan dilakukan via medi    Manajemen perusahaan, atau ketidakjelasan manual produk yang dikeluar perusahaan. Oleh sebab itu pemimpin yang agile, hal ini kelak akan disederhanakan, diperbaiki, dan disempurnakan. Pemimpin yang agile sanggup membawa organisasinya untuk dengan cepat mengakomodasi perubahan. Seperti Pep Guardiola yang menyempurnakan Total Football dengan Tiki Taka-nya. Cara untuk menjadi pemimpin yang agile diantaranya yaitu memperbanyak membaca buku, mengobservasi peristiwa dan silaturrahim.

Inclusive
Di dalam bahasa Inggris, inclusive diartikan "termasuk di dalamnya". Secara istilah, inclusive diartikan sebagai memasuki cara berpikir orang lain dalam memandang suatu isu. Pemimpin yang inclusive diperlukan di era milenial disebabkan perbedaan perspektif antar individu yang semakin canggih.

Hal ini disebabkan oleh maraknya informasi yang kian gampang diakses oleh siapapun, dimanapun, dan kapapnpun sehingga membangun pola pikir yang berbeda antar individunya. Pemimpin yang inclusive diharapkan bisa menghargai setiap pemikiran yang ada dan memanfaatkannya untuk meraih tujuan organisasi. Pemimpin
juga mesti memberikan pemahaman akan pentingnya nilai, budaya, dan visi organisasi kepada anggota timnya secara lengkap sebab kalangan milenial akan berlaku secara antusias bila perbuatannya mempunyai meaning.

Supaya menjadi pemimpin yang inclusive, pemimpin juga tidak dapat lagi berlaku sebagai boss, melainkan leader, mentor, dan sahabat untuk anggota timnya. Hal ini dikarenakan sebagian besar kalangan milenial menganut nilai-nilai seperti transparansi dan kolaborasi pada hidup mereka. DDI dalam kajiannya di tahun 2016, memberikan bahwa millenials menyukai perusahaan yang memberikan frekuensi lebih banyak guna memperoleh mentoring dan training dari para manajer di atasnya atau para expert.

Brave to be Different
Lain dan menginspirasi di era sekarang, ternyata masih banyak orang yang tidak percaya diri untuk menentukan sebuah langkah atau keputusan penting dalam peraihan cita-citanya sebab hal tersebut bertolak belakang dengan kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Masalah sejenis ini bila didiamkan, akan menjadi halangan seseorang bahkan sebuah perusahaan untuk lebih maju. Seringkali kebiasaan di sebuah  perusahaan menyebabkan orang lebih suka membenarkan yang biasa dibandingkan membiasakan yang benar. Ini merupakan tantangan untuk para pemimpin milenial dalam mengubah keadaan tersebut dan menegakkan nilai bahwa berbeda itu boleh asalkan dengan perencanaan dan maksud yang jelas.

Oleh sebab itu, untuk memberi contoh, pemimpin mesti berani berbeda, baik dari cara berpikir, kebijakan, ataupun penampilannya. Tentu berbedanya untuk kebaikan tim dan perusahaan, contohnya membebaskan pakaian kerja tim yang awalnya berseragam menjadi pakaian semi formal supaya meningkatkan semangat bekerja mereka sebab tampak keren di depam teman kantornya.

Hal ini menegaskan kepada tim bahwa setiap orang mempunyai keistimewaan masing-masing dan disalurkan untuk kepentingan organisasi juga salah satu tugas dari pemimpin. Unbeatable (pantang menyerah) Mindset pantang menyerah tentu mesti  dimiliki oleh seluruh pemimpin. Apalagi memimpin anak-anak di era milenial yang kental dengan sikap malas, manja, dan merasa paling benar sendiri. Pemimpin milenial harus mempunyai sikap positive thinking dan semangat tinggi dalam mengejar goals-nya.

Halangan yang timbul seperti kurangnya respect dari pegawai senior ataupun junior mesti dapat diselesaikan dengan sikap ulet dan memperlihatkan kualitas diri. Situasi kompetisi kerja di era globalisasi mesti memicu pemimpin untuk meningkatkan soft skills contohnya keahlian bernegosiasi, menginspirasi, dan critical thinking, dan hardskills-nya seperti menggarap desain grafis dan berbahasa asing.

Maka dari itu, wajib untuk pemimpin untuk menjadi sosok yang unbeatable yang mempunyai keahlian bangun dari kegagalan dengan cepat dan pantang menyerah dalam menggapai tujuannya.



3.     Pemilu 2019 dan Pemilih Milenial

Perubahan politik di tingkat lokal tersebut mesti dibaca partai politik di tingkat nasional. Perubahan kepemimpinan nasional belum terjadi dengan baik. Sejumlah pimpinan partai politik ada yang tidak pernah dirubah atau menjabat secara berturut-turut lebih dari dua periode kepengurusan. Keadaan tersebut jelas tidak baik untuk sirkulasi dan regenerasi kepemimpinan di tingkat nasional.

Terhambatnya regenerasi dan sirkulasi ini akan mengacaukan suksesi politik di internal partai pada masa akan datang.  Demi menyiapkan regenerasi politik, saya kira partai politik harus merancang perubahan desain kelembagaan dengan meyediakan ruang untuk pemilih muda atau milenial. Partai mesti memberikan kepastian jenjang karier untuk anak-anak muda dan milenial saat berkarir di partai politik.


 Partai politik juga mesti menyediakan cara guna memberikan ruang untuk generasi muda/milenial guna berpatisipasi pada kegiatan-kegiatan politik. Jauhnya jarak antara milenial dengan partai mengakibatkan tidak terjadi hubungan antara pemilih milenial dengan partai politik.

Berebut Milenial
Pemilih milenial (berusia 17-29 tahun) yang berjumlah kurang lebih 15-20% dari jumlah pemilih secara nasional, mengakibatkan partai politik saling berebut suara di bagian ini. Tetapi tantangannya tidak gampang. Selain karakteristik pemilih milenial yang sulit ditebak, mereka juga mudah berubah dari satu tokoh ke tokoh lainnya, atau dari satu partai ke partai lainnya. 

Salah satu yang melainkan generasi milenial dengan generasi lainnya yaitu akses mereka ke akun sosial media. Sebanyak 81,7 persen pemilih milenial menyatakan mempunyai akun Facebook, sementara hanya 23,4 persen dari pemilih non milenial (berusia di atas 30 tahun) yang mempunyai akun Facebook.  Dari segi akses
terhadap media online, 54 persen milenial menyatakan mengakses media online setiap hari. Sementara hanya 11,9 persen dari pemilih non milenial yang mengakses media online setiap hari. Perbedaan akses terhadap sosial media dan media online jelas berdampak pada cara milenial melihat politik dan memengaruhi cara mereka saat memilih dalam pemilu. 

Perkembangan platform digital dan media sosial yang berkembang pesat mengakibatkan partai politik mulai mengambil cara-cara terbaru guna mendapatkan simpati pemilih milenial. Partai mulai memakai platform-platform digital seperti Faceboook, Twitter, YouTube, dan Instagram. Bahkan sejumlah partai politik sudah ada yang menyewa jasa konsultan profesional untuk mengurus akun media sosial partai. 

Mendekati pemilu nasional (legislatif dan presiden) serentak kelak, beberapa partai politik juga telah  menyedia pasukan cyber (cyber troops) demi meraih simpati pemilih. Asumsi saya, perang cyber (cyber war) antar partai politik akan mengalami tren peningkatan dari pada pemilu sebelumnya.  Menarik dukungan milenial, tentu tidak cukup semata-mata mengandalkan gadget memanfaatkan sosial media di ruang-ruang berpendingin udara. Pemilih tentu memerlukan interaksi langsung dengan partai politik di lapangan. Tidak heran jika persaingan antar partai di ‘darat’ juga diprediksi akan lebih sengit.

Partai-partai baru akan berhadapan secara langsung dengan partai-partai yang telah mempunyai infrastruktur dan pengalaman politik yang kuat dan solid. Bagaimana pun, relasi dan jam terbang politik akan menjadi variabel penting dalam pertarungan politik di ‘darat’. 

Sejumlah partai politik yang telah memiliki infrastruktur politik milenial (kepemudaan) tentu tidak terlalu kaget dengan persaingan politik di lapangan. Sebab, beberapa aktivis sayap pemuda partai tersebut sudah menlaksanakan kompetisi di internal organisasi yang meletihkan dan persaingan di Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP), seperti di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) atau di organisasi ekstra kampus, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi  Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) atau Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dll.  Partai-partai yang sudah memiliki jaringan dan sayap kepemudaan yang solid diprediksi akan memudahkan persaingan di darat.

Tiga partai besar contohnya sudah mempunyai jaringan kepemudaan yang cukup kuat. PDIP contonya mempunyai Taruna Merah Putih dan Banteng Muda Indonesia. Partai Golkar mempunyai Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI), Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG). Sementara Partai Gerindra mempunyai Tunas Indonesia Raya (Tidar) dan Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria). 



Dengan keadaan tersebut, tentu tidak gampang untuk partai baru untuk dapat merebut segmen pemilih milenial. Selain variabel jaringan dan pengalaman politik, pertimbangan pilihan milenial juga dipengaruhi oleh ketokohan aktor politik serta kecondongan yang mudah berubah. Ditunjukya pengusaha sukses yang juga mantan ketua panitia Asian Games, Erick Thohir selaku ketua tim sukses, menandakan Presiden Ir. H. Joko Widodo sebagai petahana sangat memandang penting keberadaan pemilih milenial. Erick Thohir, dinilai orang yang cocok untuk dapat menarik pemilih milenial yang jumlahnya besar tersebut.

Upaya Presiden Joko Widodo untuk meraih dukungan pemilih milenial (17-29 tahun) nampaknya tidak gampang. Tinjauan CSIS Agustus 2017 mendapatkan selisih suara Presiden Ir. H. Joko Widodo dan Prabowo Subianto hanya berjarak sebesar 8 persen. Sebesar 33,3 persen pemilih milenial mengaku akan memilih Presiden Ir. H. Joko Widodo ketika  survei dilaksanakan dan 25 persen mengaku akan memilih Prabowo Subianto. 

Kurang lebih 39 persen suara pemilih milenial tersebar ke banyak tokoh. Kemudian sisanya menyatakan belum memiliki pilihan dan tidak menjawab. Sedangkan pada pemilih non-milenial (berusia di atas 30 tahun), selisih suara Presiden Ir. H. Joko Widodo dan Prabowo sekitar 30 persen suara. Tidak optimalnya suara Presiden Ir. H. Joko Widodo di pemilih milenial jelas  mengejutkan. Padahal beberapa cara telah dijalankan untuk memperoleh dukungan milenial.

Mulai dari mengajak para blogger dan pegiat media sosial pada jamuan makan di Istana Negara, sampai membuat vlog dan eksis di YouTube.  Pemilih milenial benar-benar sulit ditebak. Mereka mewakili genre baru pemilih Indonesia yang memiliki pandangan unik daripada pemilih lainnya. Mereka juga gampang berubah ke lain hati, apalagi jika mendapatkan idola baru.

Opsi pemilih milenial terhadap partai politik juga berbeda. PDIP sebagai partai pemenang pemilu tidak seputuhnya dapat optimal meraih suara milenial. Ketika survei dilaksanakan, 26,5 persen milenial mengaku akan memilih PDIP, Gerindra (17,8 persen), Demokrat (13,7), Golkar (10,7), dan Perindo (4,5) sebagai lima partai teratas dipilih oleh milenial. 

Tren lain yang terjadi yaitu fenomena menarik di level daerah. Sensus Nasional CSIS pada tahun 2015 terhadap pimpinan Partai Golkar, Gerindra, PDIP, dan PAN di segala provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia, mendapatkan adanya regenerasi politik di tingkat lokal. Para pimpinan partai di daerah rata-rata berusia pada kisaran 40-45 tahun. Perubahan politik lainnya yang didapatkan yakni pimpinan elite di tingkat lokal mulai berganti dari yang berlatar aktivis politik (partai, LSM, media massa, dosen) menjadi pengusaha. Sebagian besar pimpinan partai di daerah kini mempunyai latar belakang sebagai pengusaha. 

Perubahan politik di tingkat lokal tersebut mesti dibaca partai politik di tingkat nasional. Perubahan kepemimpinan nasional belum terjadi dengan baik. Sejumlah pimpinan partai politik ada yang tidak pernah dirubah atau menjabat secara berturut-turut lebih dari dua periode kepengurusan. Keadaan tersebut jelas tidak baik untuk sirkulasi dan regenerasi kepemimpinan di tingkat nasional.

Terhambatnya regenerasi dan sirkulasi ini akan mengacaukan suksesi politik di internal partai pada masa akan datang.  Demi menyiapkan regenerasi politik, saya kira partai politik harus merancang perubahan desain kelembagaan dengan meyediakan ruang untuk pemilih muda atau milenial. Partai mesti memberikan kepastian jenjang karier untuk anak-anak muda dan milenial saat berkarir di partai politik.

Jika tidak ada mekanisme yang jelas mengenai karir politik dan proses penentuan jabatan-jabatan strategis di internal partai dilaksanakan secara tertutup, saya takut kondisi tersebut akan mengakibatkan anak-anak muda tidak tertarik menjadi aktivis politik. 


 Partai politik juga mesti menyediakan cara guna memberikan ruang untuk generasi muda/milenial guna berpatisipasi pada kegiatan-kegiatan politik. Jauhnya jarak antara milenial dengan partai mengakibatkan tidak terjadi hubungan antara pemilih milenial dengan partai politik.

Berebut Milenial
Pemilih milenial (berusia 17-29 tahun) yang berjumlah kurang lebih 15-20% dari jumlah pemilih secara nasional, mengakibatkan partai politik saling berebut suara di bagian ini. Tetapi tantangannya tidak gampang. Selain karakteristik pemilih milenial yang sulit ditebak, mereka juga mudah berubah dari satu tokoh ke tokoh lainnya, atau dari satu partai ke partai lainnya.  Salah satu yang melainkan generasi milenial dengan generasi lainnya yaitu akses mereka ke akun sosial media.

Sebanyak 81,7 persen pemilih milenial menyatakan mempunyai akun Facebook, sementara hanya 23,4 persen dari pemilih non milenial (berusia di atas 30 tahun) yang mempunyai akun Facebook.  Dari segi akses  terhadap media online, 54 persen milenial menyatakan mengakses media online setiap hari. Sementara hanya 11,9 persen dari pemilih non milenial yang mengakses media online setiap hari. Perbedaan akses terhadap sosial media dan media online jelas berdampak pada cara milenial melihat politik dan memengaruhi cara mereka saat memilih dalam pemilu. 

Perkembangan platform digital dan media sosial yang berkembang pesat mengakibatkan partai politik mulai mengambil cara-cara terbaru guna mendapatkan simpati pemilih milenial. Partai mulai memakai platform-platform digital seperti Faceboook, Twitter, YouTube, dan Instagram. Bahkan sejumlah partai politik sudah ada yang menyewa jasa konsultan profesional untuk mengurus akun media sosial partai. 

Mendekati pemilu nasional (legislatif dan presiden) serentak kelak, beberapa partai politik juga telah  menyedia pasukan cyber (cyber troops) demi meraih simpati pemilih. Asumsi saya, perang cyber (cyber war) antar partai politik akan mengalami tren peningkatan dari pada pemilu sebelumnya.  Menarik dukungan milenial, tentu tidak cukup semata-mata mengandalkan gadget memanfaatkan sosial media di ruang-ruang berpendingin udara. Pemilih tentu memerlukan interaksi langsung dengan partai politik di lapangan. Tidak heran jika persaingan antar partai di ‘darat’ juga diprediksi akan lebih sengit.

Partai-partai baru akan berhadapan secara langsung dengan partai-partai yang telah mempunyai infrastruktur dan pengalaman politik yang kuat dan solid. Bagaimana pun, relasi dan jam terbang politik akan menjadi variabel penting dalam pertarungan politik di ‘darat’.  Sejumlah partai politik yang telah memiliki infrastruktur politik milenial (kepemudaan) tentu tidak terlalu kaget dengan persaingan politik di lapangan.


Partai-partai yang sudah memiliki jaringan dan sayap kepemudaan yang solid diprediksi akan memudahkan persaingan di darat. Tiga partai besar contohnya sudah mempunyai jaringan kepemudaan yang cukup kuat. PDIP contonya mempunyai Taruna Merah Putih dan Banteng Muda Indonesia. Partai Golkar mempunyai Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI), Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG). Sementara Partai Gerindra mempunyai Tunas Indonesia Raya (Tidar) dan Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria). 

Dengan keadaan tersebut, tentu tidak gampang untuk partai baru untuk dapat merebut segmen pemilih milenial. Selain variabel jaringan dan pengalaman politik, pertimbangan pilihan milenial juga dipengaruhi oleh ketokohan aktor politik serta kecondongan yang mudah berubah.

Seorang Pemimpin besar dengan jeans belel, penuh bordiran mengutak- atik sepeda motor rakitan. Lalu mengendarainya dengan gaya cassual ala Dillan. Itulah Jokowi dalam video ini. Ia mampu bergaya lintas jaman. Hari ini ia tampil sebagai santri yang patuh ikut mengawal Kyai, besoknya ia tampil d hadapan CEO kelas dunia dengan presentasi mengundang decak kagum, besoknya lagi ia tampil sebagai kakek yang momong cucunya. Lain kali ia tampil sebagai kepala negara mengatur birokrasi menggenjot ekonomi membangun harapan. Ia hadir dilintas jaman.Banyak anak muda percaya Jokowi adalah jawaban doa  kaum muda yang ingin negeri ini jauh lebih baik lagi.
Hasil survei lembaga kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan mayoritas generasi milenial berusia 17-29 tahun optimistis terhadap pemerintahan Presiden Jokowi Widodo. Dari survei terhadap 1.000 responden yang terdiri atas generasi milenial (17-29 tahun) dan generasi non-milenial (30 tahun ke atas) di 34 provinsi diketahui sebanyak 75,3 persen generasi milenial optimistis terhadap pemerintahan.

Sejalan dengan optimisme tersebut, tingkat kebahagiaan generasi milenial saat ini juga sangat tinggi mencapai 91,2 persen atau lebih tinggi dibandingkan generasi non-milenial sebesar 89,3 persen. Generasi berusia 17-29 tahun umumnya jauh lebih melek teknologi dibandingkan generasi usia 30 tahun ke atas. Selain itu generasi milenial juga lebih banyak mengakses ke media sosial ketimbang surat kabar.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun lalu menyebutkan total pengguna internet di Indonesia berjumlah 132,7 juta orang. Sementara 18,4 persennya adalah akun yang dikelola remaja berusia 10-24 tahun.
Kaum millenial mudah sekali mengubah pilihannya dan mudah terbawa pengaruh seperti keluarga, teman bahkan media-media. Apalagi, masih banyak pandangan pemuda yang berpandangan bahwa politik itu kotor. Tapi Presiden Jokowi sukses menggaet mereka.

Presiden Joko Widodo berhasil masuk kedalam segmen kaum millenial, terutama masuk kedalam musik, hobi atau olahraga, bahkan film sekalipun. Presiden Jokowi sangat tau apa yang menjadi hobi dan kebiasaan mereka, yang belum dilakukan oleh kompetitornya.

Meskipun beliau belum mengetahui apa saja keinginan dari kaum millenial, akan tetapi dengan memasuki wilayah kesuakaan dan membuat Presiden Jokowi mudah terkoneksi dengan generasi millennial. Terbukti yang dilakukan Presiden  Jokowi cukup berhasil dalam mengambil empati dari dari kaum millennial.

Presiden Jokowi adalah rajikan dua generasi. Ia sukses memadukan etos kerja Millenial dan sikap ngemong kebapakan. Lebih dari itu ia mampu menerjemahkan satu kata "Harapan" kata ampuh, mantra sihir perubahan.

4.     ERICK THOHIR IKON MILLENIAL

Ditunjukya pengusaha sukses yang juga mantan ketua panitia Asian Games, Erick Thohir selaku ketua tim sukses, menandakan Presiden Ir. H. Joko Widodo sebagai petahana sangat memandang penting keberadaan pemilih milenial. Erick Thohir, dinilai orang yang cocok untuk dapat menarik pemilih milenial yang jumlahnya besar tersebut.

Dan betul saja figur Erick Thohir akhirnya yang ditunjuk Presiden Ir. H. Joko Widodo sebagai ketua tim suksesnya. Memilih Erick Thohir tidaklah salah . Walau bos Mahaka Grup itu, bukanlah orang politik, tetapi Erick Thohir adalah figur pengusaha muda yang sukses. Ditunjuknya Erick Thohir salah satu pertimbangannya yaitu untuk menarik para pemilih milenial. Erick dinilai berhasil menangani Asian Games dimana pesta olahraga itu juga menarik antusiasme anak muda.
Salah satu daya tarik Erick Thohir yang menyebabkan Jokowi yakin menunjuknya, yaitu keberhasilan saat menyelenggarakan Asian Games. Presiden Jokowi tentu ingin menggaet suara millenial, karena ErickThohir bisa menjadi panutan kesuksesan bagi anak-anak muda Indonesia. Nilai lebih lainnya dari Erick Thohir, ucap dia, statusnya sebagai Pengusaha besar.

Tentu Preisden Jokowi lebih gampang menghimpun logistik dari para pengusaha untuk persiapan biaya politik. Ketika ditanya, kelebihan Erick Thohir  dibanding Djoko Santoso yang ramai bakal jadi ketua tim sukses kubu Prabowo.


Erick Thohir dan Djoko Santoso mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun jika head to head diantara keduanya bisa seimbang. Djoko Santoso sukses di karir ketentaraannya. Sedangkan Erick Thohir sukses di dunia bisnis. Dan pengusaha terkadang menjadi salah satu faktor kemenangan para capres dan cawapres karena mampu mengumpulkan pendanaan politik untuk pemenangan.

Saat tugas pertama yang penting segara dijalankan Erick Thohir selaku ketua tim sukses Jokowi-Ma’ruf Amin yaitu secepatnya mengkoordinasikan tim pemenangan. Baik dari koalisi partai ataupun dari kalangan relawan. Jokowi menganggap Erick Thohir telah sukses menyelenggarakan event Asian Games secara sukses.

Dengan pengalaman tersebut, bisa saja menjadi pengalaman yang berharga bagi pemenangan nanti.  Sebenarnyanya pemilihan Erick selaku ketua tim pemenangan bukan sesuatu yang mengagetkan, sebab namanya telah ramai diperbincangkan dan berada di top daftar PresidenIr. H. Joko Widodo. Nama Erick kembali disorot saat ia berhasil menjadi panitia Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang.

Dunia internasional memuji kesuksesan Indonesia menjadi tuan rumah. Salah satu yang menjadi sorotan yaitu upacara pembukaan dan penutupan Asian Games yang dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno kemarin.  Tetapi, siapa sebenarnya Erick? Bagaimana awal mula Erick dapat berkenalan dengan Presiden Ir. H. Joko Widodo?

Belajar menjadi pengusaha dari sang ayah




Dulu Tinggal di Rumah Beralas Tanah, Ini Kisah Ayah Konglomerat Erick Tohir

Teddy Thohir
Nama Erick dan Boy Thohir pasti familiar atau minimal pernah kamu dengar. Tapi kamu tahu siapa itu Mochamad Teddy Thohir? Nah, soal ini sih gak ada yang jamin.
Padahal nih ya, Teddy itu ya ayah dari kakak-beradik miliarder Indonesia tersebut. Dia juga punya satu anak perempuan yaitu Rika Thohir.

Teddy Thohir wafat pada 1 November 2016 lalu. Buat penghormatan, keluarga Thohir membangun sebuah masjid di kawasan Depok yang dinamakan At-Thohir.  Seperti anaknya, pria asal Lampung kelahiran 1935 silam ini adalah seorang pengusaha top. Beliau pun kerap jadi inspirasi oleh banyak pengusaha-pengusaha Tanah Air. Meski begitu masa kecilnya justru jauh dari kemewahan, malahan sebaliknya.  Pengin tahu seperti apa kisah perjalanan Mochamad alias Teddy Thohir membangun kerajaan bisnis? Mari simak ulasannya di bawah ini.

Hidup miskin di masa kecil


Ayah dari Presiden Inter Milan dan Presiden Direktur Adaro Energy ini ternyata lahir di Gunung Sugih, Lampung. Dalam bahasa Jawa, sugih itu artinya kaya.  Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Pada masa kecil Teddy hidup miskin. Menurut obituari yang dirilis Republika, tempat tinggal Teddy Thohir saat itu cuma rumah bilik yang beralaskan tanah. Sementara ayahnya, Abdul Halik, udah meninggal dunia saat dia masih kecil. Meski demikian, hal itu gak lantas bikin Teddy kecil jadi minder. Teddy malah punya cita-cita yang tinggi banget.

             Setelah lulus SMP, dia merantau ke Solo dengan menggunakan kereta demi melanjutkan studinya di SMEA. Modal sekolahnya di Solo didapat lewat bantuan seorang pedagang di Metro. Di Solo pun dia kerja sambil sekolah, hingga akhirnya bertemu dengan seorang gadis keturunan Tionghoa yang kelak menjadi istrinya, Edna.

Pak Teddy wafat dalam usia 81 tahun. Presiden Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono datang melayat. Ketua MPR Zulkifli Hasan ikut mengantar di penguburannya. Kisah pria kelahiran 5 Maret 1935 ini layak menjadi inspirasi bagi seluruh anak negeri. Ia lahir dan tumbuh di Gunung Sugih, Lampung Tengah. Ayahnya, Abdul Halik, wafat ketika ia masih kecil. Bersama adik dan ibunya, Teddy kecil hidup dalam keadaan yang miskin. Tinggal di rumah bilik dan beralaskan tanah. Namun sejak kecil ia anak yang teguh hati dengan tekad kuat. Diam-diam, di subuh hari, ia pergi meninggalkan ibunya dan menemui pamannya yang seorang pedagang di Metro, Bandar Lampung. Sekecil itu. Ia ingin sekolah. Di sini ia menempuh pendidikan SMP.

Tak berhenti di situ, dilepas pamannya, usai tamat SMP ia merantau sendirian ke Jawa. Ia ke Solo dengan naik kereta. Ia menempuh pendidikan SMEA I di kota ini atas saran gurunya di SMP yang mempunyai rekan yang menjadi guru di SMEA itu. Teddy lulus SMEA tahun 1956. Ia bisa berangkat ke Solo berkat bantuan pedagang kaya di Metro, tempat ia bekerja sambil sekolah.

Di Solo ia juga sekolah sambil bekerja. Simpati orang-orang lahir karena kecerdasannya dan kegigihannya. Setelah itu ia bekerja di Jakarta. Hidup sebatang kara dan kemudian jatuh cinta pada gadis Tionghoa, rekan kerjanya di sebuah rumah sakit di Jakarta. Edna, nama gadis itu. Ia seorang perawat. Jalinan cinta itu tak direstui kedua orangtua Edna, yang berasal dari Kadipaten, Majalengka. Teddy pun pulang kampung untuk menata hati. Diam-diam Edna menyusul dan mereka menikah secara Islam. Setelah itu mereka kembali ke Jakarta dan meniti hidup dari bawah, hingga memiliki satu anak, Rika. Saat itulah kedua orangtua Edna datang. Tentu suasananya haru biru, tangis yang bahagia.

Teddy memiliki rahang yang menonjol. Suaranya agak berat. Intonasinya tegas. Ia murah senyum, namun wajahnya yang agak persegi membuat dirinya memiliki kharisma. Kariernya di perusahaan asing yang bergerak di bidang industri kimia, Union Carbide, sangat baik hingga ia menjadi kepala administrasi.

Namun jabatan yang baik itu ia tinggalkan ketika mendapat tantangan yang menarik saat istri TP Rachmat, yang punya hubungan dekat dengan Edna, mengajak Teddy bergabung dengan Astra. Orangtua Edna juga akrab dengan William Soeryadjaya, pemilik Astra. Astra kemudian menjadi perusahaan raksasa dan dikenal sebagai raksasa otomotif serta perkebunan. Teddy di Astra sejak perusahaan ini benar-benar mulai dari awal sekali, hingga Teddy menjadi salah satu direkturnya. Namanya cukup dikenang. Suharto, kini sudah almarhum dan pernah bekerja di Astra namun kemudian bergabung dengan Tommy Soeharto untuk mendirikan perusahaan mobil Timor, bercerita tentang keluwesan Teddy. “Suatu saat saya diajak beliau ke suatu kampung. Sesepuh kampung itu mencium tangannya. Eh, ternyata beliau menjadi khotib di masjid di kampung itu,” katanya. Suharto bercerita bahwa Teddy sangat persuasif. Saat itu Astra akan membeli lahan di kampung itu.

Peter Gontha, kini duta besar di Polandia, menyebut Teddy Thohir dengan singkat. “Luwes dan tidak punya musuh,” katanya. Gontha mengaku berteman akrab dengan Teddy. Ia dan Teddy beserta sekitar sembilan orang taipan sering berjalan bersama. Kelenturan, tekad, keberanian, dan keteguhan membuat Teddy telah berevolusi dari anak miskin menjadi profesional hingga menjadi seorang pengusaha. Ia merintis bisnis di bawah naungan TNT.

Tak hanya itu, ia juga mampu mendidik anak-anaknya agar bisa terbang namun tetap berpijak di bumi. Boy dan Erick disekolahkan di Amerika Serikat. Tentang anak-anaknya, suatu saat Teddy bercerita bahwa ia sengaja menyekolahkan anak-anaknya hingga SMA tetap di Indonesia. “Agar mereka memiliki jaringan yang baik,” katanya. Bahkan sengaja menyekolahkan di sekolah negeri dengan risiko terkena bully. “Agar mereka bisa survive dan mampu mengatasi masalah karena nantinya mereka akan berada di tengah-tengah bangsanya sendiri,” katanya.

Tak hanya itu, ia juga mengajarkan anak-anaknya agar berpijak pada agama Islam secara baik, bahkan memiliki prinsip-prinsip keluarga yang harus terpatri dengan kuat.
Teddy adalah fenomena berkah kemerdekaan Indonesia.

Robert van Niel, dalam buku Munculnya Elit Modern Indonesia, menulis bahwa elite tradisional Indonesia berorientasi kosmologis. Sedangkan elite modern berorientasi kemakmuran, karena pengaruh pendidikan. Elite modern pertama lahir berkat politik etis pemerintah kolonial Belanda. Namun yang bisa sekolah hanya kaum ningrat saja. Kemerdekaan Indonesia mengubah segalanya.

Semua rakyat Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk bersekolah. Sehingga elite modern yang muncul setelah kemerdekaan lebih beragam latar belakangnya. Namun Teddy memang istimewa. Jika umumnya berorientasi menjadi pegawai negeri, ia justru bekerja di perusahaan swasta yang belum menjadi pilihan menarik saat itu. Pilihan itu membawanya menjadi seorang pengusaha dan kini diteruskan anak-anaknya sehingga mereka menjadi konglomerat Indonesia. Erick selalu ingat pesan ayahnya: “Jaga nama baik, karena itu yang utama.”

Kesempatan bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Bergiat dan beranilah menjemput masa depan dengan modal di badan kita sendiri. Teddy Thohir sudah membuktikannya. Dia dan keturunannya menjadi gelombang baru anak negeri yang masih harus memperbesar lapis entrepreneurshipnya, terutama dari generasi Muslim

Berkarier di perusahaan asing hingga berlabuh di Astra

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Teddy Thohir lantas berkarier di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang kimia, Union Carbide. Performanya sebagai karyawan cukup baik. Teddy pun dipromosi menjadi salah satu kepala bagian administrasi. Teddy memutuskan mundur dari perusahaan itu karena tawaran kerja yang jauh lebih baik yang ditawarkan oleh istri dari Theodore Permadi Rachmat. Istri Theodore ini kenal dengan Edna. Teddy Thohir pun bergabung dengan Astra yang pada saat itu dipimpin oleh William Soeryadjaya.  Bisa dibilang, karier Teddy di Astra dirintis dari nol. Dari staf hingga akhirnya berhasil jadi salah satu direktur dan pemegang saham perusahaan itu.

 

Mendirikan TNT Group

Buku M Teddy Thohir

Perusahaan ini memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam, properti, otomotif, media, hingga restoran. Beberapa di antaranya adalah PT Adaro Energy, PT Surya Essa Perkasa, PT Wahanaartha Harsaka, Restoran Hanamasa, Pronto, dan Yakun Kaya Toast.
Buat properti, TNT dikabarkan memiliki Taman Laguna, Cibubur Residence, Permata Kranggan, Taman Arcadia Mediterania, Permata Arcadia Cimanggis, dan Hotel Amaris Bogor. Sementara itu di bidang media, ada PT Mahaka Media. Banyak banget ya.

Sempat jadi orang terkaya di Indonesia

Berkat kesuksesannya di dunia bisnis, Teddy Thohir pun sempat merasakan duduk di jajaran orang terkaya di Indonesia. Setelah mangkat, titel orang terkaya di dunia tetap disandang oleh salah satu anggota keluarga Thohir yaitu Garibaldi. Pada tahun 2017, Garibaldi atau yang akrab disapa Boy menduduki posisi ke 23 sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Boy sendiri pernah bilang bahwa sebagai ayah, Teddy udah mendorong anaknya buat jadi entrepreneur lho.Boy sempat meminta bekerja di Astra, tapi ayahnya bilang bahwa kalau pengin kerja di sini ya mulai dari bawah.  Keputusan Teddy Thohir itu yang akhirnya bikin Boy memutuskan jadi pengusaha aja.

Berikut potret romantis Erick Thohir bersama keluarganya yang jarang terekspos media.
1. Potret keluarga Erick Thohir sedang makan bersama. Walau memiliki banyak bisnis, Erick Thohir tetap datang untuk makan bersama keluarga.
Potret romantis Erick Thohir bersama keluarganya
2. Tak ada perayaan meriah ketika Mahendra Agakhan Thohir atau yang akrab disapa Aga berulang tahun. Perayaan dilakukan hanya dengan acara potong kue dan foto bersama.
Potret keluarga Erick Thohir ketika sang anak ulang tahun.
3. Bersama dengan dua anaknya dan keponakannya (kanan foto), Erick Thohir menggunakan pakaian adat khas Jawa. Sepertinya, Erick Thohir sedang hadir ke acara pernikahan kerabatnya.
Potret keluarga Erick Thohir ketika memakai baju adat Jawa.

4. Dalam akun instagram Mahendra Agakhan Thohir, ia mengunggah salah satu foto masa kecil mereka dengan sang ayah, Erick Thohir. Terlihat, Erick Thohir tersenyum bahagia bermain dengan anak-anaknya.

Potret keluarga Erick Thohir ketika sang anak masih kecil.
Wah, dengan banyak aktivitas yang dilakukan oleh Erick Thohir, Ia tetap meluangkan waktu bersama keluarganya

Pria berusia 48 tahun itu diketahui sebagai salah satu pendiri perusahaan media, Mahaka Group. Perusahaan tersebut membawahi beberapa media, seperti Jak TV, Jak FM, Prambors FM, Republika, Delta FM dan Female FM. Kini, Erick menjabat sebagai  Komisioner PT Mahaka Media, Tbk.  Bakat berbisnis Erick nampaknya menurun dari sang ayah, (alm.) Erick memiliki saham beberapa klub olah raga terkenal di Indonesia dan luar negeri.   Nama Erick semakin meroket saat ia membeli saham  klub olahraga besar di dunia, di antaranya yaitu Philadelphia 76ers,

DC United dan Inter Milan. Walau telah melepas sejumlah sahamnya, kini ia masih mempunyai 30 persen saham di Inter Milan, salah satu klub sepak bola besar Italia.  Erick juga mempunyai klub olahraga dalam negeri. Ia membentuk klub bola basket Mahaka Satria Muda Jakarta dan Mahaputri Jakarta yang saat ini dikenal dengan nama Satria Muda Pertamina.


Kegemarannya di bidang olahraga juga direalisasikan dengan keterlibatannya sebagai Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) periode 2006-2010. Kemudian, ia menjabat selama dua periode sebagai Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA), dari periode 2006-2010 dan 2010-2014. Erick Thohir juga pernah dipercaya sebagai Komandan Kontingen Indonesia pada  Olimpiade London 2012 dan kini ia menjabat selaku Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia periode 2015-2019.  Erick Thohir terlibat menjadi ketua panitia Asian Games 2018

Membicarakan perhelatan akbar Asian Games 2018 tidak dapat tidak membicarakan nama Erick Thohir. Karena, ia adalah ketua panitia pelaksana Asian Games (INASGOC).  Walau waktu persiapan termasuk singkat, yakni sejak 2015 silam nyatanya Erick dan tim sukses menjalankan tugas dengan baik. Bahkan, rencana sawal Asian Games yang digelar pada 2019, malah dimajukan menjadi tahun 2018. Indonesia tidak ingin penyelenggaran Asian Games bersamaan dengan pemilihan presiden. 


Pemilihan Erick Thohir diyakini bisa menggaet suara millenials, walau sejumlah pihak menilai Erick tidak pantas menjadi ketua pemenangan disebabkan minim pengalaman di bidang politik, namun anggapan berbeda justru dikemukakan oleh Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy. Baginya, adanya nama-nama pengusaha pada daftar tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin salah satunya untuk mencegah perselisihan kepentingan antara partai politik dalam koalisi.

Sementara pemikiran berbeda diungkapkan Ma'ruf Amin, Menurutnya, Erick merupakan figur yang mewakili generasi millennial. “Menurut saya bagus sekali, dia bisa merepresentasikan millennialsImage Erick Thohir yang masih fresh mewakili millenial, pengusaha sukses dan jadi tokoh kunci Asian Games yang menuai pujian internasional, akan menjadi pemikat kuat di media dan di kalangan generasi millenial.

Skuat Presiden Ir. H. Joko Widodo saat ini unggul dalam pertempuran 'udara' karena bergabungnya raja-raja media di kubu petahana.  Sebelumnya di pihak PresidenIr. H. Joko Widodo telah eksis bos dan dedengkot media seperti Surya Paloh (Ketum NasDem) dan Hary Tanoe (Ketum Perindo). Dengan bergabungnya Erick Thohir akan semakin kuat penguasaan serangan udara di tim Presiden  Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo menang beberapa langkah sebab pandai memadukan tim yang di darat yang semakin kuat dan besar yakni dukungan para Gubernur di Indonesia. Di pulau Jawa Presiden Joko Widodo memperoleh dukungan kuat mulai dari 3 daerah terbesar, Jabar, Jateng, Jatim telah bulat dan terang mendukung Presiden Ir. H. Joko Widodo plus Gubernur Banten. Dari timur ada Papua, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Kalbar, Sultra, sampai ke barat yakni Sumsel, dan lain-lain.

Presiden Joko Widodo memainkan siasat yang penuh dengan banyak kejutan. guna menarik kelompok millenial yang kini menjadi kelemahannya, Presiden Joko Widodo tepat dan efektif menunjuk Erick Thohir. Pemilihan  ini tak lepas dari gaya Presiden Joko Widodo sendiri. Presiden Joko Widodo berjiwa muda, pekerja keras dan sama-sama dengan latar belakang pengusaha, mirip dengan yang terdapat dalam diri si Erick. Erick sendiri sangat terkesan dengan jiwa pekerja keras Presiden Joko Widodo. Sehingga kliklah keduanya saling mendukung dan menyokong sebab gesit dan pekerja keras. Erick berhasil di Asian Games sebagai Ketua Inasgoc hingga mendapat pujian internasional yang tidak ada habisnya. Dampak keberhasilan di Asian Games ini akan menjadi modal untuk Erick guna membawa kemenangan telak Presiden Ir. H. Joko Widodo.

Tangan emas serta tangan dingin Erick akan menjadi ancaman untuk Prabowo – Sandi yang memipunyai timses yang sudah senior yakni Djoko Santoso. Perumpaannya Erick ini rising star akan beradu dengan Djoko Santoso yang jauh lebih tua. Erick akan menutupi kelemahan Presiden Ir. H. Joko Widodo  dan Pak Ma’aruf yang telah menang di golongan usia yang lebih dewasa hingga tua.

Sementara di pemilih menengah atas dan muda masih belum kuat. Mari berharap bahwa Erick sebagai Ketua Timses akan menghadirkan  gagasan-gagasan kreatif dan segar apalagi beliau tidak berlatar belakang politik, ini akan menarik dan memberikan banyak kejutan dan terobosan. Mari nikmati nanti kreatifitas si Erick memoles timses Presiden Ir. H. Joko Widodo  -Ma’aruf ke depannya sebab ini yang nantinya sudah ditunggu-tunggu.
Beberapa tahun lalu, hampir seantero Indonesia dibuat terkejut sekaligus kagum dengan sebuah berita akuisisi klub sepakbola terkenal asal Italia. Seorang anak bangsa diberitakan berhasil menjadi pemilik saham tertinggi Internazionale Milan. Nama Indonesia otomatis terangkat dengan pemberitaan tersebut. Wajahnya terpampang di beberapa halaman depan koran-koran internasional dunia, tanpa terkecuali Indonesia.
Benar, anak bangsa yang Hipwee maksud adalah Erick Thohir. Dia menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil memiliki salah satu klub tenar di jagat sepakbola. Gelontoran dana sebesar 350 juta Euro (sekitar Rp 5,3 triliun) saat itu berhasil membuatnya menjadi pemilik saham terbesar klub sebanyak 70 persen. Namun siapa sebenarnya Erick Thohir? Kali ini Hipwee mau mengajak kenal lebih dekat sambil berharap kamu bisa terinspirasi oleh kisahnya di dunia usaha.

 


Erick muda bukanlah tipe anak yang cuma bisa menikmati kekayaan keluarganya. Dia memanfaatkan hal tersebut untuk menjadi individu yang mandiri ke depannya


Tepat pada 30 Mei 1970, Erick Thohir lahir di Jakarta. Erick memang anak dari pengusaha Astra Internasional Tbk, Teddy Thohir, tapi Erick muda bukanlah tipe orang yang hanya bisa menikmati kekayaan keluarganya. Dia dan saudara-saudaranya yang lain malah diwarisi ilmu dan diperkenalkan banyak tentang berjuang di dunia bisnis. Ketika di sekitar kita ada beberapa anak orang kaya yang memilih berleha-leha – sekolah atau kuliah nggak genah dan sering foya-foya –  karena percaya kekayaan orangtuanya sudah cukup bisa mencukupi hidupnya. Erick berbeda. Dia serius berkomitmen melanjutkan pendidikannya. Jurusan periklanan di Glendale University, Amerika Serikat jadi pilihannya. Tak puas dengan ilmu yang didapat, dia kemudian melanjutkan kuliahnya ke National University California, dan menyabet gelar master di jurusan Administrasi Bisnis.

Kembali ke Indonesia, tak lantas langsung enak-enak menikmati kekayaan keluarga. Ia sempat membantu keluarga di bidang usaha makanan, Hanamasa dan Pronto. Walaupun sang ayah memiliki banyak bisnis, tapi siapa sangka kalau sang ayah malah melarang Erick melanjutkan bisnis keluarga. Ayahnya tersebut ingin anaknya mandiri, mempunyai usaha sendiri dan menemukan kesuksesannya sendiri.

Erick menerima tantangan tersebut dan terbukti berhasil mengejawantahkan dirinya sebagai orang mandiri.
Erick berhasil memanfaatkan ‘anugerah’ (kekayaan keluarga) tersebut bukan untuk menikmatinya saja, tapi sebagai modal berharga untuk pijakan selanjutnya. Ia menimba ilmu yang tinggi, menjadi individu yang mandiri, kemudian membuka usaha-usaha lain.

Lepasnya Erick dari bisnis keluarga sempat dihalangi saudara-saudaranya. Namun, Erick mantap memilih berkiprah secara mandiri tanpa campur tangan keluarga dan sukses di bisnis media


Menurut beberapa sumber, lepasnya campur tangan Erick pada bisnis keluarga sempat dihalangi beberapa saudaranya. Erick dinilai punya potensi besar untuk melanjutkan dan membuat usaha keluarga menjadi lebih besar. Namun apa daya, Erick telah memilih langkahnya. Selepas tak mencampuri bisnis keluarga, Erick memulai petualangan baru sebagai pebisnis. Dia memulai kiprahnya di dunia trading. Erick dan teman-temannya – Wisnu Wardhana, Harry Zulnardy, dan Muhammad Lutfi – kemudian mendirikan Mahaka Group, perusahaan dulu hanya bergerak di bidang pertambangan, keuangan dan media.

Mahaka Group makin tenar ketika membangun Radio One Jakarta pada 1999 dan mengakuisisi harian Republika yang saat itu hampir bangkrut pada 2000. Sampai tahun 2009, Mahaka Group tercatat telah berkembang dan menguasai majalah a+, Parents Indonesia, dan Golf Digest. Sedangkan pada bisnis surat kabar, Mahaka Group menaungi Sin Chew Indonesia dan Republika. Selain itu, Mahaka jugalah yang memiliki JakTV, GEN 98.7 FM, Prambors FM, Delta FM, dan FeMale Radio.

Erick menjadi lebih dikenal para pegiat media ketika berhasil menyelamatkan Harian Republika — media yang terkenal Islami. Tak hanya menyelamatkan, tapi dia dan kawan-kawan berhasil menaikan kembali  pamor Republika. Sampai sekarang, Republika tetap bertahan dan menjaga pamornya, serta tak menutup diri untuk ikut merambah dunia online. Selain bersama Mahaka, Erick juga digandeng Anindya Bakrie untuk bergabung di perusahaan media. Meskipun jadi pemegang saham minoritas, tapi posisi yang diduduki Erick cukup penting. Ia didapuk Direktur Utama PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), induk usaha dari TVOne.

Tampaknya Bakrie paham betul potensi yang dimiliki Erick dalam rangka membantu kelangsungan dan kesuksesan perusahaan medianya. Untuk informasi, keluarga Bakrie memiliki saham sekitar 90 persen.

 

Erick di sambut Moratti (paling kanan) saat tiba di Inter via gazzetta.it

Namun yang perlu kita sadari dari langkahnya tersebut adalah kebrilianannya melihat celah dan kesempatan. Beberapa pakar sepakat kalau langkah Erick membeli saham Inter Milan adalah kepintarannya dari sudut pandang pemasaran yang tak terbantahkan. Bahkan belum lama ini, Erick dikabarkan mendapat untung atas penjualan 40 persen sahamnya ke sebuah konsorsium asal Tiongkok.
Kalau dipikir, kenapa bisa seorang pebisnis muda asal negeri antah berantah membeli sebuah klub pemegang scudetto 18 kali, tiga trofi Liga Champions dan tiga trofi Europa League?
Seperti kita ketahui, pangsa pasar dan nilai jual klub Italia pada saat Erick — dan saat ini mungkin masih — mengakuisisi Inter jelas kalah jauh dibandingkan klub-klub Liga Inggris. Pamor klub-klub Italia anjlok. Jumlah penonton yang datang ke stadion semakin sedikit. Lalu, makin sering kita menyaksikan kaos tim-tim Liga Italia menjadi polos tanpa sponsor.

Minimnya prestasi klub-klub Italia menjadi alasan. Jatah tim Italia yang berlaga di Liga Champions — kompetisi tertinggi antarklub Eropa — pun dikurangi. Bahkan rangking Liga Italia harus turun sejak beberapa tahun lalu, dan disalip Liga Jerman yang makin sehat masalah ekonominya.

Mungkin ada pertanyaan: kenapa nggak mengakuisisi klub Spanyol saja? Bukankah beberapa klub sedang kepayahan dalam masalah ekonomi? Erick mungkin sadar kalau membeli klub Spanyol, seperti Real Madrid, Barcelona, atau Atletico sebagai akan disulitkan dengan harga dan demand suporter yang haus gelar dan haus pemain mahal. Kalau pun mengakuisisi klub medioker lainnya, akan terasa sulitnya menggebrak dominasi tiga klub tersebut di singgasana klasemen. Kontras dengan yang terjadi di Italia. Persaingan tergolong terbuka. Hanya Juventus yang ditakuti. Di samping itu, kekuatan imbang terbagi. Ihwal kekuatan, Inter setara dengan Napoli, AC Milan, AS Roma, Lazio, dan Fiorentina.

Namun dengan nama besar dan jumlah fans yang tak sedikit di berbagai belahan dunia, pengakuisisian yang dilakukan Erick dianggap sebagai sebuah kecerdasan. Kecerdasannya makin tampak ketika ia menjaga suasana hangat suporter Inter. Dia tak begitu langsung menanggalkan sosok Massimo Moratti dan menjaganya tetap masuk jajaran petinggi klub. Selain itu, Javier Zanetti, ikon klub Inter, didapuk oleh Erick menjadi wakil presiden klub.





Aksi Jokowi Saat Pembukaan Asian Games 2018 Pukau Kaum Milenial

 
Aksi pertunjukan motor terbang Jokowi pada pembukaan Asian Games pada Sabtu (18/8) malam dinilai akan mampu “mencuri” suara pemilih kalangan milenial pada Pilpres 2019.
Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menilai aksi tersebut dilakukan untuk menggaet suara pemilih kaum muda atau kaum milenial pada Pilpres 2019.
Momen itu merupakan yang terbaik untuk garap kaum milenial agar tidak direbut kubu sebelah. Kita tahu, pasangan Capres Jokowi sudah tidak muda lagi. Jadi Jokowi lah yang harus menampilkan sisi millenial itu.
Menurutnya, atraksi tersebut sudah cukup memukau dalam meraih simpati masyarakat khususnya kaum millenial. Hal itu bisa mendongkrak citra baik Jokowi di mata kaum millenial, ujarnya.
Jika dikaitkan dengan tahun politik saat ini, melalui momen tersebut Jokowi ingin mengirim pesan bahwa dirinya juga mampu melakukan apa yang dilakukan kaum milenial.
Secara politik bagus. Secara politik Jokowi  ingin membuktikan segala hal, keberanian, keramahan, kepedulian, kegagahan dan lain-lain. 

5.     Presiden Jokowi: Kelahiran Generasi Milenial Dapat Membawa Perubahan


Kemunculan generasi Y (sebutan lain dari generasi milenial) sebagai agen pembawa perubahan akan sangat mempengaruhi pasar baik politik maupun ekonomi Indonesia dalam kurun 5-10 tahun ke depan. Hal ini diutarakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Partai Hanura Tahun 2017.



"Perlu saya ingatkan kepada kita semuanya bahwa 5-10 tahun yang akan datang, sekarang sudah muncul generasi Y yang 5-10 tahun lagi akan mempengaruhi pasar, akan mempengaruhi landskap politik dan ekonomi kita. Akan terjadi perubahan yang sangat besar. Transisi ini yang harus kita waspadai karena generasi Y ini akan mempengaruhi." ( Presiden Joko Widodo )


Hal itu disampaikan Presiden untuk menyadarkan kepada semua bahwa perubahan global, betul-betul ada, dan sudah nyata.  Beliau menuturkan, generasi Y itu nantinya sudah tidak membaca koran, tidak melihat TV lagi, tapi pegangannya hanya satu yakni kotak kecil yang namanya gadget, gawai, atau smartphone. Mau lihat berita mereka hanya klik di situ. Ingin film atau TV mereka hanya klik seperti sekarang, Netflix, nantinya semua akan mengarah ke sana. Perubahan-perubahan seperti inilah kata Presiden, yang harus disadari hingga nantinya akan ada landskap ekonomi baru dan landskap politik baru, baik global, nasional, maupun daerah.

            Pada kesempatan itu, belia kemudian mengajak semua kalangan untuk bersiap menghadapi transisi-transisi seperti ini karena generasi Y atau generasi milenial itulah yang nanti mempengaruhi pasar, ekonomi, dan politik. Presiden Jokowi juga mengingatkan berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah termasuk membangun proyek infrastruktur.
 Lebih lanjut, setelah pembangunan infrastruktur sudah dimulai dikerjakan, kata Presiden, maka tahapan berikutnya yang harus dimulai adalah pembangunan sumber daya manusia.

"Ini wajib dan harus kita lakukan karena persiapan-persiapan dalam menghadapi persaingan global itu harus betul-betul kita siapkan secara detail dan baik. Tidak bisa lagi misalnya saya berikan contoh pendidikan vokasional kita dan perguruan tinggi itu monoton dan rutinitas seperti yang kita hadapi sekarang. Linier seperti yang kita kerjakan sekarang ini. Kita juga harus berani mengubah semuanya," ( Presiden Joko Widodo )

          Beliau mencontohkan misalnya SMK yang sudah puluhan tahun hanya membuka jurusan bangunan, jurusan listrik, dan jurusan mesin, padahal dunia sudah berubah.  Mestinya jurusan-jurusan ini juga harus diganti dengan perubahan-perubahan yang ada.

Bisa saja jurusan animasi, jurusan video, jurusan retail, jurusan mekatronika. Beliau berpendapat, dunia sudah berubah sehingga perlu sikap yang fleksibel dan tidak linier untuk mengantisipasinya. Oleh karena itu, Presiden meminta jajarannya agar menyederhanakan regulasi-regulasi yang menghambat untuk diganti dengan kebijakan-kebijakan baru sehingga lebih fleksibel.

 
Masa depan ekonomi Indonesia ada di tangan millennials.

1. Ide-ide millennials yang mengubah dunia


Jokowi memberi apresiasi kepada generasi millennial yang mendirikan usaha. 

"Sekarang banyak sekali anak-anak muda yang ingin menjadi wirausahawan baru."  ( Presiden Joko Widodo )

Uniknya, jenis-jenis usaha baru yang mereka cetuskan tidak terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya.  Tak hanya itu, Presiden Jokowi juga melihat banyak anak muda yang memiliki tujuan mulia dengan mendirikan wirausaha sosial. Jenis usaha ini, imbuhnya, memadukan keahlian berusaha dengan ketulusan hati membantu sesama manusia. 
Itulah yang ditunjukkan oleh para wirausahawan sosial yang mempekerjakan kelompok difabel, yang mendirikan bank sampah, yang menjaga kelestarian hayati Indonesia.

Presiden Jokowi menyatakan dukungannya atas apa yang mereka lakukan telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.
"Maka dari itu, energi serta semangat kemajuan generasi muda dan rakyat Indonesia harus terus kita dukung. Keinginan luar biasa masyarakat Indonesia untuk menjadi wirausahawan-wirausahawan baru harus diberi daya untuk tumbuh dan berkembang,"  ( Presiden  Joko Widodo )

2. Revolusi Industri 4.0

Ke depan, Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan besar, seperti Revolusi Industri 4.0. "Kita harus bisa bicara tentang Artificial Intelligence, Internet of Things, dan berbagai kemajuan teknologi yang hampir setiap detik selalu muncul yang baru," kata Jokowi.

Presiden Joko Widodo menegaskan, Revolusi Industri 4.0 sudah mulai mengubah wajah peradaban manusia. Oleh karena itu, Indonesia harus cepat beradaptasi dan tidak boleh tertinggal dari negara-negara lain yang sedang berlomba dan adu kecepatan. 

"Dalam menghadapi dan menyikapi perubahan peradaban manusia itu, tidak bisa kita lakukan dengan pesimisme dan kekhawatiran yang berlebih. Kita justru harus optimis dan yakin bahwa modal sosial dan energi kebangsaan kita kuat untuk melompat ke depan." ( Presiden Joko Widodo )

3. Santri menangkan kontes Robotic Games

Secara khusus, Presdien Jokowi menyebut prestasi empat santri. "Mereka memenangkan kontes Robotic Games tingkat dunia di akhir tahun lalu," kata  Presiden Jokowi. Prestasi keempat santri itu, kata dia, adalah bukti bahwa Indonesia tidak perlu takut dengan Revolusi Industri 4.0, tidak perlu khawatir terhadap masa depan. Kita justru harus memanfaatkan perkembangan yang ada untuk membawa Indonesia semakin maju. Kita harus gesit dan cepat memanfaatkan kesempatan yang ada di depan mata. 


Jurus Jitu Jokowi Gaet Kaum Millenial

 


Ingat pidato Bung Karno tentang Pemuda? Seperti kutipannya  yang meminta seribu orang tua untuk mencabut Semeru dari akar-akarnya dan sepuluh pemuda saja untuk memberikan guncangan pada seluruh dunia. Sejak saat itu dipercayai bahwa ujung tombak nasib sebuah bangsa dipengaruhi oleh pemudanya, bukan orang tua yang ada di dalam negara tersebut. Orang tua akan menang dalam kebijaksanaan, tetapi pemuda akan menang dalam tenaga dan ide-ide segar.
Sepertinya hal tersebut juga diamini betul oleh Presiden RI, Joko Widodo. Tercatat hingga hari ini sudah sekian banyak tingkah laku Jokowi yang menyedot perhatian publik. Bukan karena hal-hal berbau politik yang monoton, tetapi melalui tingkah laku mengejutkan.
Seperti Jokowi menggunakan bomber, Jokowi menggunakan sneakers, Jokowi mengendarai motor gede, Jokowi berpenampilan ala Dilan, dan yang terbaru Jokowi bertemu dengan Boyband Korea, Super Junior. Wow!
Mau diakui atau tidak, cara Jokowi yang bisa melebur dengan kalangan anak muda ini menjadi strategi untuk mendapatkan hati para millenial Indonesia. Jokowi tahu millenial suka nonton Dilan, tak mau ketinggalan beliau berpenampilan ala Dilan. Jokowi tahu fans K-Pop di Indonesia sangat banyak, tak mau menyia-nyiakan kesempatan, beliau agendakan waktu kunjungan ke Korea dengan menemui Super Junior dan bahkan mendapatkan hadiah dari para personel Boyband Korea tersebut.

Langkah nyata Presiden Jokowi juga menggaet anak-anak muda pembuat sepatu lokal asal Bandung. Jokowi seperti tak henti membuat media menyorot langkah-langkah nyentriknya. Yang menarik adalah ketika Jokowi memutuskan membeli sepasang sepatu dari buatan anak bangsa, secara tidak langsung bukan hanya Jokowi yang diuntungkan dengan keberhasilan menggaet hati anak muda, tetapi juga langkah Jokowi tersebut memberikan peluang pasar yang lebih terbuka untuk para pembuat sepatu lokal tersebut.
Katakanlah Jokowi tidak menutup mata pada perubahan zaman. Setelah berpenampilan ala tokoh film, mendukung usaha anak bangsa, kemudian yang baru-baru ini terjadi adalah kunjungan Jokowi ke Korea Selatan sangat menuai perhatian karena beliau mengagendakan pertemuannya dengan Super Junior. Dipastikan pro dan kontra tentu ada. Tapi dari perdebatan yang terjadi, terutama di media social tersebut, justru menegaskan bahwa langkah nyentrik Jokowi memang berhasil menjadi buah bibir.

Yang lebih menarik perhatiannya lagi adalah ketika Siwon Super Junior mengungkapkan
Tuan Presiden, merupakan suatu kehormatan besar untuk bertemu dengan Anda. Saya sangat terinspirasi “ ( Presiden Jokowi )



6.  Beberapa tren Presiden Jokowi yang cocok dengan gaya generasi milenial

1. Seorang Presiden Menggunakan Sepatu Sneaker


Sepatu sneakers menjadi perbincangan warganet setelah aksi Presdien Jokowi dalam berbagai acara termasuk belum lama ini di kereta Bandara Soekarno-Hatta. Presiden Joko Widodo tampil menonjol dengan kaos berlengan panjang merah. Atasan itu tampil senada dengan sneakers merah Roshe One keluaran Nike yang dikenakannya. Memperkuat kesan kasual Sang Presiden dalam acara peresmian Kereta Bandara Soekarno-Hatta. Jokowi juga pernah tertangkap kamera memakai Rebook TwistForm saat jogging di Istana. Atau Nike Lunarepic Low Flyknit 2 yang sempat diulas Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi di YouTube.

2. Presiden Memakai Jaket Jeans ala “Dilan”

Jaket jeans yang dikenakan Jokowi bikin salah fokus. Orang nomor satu tersebut tampil percaya diri mengenakan jaket sangar ala anak muda. Kalau kata anak zaman now kayak Dilan gitu. Menariknya, jaket yang digunakan Jokowi di bagian depannya ada corak merah dengan gambar peta Indonesia berwarna putih.
Sontak karena jaket yang dikenakan Jokowi tersebut langsung menjadi trend dan viral di media sosial. Banyak dari warganet penasaran dengan harganya dan ingin membelinya untuk dikenakan.

3. Presiden Kendarai Motor Chooper Dalam Meninjau Proyek

Presiden Joko Widodo touring dengan mengendarai sepeda motor Royal Enfield Bullet 350 cc yang dimodifikasi bergaya chopper saat kunjungan ke Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Motor chopper ini merupakan motor hasil modifikasi Elders Garage dan Kick Ass Chopper yang memakai bahan motor Royal Enfield Bullet 350 dan dibeli Jokowi dengan harga Rp140 juta pada Januari lalu.

4. Julukan “The Vlogging President” Karena Aktif di Youtube

youtube resmi Presiden Joko Widodo

Akun YouTube Presiden Jokowi diluncurkan pada hari sabtu 28/5/2017 nama Presiden Joko Widodo https://youtube.com/c/jokowi. Didalam chanel yotube presiden tersebut berisi tentang kegiatan-kegiatan Presiden Jokowi sehari-hari. Hal ini didasari salah satu keinginan dari Presiden Jokowi agar rakyat bisa mengenatahui semua kegiatan yang ia lakukan melalui akun Youtube resminya. Bahkan Presiden Jokowi sampai mendapat julukan oleh masyarakat sebagai “The Vlogging President”.

5. Presiden Gemar Selfie 

Jokowi terlihat melakukan selfie bersama Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Selain aktif di media sosial, Presiden Joko Widodo juga dikenal sebagai sosok yang tak segan untuk melakukan selfie bersama dengan orang lain. Beberapa kali, mantan wali kota Solo itu juga tertangkap gambar tengah melakukan selfie dengan pimpinan negara lain.
 
Kemeja putih bertuliskan "Bersih, Merakyat, Kerja Nyata" yang dipakai bakal calon presiden Joko Widodo mencuri perhatian masyarakat yang mengikuti tes kesehatan di RSPAD Gatot Soebroto, Minggu (12/8/2018). Berbeda dengan versi pertama yang dikenakan Jokowi saat mendaftar ke KPU, tulisan "Bersih, Merakyat, Kerja Nyata" kali ini penuh warna warni. 

Putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep mengatakan, gaya berpakaian itu atas inisiatif dan kreativitas ayahnya sendiri. Menurut Kaesang, gaya berpakaian tersebut bentuk representasi anak muda atau generasi milenial. Kaesang yang tampil kasual dengan kaos putih, celana jeans, dan sneakers keluar bersamaan dengan putri bungsu bakal calon wakil presiden Ma'ruf Amin, Siti Haniatunnisa. 

Jokowi memang tampil unik dengan kemeja putih bercorak tulisan yang ada di bagian depan. Tulisan "Bersih, Merakyat, Kerja Nyata" itu tampak ngejreng dalam aneka warna. Adapun, tes kesehatan ini merupakan rangkaian yang harus diikuti bakal calon presiden dan bakal calon wakil presiden pada Pilpres 2019.

Presiden Joko Widodo  dinilai berhasil mengambil hati generasi milenial. Tak ada pendekatan khusus yang dilakukan Jokowi yang akan kembali maju di Pilpres 2019, namun melalui hobi yang kerap dia tunjukkan, seperti membuat video blog (vlog), olahraga, bermain musik, maupun hobi koleksi motor berdampak simpati generasi milenial.

Dengan hobi Jokowi menggunakan motor jenis tertentu misalnya, anak-anak muda yang memiliki hobi yang sama akan merasa senang. Hal itu bisa dinilai sebagai sebuah pendekatan yang berhasil. Anak-anak motor senang walaupun enggak bicara capaian dan program Jokowi. Tapi mereka tahu Jokowi suka motor. Jokowi sering ke mal dengan sepatu kets biasa dan kaus oblong, anak-anak muda senang.

Jokowi yang kerap terlihat berswafoto atau selfie juga menunjukkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu memahami selera atau cita rasa generasi milenial. Beliau punya pendekatan khusus mengambil ceruk milenial dan belum berhasil diterapkan calon-calon lainnya.

Selama masa kepemimpinannya 3 tahun ini, Presiden Jokowi sudah blusukan ke ratusan daerah di Indonesia. Namun rupanya ada hal lain yang juga menarik perhatian masyarakat, terkait rajinya Jokowi blusukan dan kehadiran di peristiwa penting. Salah satunya gaya berpakaian. Berikut ini brilio.net rangkum dari berbagai sumber, Jumat (9/6), 5 gaya berpakaian Presiden Jokowi paling menyita perhatian masyarakat.

1. Jaket Bomber Jokowi.
foto: youtube.com
Jaket bomber yang dikenakan Presiden Jokowi saat jumpa pers menanggapi aksi demo 4 November 2016 pada Sabtu (5/11) rupanya jadi perhatian banyak masyarakat dan menjadi tren di dunia maya maupun kalangan masyarakat Indonesia. Presiden Jokowi pun akhirnya buka suara, bahwa jaket yang dikenakannya dan menjadi viral tersebut merupakan jaket anaknya. Booming jaket Boomber Jokowi pun dimanfaatkan banyak penjual pakaian online untuk memasarkan jaket anak muda tersebut.

2. Baju daerah Nias.
foto: twitter.com/jokowi
Tepatnya pada tanggal 19 Agustus 2016, Presiden Jokowi bersama Ibu Negara Iriana mengenakan baju daerah Nias. Dengan warnanya yang mentereng itu, penampilan presiden pun jadi pembicaraan banyak pengguna media sosial. Namun sebenarnya Presiden Jokowi bukan kali ini saja mengenakan pakaian adat. Dalam kunjungannya ke berbagai daerah, Presiden Jokowi kerap sekali mengenakan pakaian adat khas daerah.

3. Jeans dan baju polos putih.
foto: twitter.com/KemensetnegRI
Presiden Jokowi tidak hanya rajin mengunjungi rakyat yang dipimpinnya. Jokowi juga diketahui aktif blusukan ke institusi-instutsi penegak hukum dan keamaan seperi Markas Besar Polri dan TNI. Gaya penampilan Jokowi juga dianggap nyentrik saat menyaksikan TNI Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) Tanjung Datuk, Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau pada 19 Mei 2017 lalu. Meski berpakaian santai, Jokowi mengatakan akan siap untuk 'menggebuk' ormas-ormas yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.


4. Kenakan sarung dan peci hitam saat turun dari Pesawat Kepresidenan.
foto: twitter.com/KemensetnegRI
Gaya busana Presiden Jokowi kembali menjadi sorotan ketika melakukan kunjungan ke Pekalongan, Jawa Tengah, pada awal tahun 2017. Cara berbusana Jokowi ramai diperbincangkan publik, terutama kalangan pengguna media sosial usai terlihat mengenakan sarung warna cokelat muda berpadu jas serta peci hitam dan turun dari pesawat kepresidenan. Presiden kemudian bertemu dengan tokoh agama ternama di kota batik yaitu Habib Luthfi bin Yahya dan duduk bersama di acara Maulid Nabi Muhammad.

5. Sepatu Nike Jokowi.
Penampilan Presiden Jokowi pada Jumat (9/6) kembali jadi sorotan dan perbincangan para netizen. Kali ini perhatian tertuju pada sneakers Nike yang menemani penampilan dalam Penyerahan Kartu Indonesia Pintar, Tasikmalaya. Presiden Jokowi tampil kasual dengan kemeja putih yang dipadu dengan jeans. Belakangan diketahui bahwa sepatu presiden bermerek Nike tersebut berharga Rp 2 juta.


7.     PRESIDEN JOKOWI  SANG TRENDSETTER

         Percaya atau tidak, Jokowi itu seorang pemimpin trendsetter yang efektif. Jika Anda sudah tahu, tentu karena faktanya banyak menunjukkan demikian. Kepala Anda sudah berisi sekian fakta yang bisa Anda ceritakan. Jika Anda belum tahu, tentu saja tidak berdosa, tetapi sebaiknya ketahuilah hal ini, sekalipun terlambat. Sebab, Anda sedang hidup di lingkungan dan media yang terkena pengaruh Jokowi, Jokowi’s Effect.
    
         Sebelum tahun 2012, siapa yang mengenal istilah blusukan? Mungkin hanya orang Solo yang sudah akrab dengan istilah ini? Namun setelah Jokowi terpilih sebagai Gubernur Jakarta 2012 yang lalu, boleh dikatakan seluruh rakyat Indonesia mengenal kata blusukan. Kata blusukan sangat populer, dan menginspirasi pemimpin daerah lain melakukan hal yang sama. Sekalipun ada juga yang menamakannya dengan istilah lokal, semisal kukurusukan. Maklum, ingin disebut beda, padahal mencontoh orang lain.

Gaya blusukan, mendatangi dan menemui rakyat, mendengar dan memberi solusi langsung atau segera, menjadi trend leadership nasional. Diakui atau tidak, gaya blusukan telah menginspirasi sejumlah kepala daerah yang tidak perlu malu belajar dari kelebihan orang lain.

Baju kotak-kotak. Siapa sangka bahwa baju kotak-kotak sekarang menjadi sebuah identitas politik sekaligus kebudayaan. Sebelum Jokowi mengenalkan baju kotak-kotak ini, para calon pemimpin daerah dan nasional baru membayangkan kostum hanya sebatas putih, batik, baju koko, baju etnis, atau baju satu warna.

Namun, begitu Jokowi masuk persaingan Pilgub DKI 2012, mendadak publik sadar bahwa identitas politik pakaian bisa dibuat kreatif. Baju kota-kotak adalah kreasi baru dalam politik busana. Dan Presiden Jokowilah yang mengenalkannya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa baju kotak-kotak ala Presiden Jokowi ini kelak menjadi trend pakaian yang booming. Maka, usai sukses baju kotak Jokowi yang menenggelamkan seluruh identitas pakaian yang dikenakan para cagub lainnya, maka arena Pilgub Jabar 2013, juga semarak dengan baju motif kotak-kotak, yang dikenakan oleh Rieke – Teten.

Dan belakangan, Pilgub DKI 2017 yang baru lalu juga disemarakkan dengan baju kotak-kotak yang dikenakan oleh Ahok – Djarot. Tentu saja dengan modifikasi dan penyegaran masing-masing. Tidak dipungkiri, bahwa tren baju kotak-kotak adalah efek dari Jokowi Trend.

Saat kampanye Pilpres 2014, siapa yang akrab dengan frasa Revolusi Mental? Bagi para pembaca sejarah, mungkin frasa ini pernah mereka baca dan temukan dalam literatur gerakan dan pemikiran, khususnya di negeri ini. Namun kebanyakan rakyat tidak familiar dengan frasa ini. Lagi pula, sekalipun sebagai sebuah istilah mungkin frasa ini pernah ada, akan tetapi sebagai sebuah wacana publik dan politik, frasa ini menggugah kesadaran orang. Ketika pertama kali mendengarnya, saya sendiri surprised. Wow, revolusi mental.

Dengan kata ini Presiden Jokowi mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak semata-mata fisik (sekalipun kita tahu ini memang menjadi target kejaran Presiden), namun yang tidak kalah penting adalah pembangunan mental. Dan karena mental rakyat secara kultural dan struktural perlu perubahan mendasar, maka jargonnya juga harus menyentak dan mengagetkan. Revolusi Mental sudah tepat untuk menyentak kesadaran tersebut. Dan terbukti, berikutnya Jokowi memperlihatkan sejumlah gebrakan yang merevolusi mental publik selama ini. Sebagai misal, pembangunan yang semula membelakangi laut, kini mulai menghadap lautan.

Bahkan “panglima” laut Presiden Jokowi pun tidak tanggung-tanggung, seorang perempuan yang hanya lulusan SMP. Padahal sebelumnya biasanya seorang menteri minimal lulusan S1. Dengan dipilihnya Susi Pujiastuti asal Pangandaran Jabar, publik disadarkan bahwa yang penting adalah kualitas personal, bukan catatan formal.

Gara-gara ini, maka publik sekarang akrab dengan kosakata laut. Bukan hanya tentang Tol Laut, tetapi juga tentang berbagai hal yang terjadi di laut, publik banyak melihat dan menyaksikannya. Lautan kini menjadi “tontonan” yang tidak kalah menarik ketimbang daratan. Tren laut adalah bagian dari setting  Presiden Jokowi, yang berhasil menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat.

Efek lain dari Revolusi Mental ala Presiden Jokowi juga sekarang kita merasakan adanya Saber Pungli, Sapu Bersih Pungutan Liar. Ini bukan gebrakan main-main. Sekalipun gebrakan ini pernah dinyinyiri oleh wakil ketua DPR (kita tahu siapa dia) sebagai “mengurusi hal kecil”, namun Presiden Jokowi terus melaju, malah mematahkan “mindsetting” wakil ketua DPR tadi. Kata Jokowi kurang lebih, “Bahkan pungli sepuluh ribu pun akan saya kejar.”

Di sini Presiden Jokowi ingin kembali mensettting pikiran publik bahwa yang namanya pungli, bahkan seribu rupiah pun adalah penyelewengan yang harus disapu bersih. Jika pun ini sudah terlanjur membudaya di banyak institusi atau masyarakat, ya harus diperbaiki. Karena itulah diperlukan Revolusi Mental, baik bagi para pelayan masyarakat, maupun masyarakat sendiri.


Belum lagi tentang cara berpakaian Presiden Jokowi, atau segala hal yang berkenaan dengan apa yang Presiden Jokowi kenakan. Jaket, payung, sandal, kopiah, kombinasi sarung dan jas, dan lain-lainnya, menjadi tren di masyarakat. Sehingga, di kalangan bisnis atau ekonomi kreatif, tren ini berpengaruh positif terhadap peluang-peluang ekonomi dan omset bisnis. “Penciptaan” tren yang Presiden Jokowi lakukan ini bermanfaat besar bagi sebagian rakyat yang menggeluti bidang ini. Sehingga jelas kepemimpinannya membawa “berkah” bagi rakyat.

Ada banyak hal lain yang masih bisa kita sebutkan tentang trendsetting Bapak Presiden. Dan yang paling mutakhir adalah berkenaan dengan Pancasila. Sebenarnya menyebut Pancasila bagi kita sudah biasa, terutama bagi kalangan yang lahir sebelum tahun 1980 an. Karena dulu di sekolah ada pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan sering mendengarkan dan menyanyikan lagu Pancasila.

Namun, akhir-akhir ini, menyebut kata Pancasila terasa sangat berbeda, dan memiliki makna yang lebih mendalam. Dulu kebanyakan kita tidak begitu peduli dengan Pancasila. Bahkan sebagian kita mungkin ada yang memplesetkannya. Akan tetapi, ketika belakangan ini ada kekhawatiran kolektif nasional menyangkut prinsip-prinsip kebangsaan, seperti isu kebhinekaan, intoleransi, radikalisme yang mengatasnakaman agama, dan lainnya, ditambah dengan fenomena sosial seperti yang sudah kita ketahui bersama akhir-akhir ini, maka menyebut kata Pancasila terasa emosional dan lebih bermakna.

Karenanya ketika Bapak Presiden mengingatkan pentingnya Pancasila, publik menoleh dan menyimak. Bahkan tergerak untuk meramaikan ucapan Presiden. Seperti kita ketahui, dalam video pada akun instagramnya, yang diposting Senin 29 Mei 2017, Presiden menyatakan bahwa Pancasila adalah pemersatu bangsa dan negara.

Dan Presiden kembali membuat tren baru lagi, bagi rakyat. Sekalipun tidak semua rakyat mengikutinya (terutama para hater), namun banyak yang mengikuti irama Presiden dalam menyuarakan Saya Pancasila ini. Tren baru yang dimaksud bukan sekadar ramai mengupload foto Saya Indonesia Saya Pancasila (SISP), namun yang lebih penting adalah membangun tren kesadaran kolektif tentang pentingnya ber-Pancasila, dan bersetia kepadanya demi keutuhan dan kemajuan bangsa.

Hanya saja, seperti biasa, tentu ada saja kalangan yang mencibir dan nyinyir dengan tren ini. Misalnya ada yang menyebutnya tindakan latah. Ada juga yang menyebut rakyat yang memviralkan ungkapan SISP sebagai Muallaf Pancasila. Dengan menyebut Muallaf Pancasila, seolah-olah rakyat yang merespon SISP ini oleh kaum nyinyir dianggap baru mengenal Pancasila.

Ya tidak masalah. Orang bebas merespon apa pun di sekitarnya. Akan tetapi, dengan massifnya SISP ini terlihat bagaimana sekarang publik kembali menengok dan memperhatikan Pancasila, membicarakan dan mengingatkan untuk memegangnya kuat-kuat. Baik kalangan yang pro dan kontra Jokowi, sama-sama jadi diingatkan untuk kembali memegang teguh Pemersatu Bangsa ini. Dan ini sebagai akibat positif dari tren yang disetting oleh Presiden Jokowi.

Yang menarik, mengapa rakyat selalu merespon apa yang diucapkan dan dilakukan oleh Presiden? Ini jelas menunjukkan kesatuan pikiran dan perasaan antara pemimpin bangsa dan rakyatnya. Jika pikiran dan perasaan keduanya telah bersatu, maka Presiden tidak perlu memerintahkan atau sekadar menganjurkan, bahkan semata-mata ucapannya pun akan direspon dan diterjemahkan oleh rakyat dalam berbagai tindakan yang sealur dan menguatkan.

Ini merupakan bagian dari manifestasi kepemimpinan yang efektif. Dan ini juga menunjukkan tren positif dalam kepemimpinan nasional atau lokal. Jika seorang pemimpin dekat dengan rakyatnya, dan rakyatnya pun dekat dan sepikiran dengannya, maka antara keduanya selalu ada persenyawaan yang menghasilkan hal-hal positif. Sekarang, tipe kepemimpinan seperti ini kita temukan di berbagai daerah di Indonesia, di mana pemimpin dan rakyat menyatu.
Dengan tren ala Jokowi ini, semoga kelak terus lahir pemimpin-pemimpin baru dengan kualitas hebat.
Inilah tren positif Jokowi untuk Indonesia… Dan Indonesia masih membutuhkannya…!

8.     Ini Dia 6 Gaya Zaman Now Presiden Jokowi Saat Naik Motor, Nomor 3 Dijamin Bikin Generasi Millennials Ngelirik

Popularitas Presiden Joko Widodo memang tak diragukan lagi. Ia kerap menyita perhatian publik dengan gaya dan pakaiannya yang tak terduga. Apalagi saat meresmikan tol dan berkunjung ke daerah-daerah menggunakan motor. Presiden Jokowi kerap mengenakan pakaian model kekinian yang membuatnya terlihat berjiwa muda.

1. Jaket Denim dan Motor Chopper
Presiden Jokowi mengendarai motor chopper untuk kunjungan kerja ke Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (8/4/2018). Aksi Jokowi tersebut menarik perhatian publik. Tak hanya motornya yang menjadi sorotan, jaket yang ia kenakan juga menarik perhatian. Presdien Jokowi mengenakan jaket demin ala Dilan. Dibagian dada terdapat peta Indonesia berwarna merah. Sementara dibagian belakang bertuliskan Indonesia dengan corak batik, tari pendet, reog dan berbagai budaya Indonesia. Jaket tersebut dibuat selama satu minggu dengan harga Rp 4 juta.

2. Shark Skin Jacket by TAD

Saat menjajal ruas trans Papua Wamena-Mamugu I, Presiden Jokowi mengenadarai motor trail. Saat itu, Presiden Jokowi tampak mengenakan jaket model TAD Shark Skin ala militer. Ia juga mengenakan fasilitas keamanan berkendara motor trail, seperti helm, sarung tangan, pelindung lutut dan siku.

3. Helm Elders Bendera Merah Putih

Helm Elders Bantam dengan tampilan retro dihias gambar bendera merah putih yang berkibar. Helm Elders Bantam dengan tampilan retro dihias gambar bendera merah putih yang berkibar. Tetap terlihat keren kan Presiden kita saat menggunakan riding gear dari Elders Company. Anak muda zaman now, banyak nih yang lagi hits pakai helm model begini
4. Helm Airoh TRR-S Wintage
Ini Helm Yang Dipakai Presiden Joko Widodo


Helm open face atau tipe dengan wajah terbuka ini bukan open face biasa, ini adalah helm khusus trial bike.
Apa itu trial bike? Ingat trial ya bukan trail. Ini adalah jenis motor khusus melewati halang rintang, melewati batu hingga pegunungan ekstrim. Yang dipakai Presiden Jokowi adalah merek Airoh TRR-S Wintage Spesifikasinya, helm ini terbuat dari material HPC (high performance composite).

Beratnya cuma 850 gram, enggak bikin pegal leher dan kepala nih. Helm gaya seperti ini memang sedang jadi tren di kalangan pecinta trail off road, meski secara safety tidak direkomendasikan untuk off road adventure di medan berat. Kalau cuma untuk trial bike, atau riding di jalanan masih oke lah. Corak yang dipilih juga Indonesia banget, lihat dong warnanya, merah putih khas bendera Indonesia. Helm yang dipakai oleh rider trial bike adalah open face tanpa visor dan memiliki pet pendek sekali.

5. Sarung Tangan Elders Gasper
Sarung Tangan Elders Jokowi


Enggak cuma pakai helm dan jaket kece, Presiden Jokowi juga memakai sarung tangan saat mengendarai motor. Berwarna hitam sarung tangan setengah jari yang dikenakannya juga menarik perhatian. Untuk sarung tangan yang dipakai adalah Elders Gasper yang harganya Rp 350 ribu.

6. Sneaker
Vans x Metallica SK8-Hi
Presiden Jokowi mengenakan sepatu sneaker layaknya kaum milenial. Ia menggunakan sneaker Vans x Metallica SK8-Hi. Dikutip dari laman Vans, Minggu (8/4/2018), harga Vans x Metallica SK8-Hi adalah $95 atau setara dengan Rp 1,3 juta (nilai kurs 1 $US setara Rp 13.700). Sepatu Vans x Metallica SK8-Hi adalah model terbaru yang baru dirilis pada tanggal 16 Februari 2018 lalu. Logo Metallica tercetak dalam warna putih di atas sepatu hitam. Pada model Vans Sk8-hi, logo Metallica dicetak pada bagian tumit (heel-cup).

Uniknya, pada mid-sole yang berwarna putih terlihat logo serupa yang dicetak dengan teknis semacam "embos" berwarna sama.  Sepatu Vans x Metallica SK8-Hi adalah produk sepatu kolaborasi ketiga kalinta antara Vans dan Metallica.  Sebelumnya, produk kolaborasinya adalah “Kill ‘Em All” yang sukses besar.

10 Gaya Hits Kekinian Presiden Jokowi yang Gak Kalah Sama Dilan


Gak semua negara diberkati dengan pemimpin yang baik. Tapi lebih sedikit lagi negara yang punya pemimpin bergaya gaul nan trendi. Sebagian darimu mungkin sudah kenal dengan sosok Justin Trudeau. Perdana Menteri Kanada ini adalah salah satu tokoh negara paling hits di era masa kini. Namun jangan salah, Presiden Jokowi asal Indonesia sebenarnya gak kalah hits juga lho.

Presiden Jokowi kerap mengenakan baju-baju kekinian dan berjiwa muda. Gayanya kerap jadi sorotan, apalagi di kalangan millennials. Gak sedikit lho pakaian Jokowi yang kemudian jadi tren dan laris manis ditiru anak muda. Seperti apa saja sih gaya hits kekinian Presiden Jokowi yang gak kalah sama selebgram ini?

1. Presiden Jokowi tampil cool dengan jaket denim & motor chopper gagahnya

Yang terbaru, Presiden Jokowi touring motor di daerah Sukabumi sembari meninjau program Padat Karya yang dikerjakan oleh warga setempat. Orang nomor satu Indonesia ini tampak kekinian dengan jaket denim yang digarap oleh Never Too Lavish, sebuah usaha fashion karya anak negeri.
Motor yang ditungganginya pun merupakan Royal Enfield Bullet 350 cc bergaya chopper.

2. 11 Agustus tahun lalu,  Presiden Jokowi hadiri "We The Fest" sambil mengenakan sweatshirt kekinian dari distro hits Monstore


Kemarin Presiden Jokowi menyempatkan diri menghadiri We The Fest di Jakarta International Expo. Kehadirannya tentu bikin terkejut dan terkesima banyak pengunjung. Beliau tampil santai dengan sweatshirt gaul keluaran Monstore dan nonton beberapa pertunjukan dari para penampil seperti Shura. Hits banget deh.

3. Saat mengunjungi Papua bulan Mei lalu, Jokowi tampak gagah dengan Shark Skin Jacket by TAD


Gaya army sepertinya jadi salah satu favorit Papanya Mas Gibran nih. Jaket army dari Triple Aught Design ini gak hanya kokoh tapi juga kece. Wajar kalau habis itu banyak banget yang jadi pengen punya juga.

4. Jokowi kembali membuat heboh dengan sepatu Nike yang dipakai Presiden saat ke Tasikmalaya


"Hey Daniel, back at it again with the Nike!"
Sempat memicu pro dan kontra, tapi kita perlu sepakat kalau sepatu casual-sporty dari Nike ini asik banget dilihat. Cocok dengan gaya Pak Presiden. Harganya juga standar sih untuk sebuah sepatu, bukan yang sampai puluhan juta.

5. Presiden Jokowi sudah terkenal hobi nonton konser. Ini sosoknya yang tampak necis dengan jaket kulit di konser Arkarna


Wih, udah sebelas dua belas lah penampilannya dengan para member band yang lain. Padahal beliau seorang tokoh negara yang biasanya akrab dengan citra kaku dan membosankan.

 

6. Jokowi juga fans Napalm Death dan Metallica. Nih jaket jeans hitam kelam dipadu kaos metal jadinya kece banget yeah?


Kesukaannya terhadap musik tertutama musik cadas gak hanya di bibir saja. Pak Jokowi punya koleksi kaos band yang bisa bikin metalhead lain pada iri. Dipadukan dengan jaket jeans gini gayanya udah oke punya.

7. Seragam tim nasional Indonesia juga dipilih oleh sang bapak negara


Pak Jokowi pernah pamer jersey tim nasional Indonesia saat nonton Piala Presiden di Stadion Gelora Bung Karno. Alih-alih memilih pakaian resmi atau kaku, sang presiden lebih suka tampil santai dan membaur dengan para penonton rupanya.

8. Sporty dengan track jacket merah dan Yeezy abu-abu, Jokowi jalan bareng Duta Toleransi Muda Indonesia

Saat kunjungan ke Sydney, Austalia sempat jalan-jalan sebentar bareng para Duta Toleransi Muda Indonesia yang sedang mengikuti program Outstanding Youth for the World.
Bersanding bareng para generasi muda, Jokowi gak mau kalah dan tampil sporty dengan track jacket merah dan sepasang sepatu Adidas Yeezy yang populer itu.

9. Pasti belum pada lupa sama hebohnya ZARA Bomber Jacket yang bikin Pak Presiden tampak super trendy ini dong!


FREDERIKUS GEBZE : "PRESIDEN JOKOWI DAN PEMIMPIN DUNIA"

  Berbagi Pengalaman dengan Generasi Muda Presiden Joko Widodo berbagi pengalamannya menjadi seorang wirausaha dalam acara ...